Produksi Besar, Indonesia Tetap Tak Punya Cadangan Energi

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Mbah Rono saat menjadi narasumber diskusi di PKKH UGM, Sabtu (13/9/2014). Foto: Isnan/PENDAPA
Mbah Rono saat menjadi narasumber diskusi di PKKH UGM, Sabtu (13/9/2014). Foto: Isnan/PENDAPA

Meskipun Indonesia memproduksi energi yang besar, tetap saja Indonesia tidak mempunyai cadangan energi karena kebutuhan nasional yang besar tetapi sebagian besar hasil energi malah diekspor. Hal tersebut terungkap dari Dr. Surono, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, dalam diskusi umum di ruang seminar Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri Universitas Gadjah Mada (PKKH UGM), Sabtu (13/9/2014).

Acara diskusi dengan tema “Penjabaran potensi sumber daya energi dan mineral di Indonesia, menuju Indonesia berkedaulatan energi” tersebut merupakan hasil kerjasama PKKH UGM dan Pusat Studi Energi UGM. Dalam diskusi tersebut, Mbah Rono, panggilan akrab Dr. Surono, berbicara mengenai kedaulatan energi dan upaya Kementerian ESDM untuk mencapai ketahanan energi bagi Indonesia.

“Energi itu adalah bagian dari ketahanan nasional, yang masuk pada ketahanan ekonomi. Sedangkan ketahanan energi itu sendiri adalah suatu kondisi terjaminnya ketersediaan energi, akses masyarakat terhadap energi pada harga yang terjangkau dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan perlindungan terhadap lingkungan hidup,” paparnya. Mbah Rono juga menyebutkan bahwa ketahanan energi Indonesia ini cukup besar dan tersedia, tetapi itu juga tertutup oleh kebutuhan masyarakat Indonesia yang besar pula terhadap ketergantungan energi.

Mbah Rono mengatakan, energi minyaklah yang saat ini sangat besar dibutuhkan bagi Indonesia untuk digunakan dalam negeri dengan mengandalkan energi batu bara, nikel, emas dan lain-lain untuk sektor ekspor. “Energi fosil adalah kebutuhan besar negera ini. Salah satunya minyak,” kata Mbah Rono. Jika dipersentasekan, lanjut Mbak Rono, kebutuhan masyarakat terhadap energi fosil sekitar 33,9 %.

“Kebutuhan energi yang besar itu ada di bidang industri dan transportasi,” ungkapnya. Ia juga menambahakan bahwa tidak adanya kebijakan pembatasan trasportasi malah semakin menambah persentase kenaikan kebutuhan energi dalam bidang trasportasi semakin tinggi.

Selain itu akses suplai energi ke seluruh Indonesia pun juga menjadi penghambat mengapa pemerataan energi untuk rakyat Indonesia kurang merata. “Kita mengalami kesulitan untuk mensuplai energi ke nusantara, karena Indonesia adalah negara kepulauan. Di Prancis, listrik murah karena daratan semua dan akses suplai energi gampang. Itu berbeda dengan di sini. Alhasil, pemerataan kebutuhan energi kurang menyentuh masyarakat pedalaman pada khususnya,” imbuhnya.[p]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *