Organisasi dan Kuliah Adalah Prioritas

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

“Selain IPK tinggi, kemampuan dan pengalaman berorganisasi itu juga penting dilakukan selama mahasiswa kuliah sebagai bekal tambahan.”

Begitulah ungkapan Anies Baswedan yang disampaikan kepada ribuan mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam acara pembukaan Pelatihan Pembelajar Sukses Mahasiswa Baru (PPSMB) 2014 beberapa waktu lalu (http://news.detik.com). Bagi penulis ada hal yang menarik dari ungkapan Anies Baswedan tersebut. Sudah banyak mahasiswa yang menuntut IPK tinggi sebagai standar kesuksesan dalam kuliah. Namun, inisiator program Indonesia Mengajar ini lebih menitikberatkan kemampuan dan pengalaman berorganisasi sebagai salah satu hal yang harus dilakukan mahasiswa.

Mahasiswa seharusnya penasaran, seberapa kuat pengaruh organisasi dalam diri mahasiswa sehingga Anies Baswedan menuntut demikian. Anies Baswedan pun memaparkan hal tersebut dalam tulisan berjudul “Pesan untuk Mahasiswa Baru”. Video dengan judul yang sama juga telah diunggah di Youtube. Bagi Anies Baswedan, mahasiswa merugi jika hanya belajar di dalam kelas saja. Karena di ujung masa kuliah hanya akan keluar membawa lembaran kertas bertuliskan transkrip nilai dan ijazah. Sementara masa depan tidak bisa dibuat atau dibangun hanya dengan lembaran kertas itu.

Anies menganalogikan hidup pasca kuliah itu seperti berenang di lautan. Mahasiswa punya pilihan untuk belajar berenang saat sudah sampai di laut atau belajar berenang di kolam renang. Apabila di kolam renang, tentu saja kedalamannya sudah terukur, tekanannya pun terukur, begitu juga dengan suhu dan arusnya juga yang terukur. Sehingga belajar berenang di kolam renang lebih terkontrol. Sementara itu, ketika mahasiswa memilih untuk langsung terjun ke laut untuk belajar berenang, resikonya lebih besar karena tidak ada ukuran pasti.

Berenang merupakan analogi untuk kehidupan pasca kuliah. Terdapat banyak tuntutan yang secara tidak langsung dibebankan kepada mahasiswa. Tuntutan skala kecil, mahasiswa harus memenuhi tuntutan pribadinya, yakni bekerja untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Jalan yang ditempuh untuk memenuhi tuntutan itu tidak selamanya mulus. Mahasiswa harus siap bersaing dengan mahasiswa lain yang memiliki misi dan tujuan yang sama. Dalam persaingan yang sangat ketat, hanya mahasiswa yang memiliki kemampuan dan pengalaman yang siap untuk bersaing. Sementara tuntutan dari lingkungan yang lebih besar lagi adalah tuntutan untuk turut berkontribusi dalam masyarakat. Tuntutan untuk menjadi pemimpin yang memberikan pengaruh untuk membangun Indonesia yang lebih bermartabat. Karena itu belajarlah “berenang”, belajar untuk memimpin, belajar menjadi bagian dari masyarakat ketika kuliah.

Lautan yang dimaksud di atas dapat diartikan dunia nyata atau lingkungan yang harus dihadapi mahasiswa. Secara umum, jika dihadapkan pada pilihan antara belajar berenang langsung di laut atau belajar di kolam renang, maka pilihan yang aman adalah belajar di kolam renang terlebih dahulu. Begitu juga dengan kemampuan memimpin dan pengalaman bermasyarakat. Mahasiswa langsung memimpin dan mencari pengalaman di masyarakat atau menempa diri telebih dahulu lewat organisasi kampus selama menjadi mahasiswa. Layaknya belajar berenang di kolam renang, pilihan yang lebih baik adalah berusaha menempa diri terlebih dahulu lewat organisasi kampus.

Organisasi, baik itu organisasi intra kampus seperti Senat Mahasiswa / Badan eksekutif Mahasiswa (BEM), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) maupun berbagai organisasi ekstra kampus, dapat diumpamakan laboratoriumnya lingkungan masyarakat. Dengan mengikuti organisasi saat menjadi mahasiswa, seseorang dapat berlatih bagaimana menguasai diri saat ada di dalam forum, melatih diri untuk mengemukakan pendapat, dan belajar menjadi manajer atau pengarah. Sifat leadership secara otomatis juga terlatih selama mengikuti organisasi kampus.

Tak hanya itu, kepekaan sosial dapat terpupuk lewat organisasi. Dengan berbagai kegiatan yang sering dilakukan oleh sebuah organisasi, mahasiswa menjadi terbiasa untuk menyelenggarakan sebuah kegiatan. Berbagai aktivitas di organisasi memungkinkan mahasiswa mendapatkan banyak relasi yang akan bermanfaat di kemudian hari.

Ikut organisasi dapat mengganggu kuliah? Pikiran tersebut pastinya sempat terbesit dalam pikiran setiap mahasiswa yang ingin turut serta dalam organisasi. Jawaban dari pertanyaan tersebut bisa jadi benar, tapi bisa juga salah. Pernyataan organisasi dapat mengganggu kuliah bisa dibenarkan jika mahasiswa yang mengikuti organisasi tersebut tidak bisa mengatur waktu antara organisasi dan kuliah. Tetapi pandangan tersebut sudah pasti dapat dibantah jika mahasiswa tersebut dapat mengatur waktu dengan baik.

Mahasiswa yang mengikuti organisasi dan tidak ikut organisasi memiliki waktu yang berbeda untuk belajar dan mengerjakan tugas kampus. Namun, kuantitas tugas yang diberikan dosen tidak memiliki perbedaan. Sehingga manajemen waktu mutlak dilakukan. Mungkin pada awalnya mahasiswa akan mengalami kesulitan dalam membagi waktu untuk organisasi, kampus, maupun keperluan pribadi. Tetapi pembiasaan akan mengubah hal tersebut. Jika manajemen waktu tetap dilakukan dan dipertahankan dengan baik, mahasiswa semakin lama akan menjadi terbiasa. Pembiasaan melakukan sesuatu berdasarkan prioritas itu akan terbawa saat mahasiswa sudah berada di masyarakat maupun di lingkungan kerja.

Memperhatikan berbagai pemaparan di atas, layaknya tak ada alasan untuk tidak ikut organisasi. Maka tentukanlah pilihanmu! Tentukanlah apakah ingin ikut UKM, BEM, HMJ atau organisasi ekstra kampus?. Jika sudah memilih, mantapkan pilihanmu dan tekuni pilihan itu. Jangan lupa tanam dan jaga baik-baik hingga sampai pada waktunya: bagiku, organisasi dan kuliah adalah prioritas.[P]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *