Pura-Pura

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Aku tidak suka segala sesuatu yang hanya berpura-pura. Berpura-pura jujur, berpura-pura peduli, berpura-pura bersih, berpura-pura tahu, berpura-pura punya malu, berpura-pura sayang kepada anaknya, berpura-pura memiliki sifat keibuan, berpura-pura menganggap aku sebagai anakmu. “Sudahlah, semua kepura-puraanmu hanya semakin meninggikan rasa jijikku terhadapmu,” ungkapku di depan foto Ratri. Jika pada film-film ibu tiri digambarkan jahat, kejam dan penjilat, maka pada skenario hidupku ibu tiri adalah wanita bodoh yang mau-maunya menikah dengan ayahku.

Ibu kandungku meninggal karena menderita penyakit kotor. Aku yakin, itu semua karena kebiasaan biadab ayah. Ayahku tak ada malunya setiap pulang menggendong wanita berparas menor dan seksi ke rumah. Padahal dia pengangguran sejak terkena PHK dari salah satu pabrik tekstil di Pekalongan. Sedangkan ibu, ibu adalah wanita tangguh yang tiada gemar mengeluh memiliki suami pemalas seperti ayah. Memang, ibu selalu pulang larut malam sejak ayah tidak bekerja. Tapi kepergian ibu yang pulang larut malam selalu lebih terhormat daripada kepergian ayah yang juga pulang larut malam. Setiap jam 6 pagi, ibu sudah gesit menyiapkan sarapan sebelum berangkat kerja sebagai koki di salah satu hotel ternama di Semarang. Ibu juga rutin merapikan rumah, membersihkan lantai yang setiap malam tak pernah bersih dari lipstik, yang jelas lipstik itu bukan milik ibu.

Entah setan apa yang menghinggapi isi otak ayahku, sehingga akalnya tak mampu berfikir, tindakan apa yang semestinya Ia lakukan sebagai seorang ayah. Hatinya juga mungkin sudah error, tak mampu mensyukuri betapa beruntungnya Ia memiliki istri secantik dan sesempurna ibu. Ya, di mataku ibu sangat sempurna. Ia mulai menjadi tak sempurna, sejak dokter menyatakan ibu terkena kanker serviks. Menurutku, tidak pantas sosok wanita semulia ibuku mengidap penyakit seperti itu. Aku yakin, penyakit itu pasti datangnya dari ayah yang doyan main perempuan. Sejak fonis itulah, dokter melarang keras ibu untuk tidak melayani kebutuhan biologis suami dari seorang istri.

Namaku Bagus Sadhewo. Aku benci dengan namaku, karena memiliki nama belakang kepunyaan ayah. Saat ini usiaku sudah pantas untuk menikah, 25 tahun. Kebencian yang berlarut-larut terhadap takdir, membuatku mengidap sikap pendendam. Aku dendam kepada malaikat, karena telah memanggil nyawa ibu disaat aku masih kelas 5 SD. Aku sering berprotes diri kepada penguasa langit, kenapa tidak ayah saja yang dipanggil?

Aku sering heran, bagaimana mungkin sosok laki-laki seperti ayah bisa beruntung sempat memiliki istri seperti ibu, dan kini memiliki istri secantik Ratri. Secara fisik, Ratri memang jauh lebih cantik dari ibuku, dan jauh lebih muda 4 tahun dari usiaku. Keheranan-keheranan sering bermunculan di pikiranku, apa Ratri tidak sadar kalau ayah sekarang sudah bau tanah?, selain bau tanah, dia juga bau kehormatannya.

Apa yang dapat dibanggakan dari seorang ayah seperti ayaku? Pekerjaan dia tidak punya, mau ngerokok saja aku yang ngasih duit. Aku sering iri kepada ayah. Aku dengan usia yang sudah sangat ingin menikah, dengan basic pendidikan tinggi ternama di Jakarta, dengan karir mentereng di bisnis advertising yang kurintis sendiri. Tapi kenapa begitu sulit bagiku, memikat wanita agar ia percaya bahwa hidupnya akan nyaman dan terjamin jika mau bersanding denganku?

Sikap pendendam yang kutanam sejak kecil kepada ayah telah membuatku buta dengan segala kebaikan apapun yang dilakukan Ratri terhadapku. Sejak dia menikah dengan ayah, 6 bulan yang lalu, senyumnya tak pernah ketinggalan dalam gerak-geriknya melayaniku sebagai seorang anak. Menyediakan sarapan pagi, persis seperti yang ibu lakukan, merapikan rumah, dan memastikan kesehatanku setiap aku sudah tertidur pulas, semuanya amat mirip dengan ibu kandungku. Sayang, segala kebaikan apapun yang Ratri lakukan, aku selalu menganggapnya hanya sebagai kepura-puraan.

Perlu diakui memang, sejak pernikahan ayah dengan ibu tiriku, sikap genit ayah semakin berkurang. Tapi aku selalu berpikir, perubahan sikap ayah bukan karena dia sudah taubat, tapi karena fisiknya sudah tidak laku di pasaran. Entahlah, yang jelas rumah ini sudah tidak gaduh dengan suara ketawa genit tante-tante yang dulu sering ayah bawa pulang ke rumah. Kini, Rumah sudah hening. Kini, tanpa sengaja aku sering mendengar suara ayah sedang merintih sambil terisak-isak tengah malam saat aku sedang mengigau. Otakku sering semrawut jika melihat polah ayah, ayah yang dulu maupun yang sekarang. Aku tidak mau tertipu kebaikan sesaat ayahku. “Dia pasti cuma pura-pura,” batinku.

Adegan aneh juga mulai terjadi sejak Ratri tinggal di rumah. Setiap ayah mau pergi, Ayah selalu izin denganku. Lebih aneh lagi, adegan cium tangan dari Ratri kepada ayah sebelum Ia pergi jualan batik di Pasar Kota, adegan yang belum pernah aku lihat waktu ibu masih hidup, dulu. Tapi, apapun yang aku lihat, aku selalu menganggap semua itu adalah kepura-puraan semata.

“ Nanti kalau Ratri sudah jenuh punya suami seperti ayahku yang pengangguran dan kerjaanya hanya bersih-bersih kebun, pasti juga bakalan minta cerai,” ujarku mengejek.

Sekilas, Ratri memang sangat keibuan jika dibandingkan dengan usianya yang masih sangat belia. Tutur katanya sangat mencerminkan sikap peduli orang tua kepada anaknya, jauh lebih peduli dibanding ayahku sendiri. Sampai suatu ketika, aku tak sengaja membongkar-bongkar tumpukkan baju almarhum ibu di lemari ayah. Niat awalnya, aku hendak mengecek apakah baju-baju ibu ada yang diambil atau dirusak oleh Ratri yang selalu sok baik di depanku.

“Brukkk!”. Ada buku tebal yang terjatuh, di depan sampulnya ada foto ibu tersenyum. Karena penasaran, kubuka lembaran-lembarannya, “Maafkan aku Dhewo, karena kesalahan temanmu, akhirnya kamu yang terpaksa harus menikahiku. Tak akan aku minta banyak padamu, tetaplah jadi suamiku sampai putraku lahir dan tumbuh besar, meskipan dia bukan dari darah dagingmu. Maafkan temanmu, karena dia hanya khilaf. Dia begitu menginginkanku, dan aku begitu menginginkanmu. (Ajeng sayang Dhewo).”

Aku hampir pingsan membaca tulisan-tulisan tangan ibu, aku tak menyangka. Ayah yang selama ini sangat aku benci, setidaknya ada kerelaan darinya untuk menemani ibu menjalani hidup di jalan yang bukan keinginannya. Sedangkan Ratri, bagaimana bisa aku membenci manusia setengah malaikat sepertinya, yang memarahiku sekali saja, dia belum pernah. Sedangkan aku, apa kebaikan yang pernah ku lakukan? Aku hanya sibuk mengoreksi dan mencari-cari kesalahan orang lain.[p]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *