Menyoal On Street Parking Jalan Malioboro

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Seorang Tukang Parkir sedang berjalan di antara kendaraan yang dikelolanya di kawasan parkir Jalan Malioboro. Foto: Isnan/PENDAPA
Seorang tukang parkir sedang berjalan di antara kendaraan yang dikelolanya di kawasan parkir Jalan Malioboro. Foto: Isnan/PENDAPA

Dimanakah trotoar berakhir? Jika pertanyaan itu dilayangkan kepada warga Paris, maka akan sulit untuk menjawabnya. Karena di sana trotor hampir tidak berujung dan ada di sepanjang jalan. Di Yogyakarta, keberadaan trotoar sepotong-potong, bahkan ada jalan yang tidak mempunyai trotoar. Trotoar di kota yang terkenal dengan Gudeg sebagai makanan khasnya ini kadang juga beralih fungsi. Trotoar yang dikhususkan untuk memanjakan pejalan kaki ini di beberapa tempat dialihfungsikan sebagai lahan mencari keuntungan.

Tengok saja keadaan trotoar di sepanjang Jalan Malioboro, salah satu tempat yang mempunyai daya tarik terhadap wisatawan sekaligus salah satu tempat keramaian di kota Yogyakarta. Jika kembali mengingat fungsi trotoar sebagai fasilitas publik yang dikhususkan untuk para pejalan kaki, maka hal tersebut tidak ditemui di Jalan Malioboro. Di Jalan Malioboro trotoar ternyata sebagian besar milik para pengelola on street parking dan para pedagang kaki lima. On street parking atau parkir on street adalah keadaan berhenti kendaraan atau tidak bergerak di ruang milik jalan untuk beberapa saat dan ditinggal oleh pengemudinya. Jelas pada pengertian tersebut on street parking adalah parkir yang berada di jalan milik publik.

On street parking memang boleh dilakukan di jalan-jalan yang mempunyai tingkat penggunaan atau volume yang rendah. Pada UU No.22 tahun 2009 tentang lalu lintas dalam angkutan jalan, dalam pasal 43 ayat 3 menyebutkan bahwa fasilitas parkir di dalam ruang milik jalan hanya dapat diselenggarakan di tempat tertentu pada jalan kabupaten, jalan desa, atau jalan kota yang dinyatakan dengan rambu lalu lintas. Di Jalan Malioboro, parkir on street memang resmi dan dibawah pengawasan Dinas Perhubungan Daerah Istimewa Yogyakarta (Dishub DIY). Pemerintah kota lewat Dishub menerapkan sistem parkir on street karena memang Jalan Malioboro merupakan kawasan yang ramai oleh wisatawan sekaligus kawasan yang tidak mempunyai cukup lahan parkir off street.

Pusat Perbelanjaan Penyumbang Terbesar

Benny Susanto, pengamat transportasi sekaligus dosen Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta menyebutkan salah satu sebab parkir on street diterapkan di Jalan Malioboro. Pemberlakuan parkir on street dikarenakan terbatasnya lahan parkir off street. “Sebenarnya masalah on street parking atau parkir yang memakan bahu jalan yang kalau di Jalan Malioboro itu adalah trotoar, diakibatkan karena kurangnya lahan parkir off street yang dimiliki oleh pusat-pusat atau bangunan-bangunan yang ada di sepanjang jalan tersebut,” ungkapnya. Tidak memadainya area parkir off street yang dimiliki oleh bangunan-bangunan yang berada dikawasan utama Jalan Malioboro adalah penyebab utamanya. Selain itu memang semakin banyak wisatawan yang membawa kendaraan pribadi mereka.

Pusat-pusat keramaian di Jalan Malioboro khususnya pusat-pusat perbelanjaan yang ada di sana merupakan sumbangsih terbanyak para pengunjung yang menggunakan parkir on street. Jika dilihat dari jumlah kendaraan yang berjajar rapi di depan bangunan pusat perbelanjaan tersebut, Malioboro Mall, Ramayana Mall, Matahari Departement Store, dan Ramai Mall memperlihatkan jumah kepadatan yang tinggi dibandingkan dengan beberapa titik lainnya. Lahan parkir off street yang dimiliki oleh beberapa pusat perbelanjaan itu, dinilai sangat kurang hingga pengunjung memarkirkan kendaraannya dengan parkir on street. “Kalau saya lihat dengan kaca mata saya, penyumbang terbesar konsumen parkir on street adalah pusat-pusat perbelanjaan yang ada di Jalan Malioboro. Sayangnya penggelola bangunan tersebut tidak mempunyai lahan parkir off street-nya sendiri untuk pengunjung. Yang terjadi apa? parkir on street membeludak,” tegas Benny.

Permasalahan parkir on street dan kurangnya lahan parkir off street berdampak pula pada kenyamanan para wisatawan atau pengunjung di Jalan Malioboro. “Ya sedikit menganggu, apalagi ini kan trotoar buat orang jalan. Kadang ada juga petugas parkir yang sembarangan menata kendaraan,” kata Taufik salah satu wisatawan yang memilih jalan kaki untuk menikmati suasana Malioboro. Taufik juga mengungkapkan bahwa parkir semrawut di bahu trotor terkesan tidak enak di pandang mata dan mengurangi keindahan Jalan Malioboro.

Selain masalah parkir on street dan tata kelola parkir yang semrawut, sisi yang lain lagi adalah bagaimana seharusnya peran pengelola parkir atau Pemerintah Kota (Pemkot) lewat Dishub menanggapi parkir on street yang semakin hari semakin membuat bahu jalan maupun trotoar diinjak oleh roda kendaraan, bukan para pejalan kaki.

Sartijo yang sudah lebih dari 20 tahun bergelut dengan pekerjaannya sebagai juru pakir ini menolak jika dikatakan tata parkirnya mengganggu jalan para pejalan kaki. “Ini saya masih memberi ruang untuk para pejalan kaki, masak dibilang menggangu,” ungkapnya. Pria bertubuh tinggi besar, dengan peluit mengalung di lehernya ini adalah juru parkir tepat di depan Ramayana Mall. Ia menyebutkan bahwa dalam waktu satu shift antara jam 6 sore hingga 11 malam, dapat mendapatkan uang sekitar Rp.80.000,. Uang ini masih dibagi dengan tangan pertama atau si pengelola 50%. “Satu kali shift biasanya saya mendapatkan Rp.80.000 dan itu dibagi dengan pengelola tempat ini 50%,” ungkapnya kembali. Saat ditanya bagaimana peran pengelola dengan pihak Pemkot dalam mengurus distribusi dana dan kebijakan-kebijakan parkir on street, Sartijo tidak tahu sama sekali.

“Saya kan hanya pekerja mas, masalah urusan distribusi dana parkir dan kebijakan-kebijakan masalah di dalamnya itu urusan pihak pertama dan orang Pemkot. Saya hanya tahu kerja dan setor,” pungkasnya.

Pemkot Yogyakarta lewat Dishub sebenarnya telah mengatur kebijakan parkir on street di Jalan Malioboro khususnya. Benny pun berpendapat, semerawutnya parkir on street bukan semata-mata kesalahan Pemkot. “Pemerintah yang mengatur kebijakan on street memang tidak sepenuhnya disalahkan. Coba kalau bangunan-bangunan di kawasan Malioboro itu mempunyai area parkir off street sebanyak 20% dari total bangunan, paling tidak parkir tak akan separah ini,” terang Benny Susanto.

Solusi meminimalisasi on street parking

Parkir on street memang telah menjadi dilema baik pada pemerintah maupun masyarakat. namun seperti apapun delima itu, diwajibkan untuk mencari solusi yang terbaik. Bagaimanapun parkir on street mengganggu bergulirnya kehidupan pubik, khususnya para pejalan kaki. Setiap masalah yang menimbulkan dilema pasti ada solusi, dan peran semua pihak yang bertanggungjawab dituntut di sini.

Menurut Benny Susanto, ada beberapa cara atau trobosan untuk meminimalisasi volume parkir on street. Pertama yaitu dengan memberlakukan ketentuan bangunan-bangunan sepanjang Jalan Malioboro wajib memiliki lahan parkir off street sebesar 20% dari luas bangunan. Kedua, dengan pemodelan lahan parkir, yaitu pembangunan lahan parkir off street yang modern. “Kalau kedua cara itu dianggap kurang efisien, maka terakhir dengan dibukanya lahan parkir khusus. Seperti parkir khusus Alun-Alun Utara Kauman. Memang tidak bisa instan, dan semua itu menuntut peran yang ekstra baik pemerintah ataupun lain pihak yang ikut bertanggungjawab,” jelasnya.[p]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *