Bercermin Menjelang Hari Pendidikan Nasional

Selalu dapat dijumpai di pelosok manapun, di kota maupun di desa, daerah sekitar pantai maupun daerah pegunungan, pasti ada saja pelajar. Pelajar tingkat SD sederajat, SMP, maupun SMA selalu ikut serta mewarnai hiruk pikuk kesibukan di luar kesibukan para aktivis pencari harta. Di saat kuli sedang berpanas-panas mengabdikan tenaganya untuk uang, dokter sedang sabar mengabdikan ilmunya demi kesembuhan pasien, tokoh-tokoh agama tengah asyik menyuarakan suara Tuhan, pelajar selalu rela menghabiskan sebagian waktunya demi memperoleh ilmu.

Idealnya, pelajar di tanah air datang dan aktif sekolah adalah untuk menuntut ilmu. Meskipun faktanya, tak jarang masih saja terjadi tawuran antar pelajar di tanah air. Harapannya, pelajar yang saat ini sedang menyiapkan dirinya dengan berbagai bekal ilmu dapat menjadi cikal penerus dan pejuang kemerdekaan. Merdeka tanpa kerakusan wakil rakyat, merdeka dari masyarakat yang buta huruf, merdeka dari penderitaan rakyat-rakyat kelaparan, dan merdeka dari harga diri bangsa yang murahan.

“Ikut mencerdaskan kehidupan bangsa” adalah jargon yang nyaring di lantunkan para tokoh pendidikan. Cita-cita tersebut tertera jelas dalam pembukaan UUD 1945. Berbagai upaya demi melaksanakan cita-cita agung itulah, yang telah mengantarkan Ki Hadjar Dewantara dengan mental yang tidak tanggung untuk berani mendirikan sekolah. Sekolah yang dalam tujuannya bukan untuk melahirkan budak-budak yang patuh, tapi sekolah yang mampu melahirkan para jenius yang hatinya tidak khianat terhadap bangsa sendiri. “Tamansiswa” adalah sekolah pertama yang didirikan oleh Ki Hadjar tepat 3 Juli 1922 sebagai wujud pemberontakan atas kebiadaban penjajah Belanda waktu itu. Beliau tidak sendiri kala itu. Ki Sutatmo Suryokusumo, Ki Suryo Putro, Ki Pronowidigdo, Ki Cokrodirdjo, Nyi Sutartinah Suwardi, Ki Sutopo Wonoboyo dan Ki Subono adalah rekan Ki Hadjar yang ikut aktif mendirikan Tamansiswa.

Sesungguhnya, melalui Tamansiswa Ki Hadjar telah mengajarkan kita bagaimana cara hidup sebagai manusia Indonesia yang berjiwa merdeka dan menentang segala bentuk penjajahan. Sebagai gerakan kultural sekaligus gerakan moral, Tamansiswa mengajarkan kritis-kritis yang tajam menunjukkan dirinya sebagai pejuang. Pejuang untuk masyarakat secara adil, tanpa diskriminasi atas ras, agama, kelas sosial, maupun atas material yang dimiliki.

Masyarakat luas sekarang ini memang sudah lebih banyak yang sadar akan pentingnya pendidikan bagi masa depan putra-putrinya dibandingkan dengan era sebelumnya. Para guru sekarang ini jumlahnya juga lebih banyak jika di bandingkan dengan era sebelumnya. Para pengambil kebijakan sekarang ini, mereka juga tak kalah giatnya melahirkan kurikulum-kurikulum baru dibandingkan era sebelumnya. Jumlah sekolah yang semakin meningkat, disusul meningkatnya jumlah buku-buku sekolah yang dapat di jumpai di perpustakan-perpustakan, anggaran dari pemerintah yang meningkat dalam pengucuran dana pendidikan. Apakah kesemuanya itu benar-benar dalam rangka pencapaian pendidikan yang semakin berkualitas? Apakah betul, bahwa pendidikan di Indonesia secara kualitas setiap tahunnya mengalami peningkatan? apa kabar “Pendidikan Indonesia” pada hari-hari menjelang peringatan tanggal 2 Mei 2014 mendatang ini? Lalu apa kabar perjuangan Tamansiswa menjelang “Hari Pendidikan Nasional” besok?
Selamat berjuang!