Mengejar Ketertinggalan, Biaya kuliah UST Tahun Ini Naik

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Sejatinya pendidikan merupakan sebuah hak setiap warga negara yang tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun. Artinya, pendidikan adalah suatu hak yang melekat dalam diri setiap warga Indonesia. Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) juga sudah mengamanatkan bahwa pembentukan Pemerintah Negara Indonesia antara lain untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Perbaikan kualitas dan pemerataan pendidikan menjadi kewajiban pemerintah sebagai penyelenggara negara. Salah satu bentuk realisasi tujuan tersebut adalah dengan menciptakan sistem pendidikan yang mampu mencangkup dan merangkul seluruh warga negara, siapapun, tanpa pandang bulu. Hal itu pula yang selalu di dengung-dengungkan oleh hampir seluruh lembaga pendidikan, termasuk Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) sebagai salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang dalam pengambilan kebijakannya diselenggarakan oleh yayasan. Namun, berbagai permasalahan tentang pendidikan masih saja menjadi rintangan yang belum menemukan titik terangnya. Sebut saja salah satu masalahanya: biaya pendidikan.

Brosur biaya pendidikan mahasiswa baru UST untuk tahun anggaran 2014 (berlaku Januari s.d Desember 2014) sudah diketahui mahasiswa, baik mahasiswa lama ataupun calon mahasiswa baru. Kenaikan biaya yang tampak signifikan membuat Tim Pendapa ingin menelusuri lebih lanjut sebab dan alasan kenaikan tersebut. Sudah tiga tahun biaya pendidikan di UST tidak mengalami kenaikan, untuk SPP tetap tiap semester Rp. 700.000, sedangkan untuk SPP Variable : teori Rp. 65.000, dan praktik Rp. 75.000, tiap SKS. Tapi tahun ini UST mengumumkan biaya pendidikan mahasiswa baru program sarjana kelas reguler tahun anggaran 2014 berdasarkan surat edaran No: 460/UST/SE/Rek/XII/2013 yang secara kuantitatif mengalami kenaikan dari tiga tahun sebelumnya, untuk SPP tetap tiap semester Rp. 1000.000, s.d Rp. 1.200.000, sedangkan untuk SPP Variabel : teori Rp. 75.000, dan praktik Rp. 85.000, s.d Rp. 95.000, tiap SKS.

Menanggapi hal ini Ki Andri Waskito Aji selaku wakil rektor II menjelaskan, kenaikan biaya pendidikan di UST erat kaitannya dengan kenaikan harga barang-barang diluar termasuk biaya-biaya operasi yang semakin berat, disamping keinginan UST untuk berkembang. Setelah TIM Penyusunan Anggaran melakukan evaluasi antara besaran yang harus ditanggung terhadap jumlah beban yang sudah memasarkan, terciptalah angka-angka biaya tersebut. Dan angka- angka tersebut tidak bisa ditawar lagi karena SK yayasan sudah ditetapkan sejak November tahun lalu. “ Kenaikan seperti ini, sebenarnya sudah menjadi hal yang biasa”, tambahnya.

Keinginan untuk berkembang sebagai salah satu alasan seperti yang disampaikan oleh Ki Andri di atas, mengingatkan kita tentang akreditasi institusi yang hangat dibicarakan beberapa bulan yang lalu. “Dari 171 Perguruan Tinggi di Jogja, baru 11 yang yang sudah terakreditasi institusi, dan UST masuk peringkat 7 besar dengan akreditasi B. Hal tersebut adalah bukti dari komitmen kita yang tinggi dalam meningkatkan kualitas di UST, karena seluruh pelaksanaan kegiatan dan peningkatan kualitas larinya ke dana”, lanjutnya. “ Untuk listrik perbulan saja 87 juta”, terang Ki Andri.

Senada dengan Ki Andri, Oscar Valentino Hugo, Mahasiswa Manajemen semester 7 menuturkan, sah-sah saja jika biaya kuliah di UST naik, asal mahasiswa yang lama tidak ikut naik. Toh itu untuk mengejar peningkatan kualitas. “ Peletakan batu pertama pembangunan gedung fakultas pertanian lantai 3 dengan jumlah dana 4,7 milyar dan rencana pembangunan laboratorium terpadu tahun depan adalah apa yang kami sebut dengan keseriusan terhadap komitmen, komitmen pimpinan universitas, pengurus yayasan, UST harus berkembang mengejar ketertinggalan”, imbuh Ki Andri menjelaskan. “Kita lihat saja banyak infrastruktur di UST yang dibangun”, timpal Oscar mengamini apa yang disampaikan Ki Andri.

Namun, Arif Munandar, Mahasiswa Pendidikan Matematika semester 7 menanggapi kenaikan biaya kuliah yang terjadi di UST dengan cara pandang yang berbeda.” Naiknya rating UST membuat para kaum dalam institusi tidak berfikir lagi tentang kaum kurang mampu untuk ikut menuntut ilmu, mereka hanya ingin institusi semakin besar dan tentunya dengan dana yang besar pula. Padahal amanah menciptakan pendidikan yang dapat merangkul rakyat itu sudah digagaskan oleh Ki Hadjar Dewantara”, terang Arif.

Sambil memperlihatkan data perbandingan biaya kuliah (biaya pendaftaran, biaya Maba, SPP tetap,dan biaya variable tiap SKS) dari beberapa PT di Jogja kepada Tim Pendapa di ruang warek 2, Ki Andri mantap menyatakan biaya kuliah yang naik di UST masih sangat kecil. Mari kita lihat kedepan.. Sayangnya ki Andri tidak mengijinkan Tim pendapa untuk menge-share salinan data tersebut. “ jangan di Share, data ini sifatnya internal, sebagai referensi agar kita melihat keluar”, ungkap Ki Andri. “Yang jelas latar belakang kenaikan biaya itu karena mekanisme atas kesepakatan TIM, Yayasan, serta staf didalamnya, baru kemudian ditelaah terkait biaya operasional, biaya pengembangan, tanpa lupa memperhatikan beban masyarakat”, imbuhnya.

Tim Pendapa juga mewawancarai salah satu orang tua dari calon mahasiswa baru yang sedang mendaftar di halaman rektorat tiga bulan yang lalu. “ Saya mendaftarkan anak saya kuliah di sini karena selain akreditasinya sudah B, biayanya juga saya anggap lebih terjangkau jika dibanding PTS lain yang ada di Jogja. Walaupun selisihnya tidak jauh beda, tapi sumbangan di UST dapat diangsur 4 kali, padahal umumnya diangsurnya 2 kali”, terang Suyatno, yang tengah mendaftarkan puteranya, Patra, jurusan Bahasa Inggris.

Menyoal penghasilan orang tua calon mahasiswa yang tidak sama dan tidak semuanya berpenghasilan lebih dari cukup, Ki Andri mengibaratkan dengan kalimat berikut. “Ibarat orang yang mau beli barang, terus harganya tidak cocok, ya cari saja barang lain dengan harga yang lebih cocok”, ungkapnya.[P]

Tulisan ini dapat dibaca di buletin Pendapa edisi 2

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *