Siapa Pembunuh??

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Tiba- tiba ada cicak yang terjun ke gelas minumku. Membuyarkan pikiran yang sedang sibuk menjadwal rencana hidupku yang semakin berumur semakin jauh dari rencana saja. Aku tiba- tiba ingat saat aku masih sekolah kelas 6 SD. Diriku yang polos, rajin ngaji sama ustad di kampung bersama teman- teman sebayaku. Sejak masih kecil aku sangat memimpikan untuk dapat kuliah di kota Jogja. Ya, tempat yang mengenalkan aku dengan sosok laki- laki bernama Yudit. Laki- lak yang pertama kali mengajariku nikmatnya berpegangan tangan. Aku bermimpi desaku yang miskin lampu, sedikit pelajar, banyak sesajen, dan sepi, dapat aku sulap menjadi desa yang cerah dan ramai orang- orang pintar. Solusi yang terfikir olehku adalah dengan aku melanjutkan pendidikan jurusan Teknik elektro.

Aku gadis pemalu, dari keluarga miskin yang sehari- harinya menghabiskan waktu di pasar untuk menjajakan buah rambutan. Tabungan itu aku kumpulkan hingga aku bisa menyelesaikan Sekolah Menengah Atas (SMA) tanpa sepeserpun aku meminta uang saku dari nenek kakeku. Ya, aku lahir dari ibu, katanya. Tapi sejak kecil belum pernah sekalipun aku menatap wajah ibu, bapakpun juga belum pernah lihat. Mungkin mereka hitam, seperti kulitku yang jarang menyentuh Hand body ini.

Aku ingat bagaimana aku mengumpulkan pundi- pundi uang untuk aku bisa kuliah di Jogja. Selesai SMA aku merantau ke Tangerang, aku nekat berjualan batik puna temanku yang berasal dari pekalongan, aku mengontrak disana. Ya, lumayan nyaman, walaupun sering harus berkejar- kejaran dengan Satpol PP yang siap lalu- lalang untuk menangkap kuman- kuman jalanan seperti aku yang berjualan tanpa ijin. Bukan karena aku tidak ingin taat, tapi mahalnya biaya pangkal untuk menyewa kios. Aku rela sehari- harinya makan cukup nasi tempe. Sebulan sekali aku makan ayam goreng, lauk kesukaan nenekku. Sebulan sekali juga aku beli susu agar tubuhku tidak terlalu kering dan nampak seperti korban busung lapar. Sebenarnya ingin, tidak usah capek- capek bekerja seperti ini. Aku ingin ikut les atau semacam bimbel seperti teman- teman SMA-ku dulu, agar bisa lolos tes kuliah di Universitas Negeri, biar biayanya murah dan keren. Tapi sudah kucoba di beberapa universitas di Jogja, dan aku gagal. Ya, aku memang tidak terlalu pintar.

Setiap kali aku berjualan batik, ngiri rasanya melihat remaja- remaja sebaya denganku jalan- jalan bersama pacar- pacar mereka, teman- teman mereka, sambil pegang Hand Phone keren yang bisa buat foto- foto, sambil pegang Gadget keren yang bisa buat internetan, sambil nampang dengan baju- baju keren mereka, sambil bergaya di atas motor dan mobil mereka. Tapi kembali lagi, aku anak siapa juga aku belum tau. Makan nasi lauk yang asin saja sudah beruntung, gumamku pura- pura menenangkan diri. Sesekali kulihat wajahku yang hitam, rambutku yang selama setahun sudah tidak aku jilbabi lagi. Aku sudah setahun kesal dengan Tuhan, yang katanya maha baik, tapi Dia sering tidak adil terhadapku. Bertahun-tahun aku percaya nasihat ustad kampung untuk mengenakan jilbab yang dia bilang wajib bagi perempuan, kini aku lepas. Aku sekarang lebih merasa nyaman dengan topiku sebagai penutup panas dikala aku berjualan. Aku merasa lebih gaul.

Ah, itu hanya sejarahku dulu, kini aku adalah seorang tahanan atas kasus pembunuhan. Kuliahku yang masih semester 7 jurusan Teknik Elektro di Universitasswasta di Joga, terpaksa terbengkalai. Tetangga dikampungku tidak tahu, kalau gadis idola mereka sekarang adalah seorang pembunuh. Gadis yang biasa mereka elu- elukan atas kegigihannya dalam bercita- cita, kenyataannya harus pasrah di dalam sel. Kembali lagi air mata ini menetes pada sela- sela pipiku yang hitam tanpa jerawat. Kembali lagi, ku ingat pertama kali Yudit menyapaku di kantin, bercanda dengan logat sundanya. Mengajak bepergian bersama, bergandengan tangan dan sesekali membelikan aku buku favoritku. Sebulan kemudian Yudit mengajakku bereksperimen tentang Program elektro magnet tanpa listrik katanya, aku di ajak Yudit ke kosnya. aku hanya berpikir simple, aku jawab iya saja belajar di kosnya. Kutunggu Yudit 15 menit dikamar kosnya, mataku yang gentayangan menghinggapi tiap- tiap dinding, makin lama membuatku takut. Laki- laki yang ku kenal tampak sopan di kampus itu, kutemui di kamar kosnya penuh dengan bermacam foto Saru dan beberapa botol minuman. Lalu tiba- tiba “BET!” lampu kamar Yudit mati, dan pintu tertutup. Ada tangan yang melepaskan topi dari kepalaku, meletakkan tas ransel dari gendonganku. Tiba- tiba mulut Yudit mendekat tepat di telingaku. Ada rasa senang sesaat, tapi aku kemudian teriak. “Yudit, apa- apaan kamu!, buka pintunya, mana kuncinya. Kita mau bereksperimen kan kamu bilang?” tanyaku dengan nada geram dan cemas. Tapi Yudit tidak peduli, dia hanya berbisik “ iya, kita akan bereksperimen sayang, kita sudah semester 7, sebentar lagi kita lulus, aku akan menikahimu, bapakku orang kaya Nani sayang… kita akan tinggal di Bandung”, jawabnya berusaha merayuku dengan tangannya yang mulai membuka Jaketku yang mirip tukang ojek. “kamu itu menarik sekali Nani sayang.., tidak perlu takut kamu aku sia- siakan”, suara Yudit terdengar amat manis, dengan tangannya yang mulai menggerayangi kaki yang mulai menggigil ini.

Aku berteriak sambil menggedor- gedor pintu, tapi sepertinya tidak ada penghuni kos lain yang peduli. Entah apa yang tengah mereka lakukan di sana. Aku ingat wajah mungilku yang polos sedang asik bermain capung di lapangan juragan rambutan di kampungku. Aku ingat pesan nenek yang sangat menghargai martabat seorang perempuan. Tapi kini tubuhku ditikam Yudit, hampir aku tak bisa bergerak. Entah setan apa yang menyambar isi otak Yudit waktu itu. Akutak pikir panjang lagi, pisau buah milik Yudit aku kibas- kibaskan di depan muka Yudit. “ kalau kamu tidak berhenti memperlakukan aku seperti seorang pelacur seperti sekarang ini, maka aku yang mati atau kamu yang mati!”, tanyaku. “Hey… Naniku yang manis, sia- sia aku hidup kalau aku membiarkan kamu pergi, sudahlah, tidak perlu takut, rumah, pekerjaan, semua aku sudah siapkan buat kamu, setengah tahun lagi kita menikah.”, jawab Yudit sambil membuka kancing satu persatu dikemeja rapinya.

Peristiwa setengah tahun lalu itu, kini hanya membuatku pandai menangis. Ingin aku menangis sampai air mata ini terkuras. Ya, Yudit mati di tanganku. Ditangan orang yang dulu sangat mengagumi dirinya. Dia tidak ingin melepasku, juga dia tidak mau aku mati bunuh diri, aku yang menusuk Yudit dengan pisau yang dulu Yudit pakai untuk mengupaskan buah sewaktu aku terbaring di rumah sakit. Aku sangat menghargai kehormatanku, menghargai perjuangan hidupku, menghargai keluarga Yudit. tapi justru aku sendiri yang membunuhnya. Entah siapa yang bodoh.

Aku ingat lampu- lampu minyak yang tergantung di kampungku. Aku ingin segera bebas dari penjara setan ini, dan bergegas memberi cahaya bagi kampung yang di anggap pemerintah sebagi predikat kampung tertinggal. Aku benci dengan pemerintah yang menurutku pembunuh rakyat jelata, rakyat jelata sepertiku, mereka kuras sampai buntu uang negara untuk kepentingan wudel dan nafsu. Mereka yang pembunuh massal, mereka yang penjahat. Bukan aku. Tapi lagi- lagi aku sering diteror perasaan bersalah, berani- beraninya aku menghabisi nyawa orang yang sangat tergila- gila dengan gadis yang berwajah standar sepertiku ini. Ingin aku bebas. “Tapi dengan cara apa aku bisa bebas, wong segalanya sekarang ini harus ada duit pelumas”. [P]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *