Mahasiswa Seni Rupa UST Sulap Perpustakaan Jadi Tempat Pameran

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Pameran Seni Rupa yang diadakan mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Seni Rupa (PSR) Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) di Jalan Imogiri Timur KM 4 pada Sabtu (15/11/2014) hingga Selasa (18/11/2014) cukup menarik perhatian warga setempat maupn masyarakat umum. Bagaimana tidak, lokasi yang dijadikan pameran adalah sebuah perpustakaan warga. Pameran seni biasanya diadakan di tempat-tempat wisata atau di sebuah gedung dengan ukuran besar. Namun mahasiswa Prodi PSR UST ingin mengubah kebiasaan itu dan mencoba melakukan hal yang berbeda.

Perpustakaan yang jarang digunakan warga untuk membaca, menambah ilmu dan wawasan inilah yang melatar belakangi pengambilan lokasi pameran. Maka dari itu mahasiswa Prodi PSR UST ingin mengembalikan citra perpustakaan yang sebelumnya vakum menjadi gudang ilmu kembali. Hanya saja yang membedakan kini warga bisa belajar melalui karya-karya seni yang dipamerkan, bukan hanya membaca seperti yang biasa dilakukan di perpustakaan.

“Tujuannya untuk mengenalkan seni ke masyarakat, membaca tempat yang tidak dipikir orang untuk membuat sebuah galeri,” ujar Azis Muttaqin, panitia pameran bagian publikasi.

Aziz menjelaskan bahwa pameran ini bertemakan “Regenerasi Tanpa Sket”. Maksudnya mewariskan kebiasaan yang sudah turun temurun dan berjalan kepada generasi selanjutnya. Menurut Aziz, arti kebiasaan pada tema ini berupa hubungan sosial, komunikasi, serta tidak membeda-bedakan dari segi apapun untuk bersatu, seperti halnya samudra yang menampung semua sumber air.

Acara pembukaan pada Sabtu malam dengan menampilkan kesenian dari daerah Yogyakarta memberikan hiburan tersendiri bagi para pengunjung, khususnya masyarakat setempat. A, acara pembukaan juga diisi dengan penampilan musik khas Jawa Barat, Karinding.

Awal Putra (17) mahasiswa PSR UST semester satu asal NTB ini mengatakan bahwa pameran pertama yang diikutinya ini sangat berkesan. Ia pun menambahkan bahwa proses untuk mengikuti pameran ini tidaklah mudah, mulai dari pengisian formulir, tahap seleksi, dan membayar biaya pameran sebesar Rp 20.000 per karya.

“Saya suka acara ini, tapi yang membuat saya sulit selain proses mengikuti pameran yaitu deadline-nya yang sebentar, karena saya harus mencari inspirasi untuk bahan pameran ini. Namun semuanya adalah bagian dari proses belajar dalam berkarya,” ucapnya. [P]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *