Membiarkan (atau Melestarikan) Budaya Mencontek

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Ujian Akhir Semester (UAS) tahun ajaran 2014/2015 di UST sudah selesai sejak seminggu yang lalu. Banyak mahasiswa yang sudah mudik ke daerah asal masing-masing untuk menikmati waktu libur kuliahnya. Dengan wajah gembira, mereka tampak ingin segera melepas beban selepas mengikuti ujian. Hal semacam itu adalah pemandangan lumrah yang sering dijumpai pada hari terakhir setelah ujian selesai. Karena pada saat ujian berlangsung, umumnya mahasiswa mengkuotakan waktunya lebih banyak dibanding hari-hari biasanya untuk belajar. Belajar lembur ataupun sekedar diskusi pemahaman dengan teman mereka lakukan demi menyiapkan kematangan saat ujian berlangsung. Namun faktanya, selama UAS berlangsung, banyak dijumpai mahasiswa yang dengan cerdik menjawab lembar ujian dengan trik canggih “mencontek”. Tak peduli semester awal, semester tengah ataupun semester akhir, tak peduli mahasiswa aktivis atau mahasiswa biasa, tak peduli mahasiswi berjilbab ataupun yang tidak berjilbab, rupa-rupanya budaya mencontek ini masih terus lestari. Budaya ini dianggap sebagai cara ampuh ketika mahasiswa ingin sekedar lulus ujian mata kuliah ataupun ingin memperoleh nilai maksimal dari mata kuliah tersebut.

Mahasiswa adalah agent of change = agen perubahan, katanya. Tapi entah apanya yang mau diubah, ketika mahasiswa baik mahasiswa Psikologi, Teknik, Pertanian, Ekonomi, Manajemen, ataupun Keguruan sudah menganggap menyontek saat ujian sebagai hal yang wajar. Lucunya, ketika mahasiswa fakultas keguruan yang lazimnya adalah calon-calon guru sudah membudayakan mencontek, lantas karakter apa yang hendak mereka tanamkan nanti kepada para anak didiknya. Apakah dengan lantang para guru yang sewaktu mahasiswa biasa mencontek saat ujian mampu melarang anak didiknya agar tidak mencontek sewaktu ujian berlangsung?

Namun, menanggapi hal di atas banyak alasan yang sering didengungkan para mahasiswa. Alasan karena kepepet, alasan takut tidak lulus-lulus, alasan ingin menyenangkan orangtua dengan IP tinggi, alasan ingin mempertinggi IP agar lebih gampang diterima kerja, bahkan alasan yang sangat sederhana didengar telinga “ males mikir”. Alasan terakhir inilah yang sebenarnya sangat bahaya. Malas berpikir adalah mindset yang tidak menjunjung tinggi derajat manusia. Karena hal dasar yang membedakan manusia dengan hewan atau dengan tumbuhan adalah kesanggupan manusia untuk berpikir. Terlebih bagi seorang mahasiswa yang sejatinya adalah siswa yang maha.

Memang, banyak juga mahasiswa yang ketika kuliah saat ujiannya biasa mencontek, karirnya sukses dan aksis. Banyak juga sarjana-sarjana yang saat ujian biasa menyontek, mereka tampak lebih aktif dalam mempengaruhi sosialita sekelilingnya. Jika memang budaya mencontek adalah budaya yang wajar-wajar saja dan jika perlu harus dilestarikan, alangkah lebih baik tidak usah saja ada pengawas sewaktu ujian. Atau mungkin jika memang mencontek adalah simbol ketidakrelevanan antara teori di mata kuliah dan praktik setelah mahasiswa sudah lulus, kenapa teori-teori yang sering ditanyakan pada soal ujian masih terus dibiarkan.

Kita sama-sama ingin maju dalam segala hal, terlebih mental dan karakter sebagai penerus bangsa. Lucu kiranya, jika aktivis yang sering sibuk menyuarakan revolusi masih gemar membudayakan mencontek tanpa memiliki alasan yang logis. Akan lebih lucu lagi kiranya, jika kita sudah sama-sama tahu, bahwa mencontek terpelihara karena ketidakyakinan mahasiswa akan manfaat soal-soal di kertas ujian dengan praktik pasca lulus, tapi kenapa kita masih sama-sama memakluminya. [P]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *