Obesitas Bukan Penghalang Berprestasi

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Niko Yoga Pradista (kanan) saat diwawancarai Tim PENDAPA, Sabtu (22/11/2014). Foto: Nanda/PENDAPA
Niko Yoga Pradista (kanan) saat diwawancarai Tim PENDAPA, Sabtu (22/11/2014).Foto: Nanda/PENDAPA

Bagi Niko Yoga Pradista mahasiswa semester 1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST), berat badan bukanlah suatu pengahalang seseorang untuk meraih prestasi belajar yang baik. Prestasi belajar didapatkan dari niat dan usaha yang maksimal.

“Kegemukan atau obesitas itu bukanlah penghalang dalam meraih prestasi belajar. Seperti saya ini tante, walaupun kondisi dibilang abnormal, saya tetap bisa melakukan proses belajar dengan baik tanpa bermalas-malasan,” kata Niko saat ditemui Tim PENDAPA di salah satu kelas PGSD, Sabtu (22/11/2014). Dia menuturkan bahwa kebanyakan orang menilai kegemukan adalah faktor penghambat proses belajar dalam meraih prestasi. Kondisi seperti itu mengakibatkan orang akan lebih bermalas-malasan dalam belajar karena ruang untuk beraktivitas untuk dirinya sulit.

Bukti bahwa obesitas tak menghalangi prestasinya dapat dilihat saat ia duduk di bangku Sekolah Menengah kejuruan (SMK). Ketika masih SMK, ia merupakan salah satu dari 5 siswa dengan nilai tertinggi Ujian Praktek di sekolahnya. “Gemuk kurus itu bukan mempengaruhi kepandaian seseorang, namun niat dan usaha yang menjadi faktor keberhasilan kita,” tambah Niko dengan logat Yogyanya.

Obesitas yang dialami tidak pernah digubris olehnya, karena hal ini telah terjadi sejak masa Sekolah Dasar. Hingga saat ini berat badan Nico mencapai 80 kg dengan tinggi badan 160 cm. Kondisi ini melebihi batas normal perhitungan, yaitu kelebihan 30 kg. Niko mencoba untuk berusaha mengurangi berat badannya dengan diet dan olahraga teratur, namun usahanya tidak membuahkan hasil. Walaupun begitu, Niko tidak pernah malu dengan kondisinya saat ini. Dia sangat bersyukur dan bahagia atas pemberian dari Tuhan. “Saya sangat bersyukur atas kondisi kegemukan saat ini,” kata Niko dengan gaya kocaknya.

“Janganlah seperti spion yang menghadap ke belakang, tapi jadilah mata yang selalu tajam melangkah ke depan,” kata Niko menyampaikan prinsipnya. Dia mengartikan, segala sesuatu harus lebih maju dengan kondisi apapun dan jangan seperti spion yang selalu melihat masa lalu yang buruk. Prinsip itu ia tanamkan sejak kecil hingga di bangku kuliah dengan kondisi badan yang abnormal.

Menanggapi hal tersebut Pijar Fajriyanto, mahasiswa semester 1 PGSD UST mengatakan bahwa sebuah prestasi tidaklah bisa dilihat dari kondisi berat badan. “Kondisi badan tidak mempengaruhi psikologi perkembangan belajar seseorang, namun niat, usaha, dan doa yang sangat menentukan keberhasilan,” kata Pijar, salah satu teman Niko yang mempunyai berat badan ideal. [p]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *