Taman Sari, Tempat Wisata Kaya Sejarah

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

DSCF2053

Taman Sari hanya salah satu dari berbagai tempat wisata di Yogyakarta. Sejarahnya, bangunan yang dulu dikenal sebagai “Istana Air” ini dibangun atas ide Sri Sultan Hamengku Buwono ke 1(Sri Sultan HB 1) dengan di bantu salah seorang warga Portugis yang terdampar di Pantai Baron sebagai mandor, dan para abdi dalem sebagai pelaksana. Pada awalnya, Taman Sari didirikan sebagai benteng untuk mengetahui orang yang akan masuk. Karena pada waktu itu orang-orang Belanda (VOC) selalu punya siasat agar dapat masuk ke keraton untuk memecah pemikiran dalam mengelabuhi perang.

Kekecewaan terhadap Sunan Solo atas pemberian izin kepada VOC yang menyewa daerah pesisir pantai utara Jawa itulah yang melatar belakangi konflik keluarga, sehingga diadakanlah Perundingan Giyanti. Kekecewaan tersebut beralasan, karena Sri Sultan sudah mengetahui taktik keji Belanda yang akan menjajah Indonesia. Sri Sultan HB 1 sendiri memiliki nama asli Pangeran Mangkubumi, Putera Pangeran Amengkurat III yang berasal dari Surakarta. Sri Sultan yang juga merupakan adik dari Sunan Solo, datang ke Yogyakarta atas hasil perundingan Giyanti. Atas Perjanjian Giyanti tersebut, Pangeran Mangkubumi mendapatkan separuh dari kasunanan dan separuh prajurit sekaligus separuh senjata kerajaan.. Untuk itulah, Taman Sari dibangun sebagai benteng untuk mengetahui musuh (VOC) dengan corak seni tinggi yang dikelilingi air, sehingga juga berfungsi untuk menenangkan pikiran.

Jika kita berkunjung langsung ke Taman Sari, maka kita pasti akan menjumpai masjid bawah tanah, kolam pemandian yang sejarahnya di gunakan para puteri keraton untuk mandi, dan beberapa bangunan unik yang hanya dapat di jumpai di kawasan wisata ini. Taman Sari sendiri mulai dikelola oleh Cagar Budaya atas izin Sri Sultan HB ke X, dibarengi dengan beberapa kawasan keraton lain yang juga mulai dibuka untuk umum.

Kawasan wisata yang juga lengkap dengan beberapa penjual aksesoris khas Yogyakarta ini selalu tampak ramai wisatawan, baik wisatawan asli Jogja, luar daerah, bahkan Mancanegara. Akan terasa lebih ramai lagi pada saat liburan nasional tiba.

[Tulisan ini diperoleh dari hasil wawancara dengan Bpk. Sigit Waluyo (1/5/14), salah satu penjual makanan di kawasan Taman Sari yang juga merupakan anak dari salah satu Abdi dalem tahun 1950)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *