Menyoal UTS yang Tidak Terjadwal

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Judul di atas sudah bukan kalimat yang asing terdengar bagi masyarakat Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST), karena pada kalender akademik terbaru pun sudah terpampang dengan jelas. Tertanggal 27 Oktober-7 November 2014 adalah jadwal pelaksanaan Ujian Tengah Semester (UTS) semester gasal tahun akademik 2014/2015. Keterangan yang tertulis di kalender akademik, yakni pelaksanaan UTS diserahkan oleh pamong pengampu mata kuliah masing-masing membuat pertanyaan baru bagi kalangan mahasiswa umumnya, dan menjadi renungan khusus bagi dosen pengampu mata kuliah.

Terkait dengan kebijakan tersebut, sesuai surat keputusan Rektor nomor: 36/UST/Kep/Rek/VI/2014, UTS yang dilaksanakan tidak terjadwal adalah gaya baru dalam pelaksanaan UTS di UST. Jika kita mau menilik dari berbagai sisi, sisi pertama akan kita lihat keganjilan dan ketidakefektifan fungsi UTS tersebut. Bagaimana tidak? UTS hanya salah satu evaluasi yang dilakukan dari pendidik kepada peserta didik, yang tujuannya ingin melihat sejauh mana keberhasilan peserta didik dalam belajar, sekaligus keberhasilan pendidik dalam mengajar. Pada tingkat perguruan tinggi, peserta didik adalah mahasiswa, dan dosen sebagai pendidik.

Dalam pelaksanaan evaluasi, banyak hal yang harus diperhatikan, mulai dari jarak atau posisi duduk peserta tes, kevalidan soal, pengawasan, hingga fasilitas pendukung kenyamanan peserta tes. Jika benar UTS dilaksanakan secara tidak terjadwal ini akan benar diterapkan, apa iya, pelaksanaan akan dilaksanakan sesuai jadwal dosen mengajar? Bagaimana cara dosen mengatur tempat duduk? Apakah ada jaminan agar soal yang sudah diberikan kepada peserta tes kelas A, tidak akan bocor pada kelas lain? Atau mungkin, jika soal dibuat beda, apakah dosen tidak terlalu berat memikul beban, mengingat untuk menyiapkan soal tes juga harus sudah melalui tahap seleksi yang tidak boleh asal-asalan? Bagaimana cara dosen mengoreksinya, jika dibuat soal yang berbeda tiap kelas, apa dosen tidak kewalahan? Apa pihak kampus mau dan mampu memberi dana lebih kepada dosen pengampu mata kuliah masing-masing tersebut?

Belum lagi menyoal posisi tempat duduk peserta ujian. Posisi tempat duduk dan profesionalitas pengawas juga menjadi faktor penentu kevalidan hasil tes, termasuk hasil UTS. Jangan sampai nilai yang diperoleh mahasiswa hanyalah nilai yang pertanggungjawabannya tidak akurat, hanya nilai yang secara kebetulan tinggi atau kebetulan rendah. Karena hakikatnya, nilai adalah potret diri.

Banyak hal yang perlu dibenahi, dan pengambil kebijakan tertinggi (red: Rektor) sudah semestinya mempertimbangkan kebijakan yang ia ambil. Karena lucu kiranya, jika di kalender tertulis pelaksanaan UTS dilaksanakan oleh pengampu mata kuliah masing-masing (tidak terjadwal), tapi pada praktiknya justru mengalami kemunduran dalam hal kevalidan nilai. Atau bahkan apa yang tertulis di kalender, hanya menjadi tulisan yang tidak dapat diterapkan. Adalah PR kita bersama, dalam menyikapi dan merenungkan setiap kebijakan baru. Karena tidak setiap kebijakan yang sudah ditentukan tidak mengalami cacat, baik cacat ringan atau bahkan cacat berat. Karena sejatinya, pengambil kebijakan juga sama-sama manusia biasa. Termasuk Rektor sekalipun. Meskipun pada saat keputusan tersebut diambil juga pasti sudah melalui perdebatan dan perenungan sekalipun. Namun, alangkah lebih baiknya, sikap cermat dan sikap kritis harus selalu kita pegang sebelum menelan aturan mentah-mentah.

Bagaimana pelaksanaan UTS besok, yang tinggal menghitung hari? Mari kita lihat saja. Semoga tidak ada yang berat sebelah.[p]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *