Samudra UST: Ospek 2014 Berkarakter Tamansiswa

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Orientasi Pengenalan Kampus (Ospek) Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) tahun ini mengangkat Tema “Dengan semangat Tamansiswa, kita bergandeng tangan menyatukan perbedaan”. Tema yang agung dan antik memang, jika kita mencermatinya secara hikmad. Mahasiswa baru (Maba) dengan jumlah 1649 tampak sesak memenuhi gedung Graha Bhaktiyasa, ditimpali hiruk pikuk para panitia yang menjadi punggawa acara sekaligus sesekali ndhagel memecah beku suasana. Ospek hari ini tampak ramai, semarak, bising, dilengkapi dengan beberapa polah Maba yang nyleneh karena tidak taat aturan. Akibatnya hukuman dari panitia menambah keramaian suasana di gedung yang berjejeran dengan gedung Amongrogo itu. Hukuman ringan dari panitia, namun membuat jera, menjadi keunikan tersendiri dari Ospek yang di ketuai oleh Nur fatah, mahasiswa Teknik Industri.

Kostum Maba yang berseragam almamater, berpeci, dan berjilbab bagi yang berkerudung, papan nama lucu menggantung di depan dada, sepatu pantofel, dan logo yang cemantel di peci hitam adalah ciri-ciri yang akan dilihat langsung ketika kita menjumpai para Maba UST tahun ajaran kali ini.

Di bumbui dengan demo dari beberapa UKM se-UST membuat Ospek terasa lebih hidup, Maba bertepuk riang, ada yang tampak kagum, bahagia, penasaran, takut, dan ada yang tampak bosan loyo tak bergairah. Kejadian tersebut bukan hal yang aneh. Semuanya berulang dari tahun ke tahun. Hanya penokohannya saja yang berganti. Wajah-wajahnya yang tak sama.
Dari UKM Musik Dewantara UST, UKM Pendapa Tamansiswa, UKM Boxer, UKM Resimen Mahasiswa, UKM Paduan Suara, UKM Pencak Silat, UKM Pramuka, UKM Mapala, adalah beberapa UKM yang ikut demo di depan Maba pada waktu ospek.

Ritual ini dapat dibilang seperti drama teaterikal, atau layaknya operet. Dimana setiap maba dituntut patuh, nurut, bebas dari hukuman panitia, sedangkan para panitia adalah sutradaranya. Para maba dibina dengan dalih untuk disiapkan menjadi para kader ksatria berjiwa Tamansiswa. Entah jiwa Tamansiswa seperti apa yang hendak ditanamkan pada Maba di Ospek tahun ini. Ataukah dengan dasi berlogo Tamansiswa, atau peci berlogo Ki Hadjar, lantas serta merta membuat para Maba menjadi tiba-tiba jatuh cinta dengan Tamansiswa, jatuh cinta dengan UST?

Tamansiswa mengajarkan kebebasan. Kebebasan berpendapat, kebebasan menuntut ilmu, kebebasan berpikir, semuanya tentang kebebasan. Kebebasan di atas apakah sudah ditanamkan para penyelenggara Ospek kepada para Maba, para calon penerus Ki Hadjar. Idealnya Ospek seperti apa yang benar-benar akan mampu mendidik dan membina para Maba agar memiliki karakter Tamansiswa. Ketika ada panitia yang suka membentak-bentak anak Maba, karena berpendapat tidak sesuai dengan panitia kemudian dihukum. Lantas, sudahkah hal itu sesuai dengan ajaran Tamansiswa? Ospek bukan sekedar hal main-main. Karena sejarahnya Ospek memang difungsikan sebagai sarana penggemblengan, penggemblengan mental dan pikiran. Bukan penggemblengan fisik. Bersyukur, Ospek siang tadi tidak ada adegan hukuman fisik di Ospek Samudera, yang kepanjangannya Satria Muda Dewantara.

Ospek ideal berkarakter Tamansiswa, hanya akan dicapai jika panitianya memiliki konsep yang matang dengan disambut kematangan pula oleh para peserta Ospek. Karena, sematang apapun konsep yang sudah dipegang dan disiapkan oleh panitia, jika para Maba sendiri masih acuh, minder, takut berpendapat dan memilih untuk sekedar ngantuk-ngantukan, lalu buat apa dilakukan Ospek?[P]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *