Majelis Luhur Tamansiswa Tak Acuh Terhadap Dewantara Kirti Griya

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Bagi suatu instansi pendidikan, perpustakaan adalah sarana yang wajib untuk ada. Perpustakaan membunyai fungsi sebagai penunjang bagi siswa untuk mengembangkan ilmu pengetahuan mereka. Perpustakaan bahkan dianggap sebagai sebuah gudang ilmu bagi setiap orang yang mau berkunjung dan membaca buku-buku koleksi yang ada di dalamnya. Selain itu, perpustakaan dipandang pula sebagai jalan alternatif ketika buku-buku yang kita cari di toko buku misalnya, itu tidak ada, maka perpustakaan adalah tempat yang akan kita tuju selanjutnya.

Seperti halnya dengan Perpustakaan Dewantara Kirti Griya. Perpustakaan ini merupakan milik Tamansiswa, lembaga yang bergerak dalam bidang pendidikan dan kebudayaan. Perpustakaan tersebut menyimpan banyak buku-buku yang mempunyai nilai-nilai ilmu dan cakrawala pengetahuan yang tinggi. Seperti buku-buku sastra Jawa kuno, buku sastra Melayu kuno, buku pendukung momorial Ki Hadjar Dewantara, serta buku-buku lain yang tentunya patut untuk dibaca. Maka tidaklah heran jikalau perpustakaan Dewantara Kirti Griya ini adalah perpustakaan yang menjadi pendukukung keistimewaan Yogyakarta.

Namun, gelar “Pendukung Keistimewaan” tersebut tak latas membuat Majelis Luhur Tamansiswa, Badan yang mengurusi setiap kelembagaan Tamansiswa ini memperhatikan perpustakaan Dewantara Kirti Griya yang notabenya adalah perpustakaan sendiri. Menurut Nyi Sri Muryani, penjaga museum sekaligus Perpustakaan Dewantara Kirti Griya, Majelis Luhur tidak memberikan dana pengadaan buku untuk perpustakaan. ”Kalau untuk pengadaan buku memang tidak ada,” ungkapnya. Selain itu, Nyi Muryani juga menyayangkan sikap Majelis Luhur yang tak acuh akan Perpustakaan Dewantara Kirti Griya.

Untuk pegawai sendiri, museum dan perpustakaan hanya ditangani oleh 2 orang pekerja, yaitu Nyi Muryani dan satu rekannya. Kesulitan yang sangat terasa ketika museum dan perpustakaan hanya ditangani 2 orang adalah ketika banyak rombongan tamu yang datang, baik ke museum ataupun perpustakaan. “Kalau ada tamu sana tamu sini dan hanya dua orang, bayangkan,” keluh Nyi Muryani dengan tangan menunjuk arah museum dan perpustakaan.

Yang lebih memprihatikan lagi, Nyi Muryani dan satu rekannya di perpustakaan tersebut harus iuran untuk menjalankan biaya oprasional di museum dan perpustakaan. “Memang nalang dulu, nanti kalau sudah ada kwitansi kita kasihkan bidang pendidikan di Majelis Luhur,” terangnya. Mengenai fasilitas yang ada di perpustakaan, seperti komputer, almari, rak buku dan yang lain, adalah bantuan yang diberikan dari berbagai instansi pemerintahan kota Yogyakarta. Khususnya dalam bidang pendidikan dan kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. “Iya, jadi kita pinter-pinter aja nyebar proposal,” ungakp Nyi Muryani ketika ditanya bagaimana mendapatkan bantuan tersebut.

Jikalau ditanya mengapa Nyi Marti bisa bertahan hingga sekarang ini di Perpustakaan Dewantara Kirti Griya, perempuan yang bekerja sejak tahun 1988 ini menjawab karena cinta dengan Tamansiswa. “Yang jelas kalau kerja itu harus cinta dan ikhlas,” terangnya sambil tersenyum.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *