Ada Ki Seno Nugroho di Halaman Kampus Pusat UST

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Ki Pardimin, rektor UST  sedang menyampaikan harapan tentang UST ke depan, di sela jeda pagelaran wayang. Pada Sabtu malam (15/11), di halaman kampus pusat UST.
Ki Pardimin, rektor UST sedang menyampaikan harapan tentang UST ke depan, di sela jeda pagelaran wayang. Pada Sabtu malam (15/11), di halaman kampus pusat UST.

Sabtu malam (15/11), di halaman kampus pusat Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST), Jl. Kusumanegara No.157, tampak ramai meskipun agak mendung karena hujan baru saja reda. Panggung pagelaran wayang yang khas, dilengkapi dengan seperangkat gamelan sekaligus para penabuhnya yang berbalut pakaian jawa, serta para sinden terlihat duduk berjejer di atas bantal berenda motif keemasan, membuat mata ingin melihat apa yang hendak mereka bawakan. “Ini dalam rangka peringatan Dies Natalies UST ke 59 nduk,”ungkap Ki Aa. Sujadi salah satu pamong, jurusan pendidikan matematika di UST yang juga ikut menyaksikan.

 

Dari beberapa penonton yang hadir, banyak diantaranya anak kecil, dengan khidmat menyaksikan wayang dari balik kelir. Sesekali mereka tertawa ketika Dhalang Ki Seno Nugroho tengah menyuguhkan lakon “ Semar Mbangun Kayangan” dengan dialog yang jenaka. Pagelaran wayang malam itu tidak hanya menampilkan Dhalang Ki Seno, tapi juga ada bintang tamu Mbok Beruk dan Dalijo. Peserta yang hadir beragam, mulai dari keluarga UST juga warga sekitar kampus UST.” Peserta yang hadir itu ada yang peserta undangan dan peserta yang tidak pake undangan,”tutur Ayu, salah satu peserta undangan yang beruntung mendapatkan doorprize berupa lemari es dua pintu. Pejabat rektorat, pejabat dekanat, dosen, karyawan, dan beberapa mahasiswa tampak ikut meramaikan pagelaran. “Kalau peserta undangan yang kalangan mahasiswa, yang diundang itu mahasiswa yang dapet beasiswa mbak,”jelas Ayu, mahasiswa semester lima, jurusan pendidikan matematika, menambahkan.

 

Acara bertambah riuh ketika Ki Pardimin selaku rektor UST ditanggap untuk maju ke atas panggung pagelaran, diawali dengan membawakan lagu Nyidam Sari, duet dengan salah satu sinden. Ketika ditanggap, Ki Pardimin mengungkapkan harapannya kedepan kepada UST. “Semoga UST semakin baik lagi, sekarang akreditasinya sudah B, semoga bisa jadi A,”ungkapnya.

 

“Ceritanya menarik, sangat linear dengan perjuangan Tamansiswa. Dalam lakon tersebut, semar yang merupakan jelmaan dari Dhewa Ismaya, berniat membangun kayangan (Istana). Karena penduduk dan Baladhewa (raja Amarta) sudah sangat semena-mena, lari jauh dari tentramnya hidup dan keindahan hakiki. Tapi niatan tersebut dicemooh, karena Semar dimata penduduk Amarta hanyalah warga biasa, Padahal ketentraman dan keindahan hakiki yang dimaksud Semar, letaknya bukan berdasar emas ataupun gemerlap istana, melainkan letaknya di hati, hati adalah kayangan yang sesungguhnya,”jelas Imam, salah sau mahasiswa UST yang mengaku sangat suka dengan pagelaran wayang. Wuryono (61), Salah seorang penonton yang mengaku tinggal di belakang kampus pusat UST ini menguping apa yang disampaikan Imam sambil mengangguk-angguk, kemudian Wuryono menambahkan,”lakonnya bagus, dhalangnya juga gak bikin ngantuk.”

 

Ketika Tim Pendapa hendak ikut duduk menyaksikan,“Ngerti wayang?”tanya Ki Aa. Sujadi. “Sedikit-sedikit pak,”jawab kami sambil tersenyum. Sekitar pukul 01.00 WIB, penonton justru bertambah ramai dan sesak, sesekali mereka tertawa serempak. Mereka datang dari berbagai kelurahan di DIY, pria-wanita, tua-muda,bahkan anak-anakpun bermunculan ikut meramaikan suasana. Jika melihat langsung pemandangan seperti itu, sepertinya kita tidak perlu takut kehilangan komunitas pecinta budaya negeri, di negeri sendiri.[P]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *