Seminar Nasional Pendidikan Matematika Sebagai Momentum Hari Pendidikan Nasional

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

 

Ki Sri Edi Swasono sedang menerima kenang-kenangan setelah selesai memberikan ceramah. Foto : Paramita K. Dhewi [TIM PENDAPA]
Ki Sri Edi Swasono sedang menerima kenang-kenangan setelah selesai memberikan ceramah.
Foto : Paramita K. Dhewi [TIM PENDAPA]
Minggu (4/5) ruang Ki Sarino kampus pusat Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) tampak ramai dari biasanya. Mahasiswa, dosen, maupun staf karyawan tampak memenuhi ruangan sejuk ber-AC tersebut. Seminar Nasioanal Matematika bertema “Peran Penting Matematika dalam Perkembangan Teknologi Modern dan Daya Pikir Manusia untuk Kemajuan Pendidikan Nasional,” dimulai sejak 08.30 WIB sampai 14.00 WIB secara khidmat. Seminar tersebut terselenggarakan atas ide Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) dengan kerjasama berbagai sponsorship.

Dihadiri oleh 200 peserta baik dari mahasiswa UST, Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas PGRI Yogyakarta (UPY), guru maupun dosen Matematika dari berbagai Universitas. Dengan salam penuh antusias, Nike selaku ketua panitia seminar menyambut kehadiran peserta , tamu undangan, dan pemateri dengan disusul sambutan kedua oleh Arif Budiman (Ketua HMJ MIPA). Mewakili Nyi Istiqomah sebagai Kepala Program Studi Pendidikan Matematika, Nyi Tri Astuti memberi sambutan dengan menyantumkan kalimat catatannya “ perkembangan teknologi dan komunikasi dilandasi oleh perkembgn matematika, baik teori bilangan, aljabar, peluang, dan matematika diskrit. Untuk menguasai teknologi masa depan, diperlukan anak didik yang kritis, logis, analitis, dan kreatif. Atas dasar itulah matematika memiliki peran penting.”

Ki Pardimin juga membuka acara seminar dengan nadanya yang gokil sambil mengherankan kondisi kaum intelektual saat ini. “Orang pinter di Indonesia sekarang ini sudah banyak yang pinter, tapi sayang karakternya kurang terasah,” ungkap Ki Pardimin.

Seminar di lanjutkan dengan Ki Ageng Sri Edi Swasono sebagai Key Note Speaker. Dengan gayanya yang nyentrik dan energik, pesonanya sudah mulai disambut oleh peserta sejak awal masuk pintu ruangan. “ingat, jangan nganggur, dan sms-sms ndak penting. Karena kita saat ini sedang di cap sebagai bangsa lembek oleh bangsa lain,” ungkapnya membuka ceramah dengan tema “Kebangsaan, kerakyatan, dan Kebudayaan”. Ki Ageng Sri Edi Swasono begitu tampak antusias sampai pada sesi bertanya ditutup. Bahkan saat Ki Ageng Sri Edi Swasono bergegas keluar ruangan seminar, peserta secara spontan berebut cium tangan kepada beliau.

Dilanjutkan dengan Materi inti yang diisi oleh Bambang Driyo Darminto (Dosen Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Purworejo) dan Imam Sujadi (Dosen Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Sebelas Maret) yang dimoderatori oleh Ki Sri Adi widodo.

Acara diakhiri dengansesi bertanya dan pembagian kenang-kenangan. Baik kenang-kenangan kepada pemateri seminar maupun kenang-kenangan kepadanya tiga penanya terbaik.[p]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *