Menyemarakan Ulang Tahun dengan Pameran Seni Lukis

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Bebarapa hasil karya seni lukis mahasiswa program studi Pendidikan Seni Rupa terpampang indah di depan ruang dekan FKIP UST pada sore hari, Rabu (4/06). Foto : Peka Tariska /PENDAPA
Bebarapa hasil karya seni lukis mahasiswa program studi Pendidikan Seni Rupa terpampang indah di depan ruang dekan FKIP UST, Rabu (4/06). Foto : Peka Tariska /PENDAPA
Yogya- Semarak perayaan ulang tahun Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) ke-28 tidak hanya berhenti dalam acara seminar yang bertajuk sastra panggung. Pada hari ini Rabu (04/6) panitai penyelenggara juga melaksanakan pameran lukisan di depan kantor dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Pameran ini menampilkan 38 karya seni lukis dari mahasiswa program studi Pendidikan Seni Rupa.[P]
Arman, selaku ketua penyelenggara acara pameran seni lukis mengungkapkan bahwa pihaknya diminta untuk turut meyemarakan acara ulang tahun PBSI. “Sebenarnya kami baru dihubungi untuk kepastian acara ini sekitar 4 hari sebelum diselenggarakannya perayaan ini”, terang Arman.
Namun pria ramah ini, sedikit menyayangkan pameran lukisan yang bersifat outdor. “Seni lukis jika dipamerkan outdor seperti ini akan merusak kualitas dari lukisan, sengatan matahari membuat bintik-bintik putih pada kanvas sehingga lukisan menjadi rusak”, jelas Arman.
Di satu sisi tidak semua mahasiswa dapat menemukan pesan yang tersirat dari setiap lukisan. Arman juga menerangkan perihal pesan yang dapat ditangkap mahasiswa umum dapat dibantu dengan adanya katalog yang berfungsi untuk menjelaskan seluk-beluk pesan dari setiap lukisan. “Akan tetapi untuk membuat katalog diperlukan biaya yang cukup mahal, sehingga kami tidak dapat menyediakannya”, jelas pria berkulit sawo matang ini.
Pria bertubuh sedang ini juga menuturkan ada banyak aliran lukisan yang ditampilkan, di antaranya lukisan beraliran abstrak, naturalis, dll. Sedangkan untuk respon mahasiswa sendiri hanya terhenti pada ajang melihat dan sekadar mengabadikannya dalam bentuk foto. “Pameran ini akan berakhir pada malam hari, takut lukisan akan rusak karena sinar lampu “, tambah Arman.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *