Dewantara Kirti Griya, Pendukung Keistimewaan Yogya

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Penyambutan kunjungan Jokowi di Museum Kirti Griya pada hari Sabtu (3/5) | foto : Romdlon/PENDAPA
Penyambutan kunjungan Jokowi di Museum Kirti Griya pada hari Sabtu (3/5/2014) | Foto : Romdlon/PENDAPA

Sekali-kali berkunjunglah ke kompleks Perguruan Tamansiswa yang terletak di Jalan Tamansiswa No. 58 Yogyakarta. Setelah sampai di sana, cobalah masuk ke Perpustakaan Dewantara Kirti Griya dan membaca koleksi buku-buku yang ada di dalamnya. Perpustakaan tersebut memang tidak seluas ilmu yang ada di dalamnya. Bangunan perpustakaan itu hanya berdiri di tanah berukuran kurang lebih 15×6 meter. Dahulu, sebelum bangunan ini menjadi sebuah perpustakaan, Ki Hadjar dan Nyi Hadjar menjadikan bangunan ini sebagai asrama bagi siswinya di Tamansiswa, yang disebut Wisma Rini.

“Wisma Rini itu asrama putri yang di bawah asuhan Ki Hadjar dan Nyi Hadjar” terang Nyi Sri Muryani, penjaga Perpustakaan Dewantara Kriti Griya yang beberapa waktu lalu berhasil diwawancarai oleh penulis di sela-sela istirahatnya.

Perpustakaan yang menjadi bagian dari Museum Dewantara Kirti Griya ini menyimpan koleksi buku-buku langka yang sulit ditemukan di perpustakaan lain. Buku-buku langka tersebut antara lain buku-buku Sastra Jawa dan Sastra Melayu kuno. “Master piece dari perpustakaan ini adalah buku Sastra Jawa dan Sastra Melayu kuno,” ungkap Nyi Mulyani.

Selain itu, sesuai dengan namanya, Dewantara Kirti Griya, perpustakaan ini menyimpan pula buku-buku peninggalan Ki Hadjar Dewantara yang bersifat pendukung memorial. Baik dari pemikirannya tentang Tamansiswa, pendidikan, maupun buku sejarah Tamansiswa dan Ki Hadjar Dewantara. “Jadi koleksi buku-bukunya adalah buku-buku peninggalan Ki Hadjar dan buku-buku ketamansiswaan, yang dimana buku-bukunya adalah buku pendukung memorial dari Ki Hadjar Dewantara,” kata Nyi Mulyani, perempuan yang sejak 16 tahun lalu menjadi penjaga Perpustakaan Museum Dewantara Kirti Griya.

Seiring dengan perkembangan zaman dan perubahan tingkat kebutuhan pembaca, perpustakaan ini pun menambah koleksi buku-bukunya. Penambahan koleksi buku pun bertambah luas, tidak hanya buku ketamansiswaan, pendidikan, dan buku pendukung memorial Ki Hadjar Dewantara, tetapi buku Agama, Ekonomi, Sastra, Budaya, dan buku-buku umum lain ada di dalamnya.

“Sekarang sudah diklasifikasi ada beberapa, tentang ekonomi ada, agama ada sedikit,” terang Nyi Muryani. Muryani juga menjelaskan bahwa koleksi-koleksi buku yang bersifat umum tersebut sumbangan dari para pengunjung dan pecinta Perpustakaan Dewantara Kirti Griya. “Perpustakaan ini semakin berkembang karena banyak dari pengunjung yang mungkin cinta atau pecinta dengan Tamansiswa dan dengan Museum Dewantara Kriti Griya, jadi ada sumbangan-sumbangan dari pecinta itu, dan pun bukunya beragam,” imbuhnya.

Jika dilihat dari jumlah pengunjung, Nyi Muryani mengatakan bahwa perpustakaan ini masih sering didatangi oleh pengunjung yang sengaja datang untuk membaca buku-buku koleksi perpustakaan, mencari referensi tentang Ki Hadjar Dewantara dan Tamansiswa, hingga menjadikan salah satu buku di perpustakaan ini sebagai objek penelitian. “Kalau pengunjung perpustakan, malah luar biasa,” kata Nyi Maryani.

Ketika melihat daftar hadir pengunjung perpustakaan, memang banyak mahasiswa yang berkunjung di perpustakaan ini. Dari Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, bahkan kadang ada universitas yang datang dari luar kota Yogyakarta seperti Universitas Sebelas Maret Surakarta. “Kebanyakan memeng mencari referensi dan menjadikan perpustakaan sebagai objek penelitian,” jelas Muryani.

Satu lagi yang menaik dari Perpustakaan Dewantara Kirti Griya dan belum diketahui masyarakat adalah dinobatkannya perpustakaan ini sebagai pendukung keistimewaan Yogyakarta. Karena, dilihat dari koleksi-koleksi perpustakaan yang langka dan tidak dapat ditemukan di perpustakaan lain. “Perpustakaan Dewantara Kirti Griya ini salah satu perpustakaan pendukung keistimewaan Yogyakarta, karena buku-buku master piecenya,” tegas Nyi Muryani.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *