Kericuhan Warnai Pemilwa Pertama Fakultas Pertanian

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Pemilu Mahasiswa (Pemilwa) sebagai ajang pemilihan pemimpin organisasi telah membudaya di kalangan mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST). Hal ini dibuktikan dengan terselenggaranya pemilu pertama di Fakultas Pertanian UST, Senin (30/12) lalu untuk menentukan ketua Majelis Mahasiswa Fakultas Pertanian (MMF P). Sebelumnya, dalam memilih Ketua MMFP, belum pernah menggunakan sisten Pemilu Mahasiswa secara langsung.

Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) yang ada di Fakultas Pertanian hanya ada kandidat tunggal, sehingga saat verifikasi langsung ditetapkan Rahmad Afandi sebagai Ketua HMJ Agribisnis dan Agusti Pratama sebagai ketua HMJ Agroteknologi. Sedangkan untuk MMF ada dua kandidat, Komarudin dan Oktavianus, sehingga dilaksanakan Pemilu Mahasiswa oleh Komisi Pemilihan Umum MahasiswanFakultas Pertanian (KPUM FP).

Selain syarat yang ditetapkan oleh Majelis Mahasiswa Universitas (MMU), KPU FP  menetapkan persyaratan IPK minimal 3,00 dengan nilai mata kuliah Ketamansiswaan dan Pancasila minimal B. “Hal ini sesuai dengan himbauan Wakil Rektor (Warek) III untuk menyertakan nilai akademis. Pengambilan ketentuan juga telah melalui diskusi dengan Dekan dan pihak-pihak lain,” ujar Ketua KPUM FP, Devriany Ananja Putri.

Devri, panggilan akrab ketua KPU FP, mengatakan dari sekitar 100 mahasiswa FP, hanya 78 mahasiswa yang menggunakan hak pilihnya. Hal ini berdasarkan absen pemilih yang dimiliki KPUM FP. Sempat terjadi kerancuan dan kericuhan perhitungan suara. Komarudin mendapat 36 suara dan Oktavianus 35 suara, sedangkansurat suara yang gugur ada 8.Tetapi dari 80 surat suara yang disediakan masih ada 3 surat suara yang tersisa. Kerancuan tersebut akhirnya diselesaikan oleh panwaslu dari MMU dengan mengambil jalan musyawarah. Musyawarah dilaksanakan dengan kedua belah kandidat beserta KPUM FP dan menghasilkan keputusan Komarudin ditetapkan sebagai ketua MMF P.

Devri mengakui masih banyak kekurangan dari pemilu di FP, seperti dari jumlah pemilih dan sosialisasi yang belum maksimal. Selain waktu yang terlalu mepet, Pemilu Mahasiswa yang dilaksanakan bertepatan dengan Ujian Akhir Semester (UAS) dimungkinkan menjadi penyebabnya. “Selain itu, teman-teman KPU FP juga masih harus menanggung biaya penyelenggaraan Pemilu Mahasiswa karena dana untuk kegiatan kemahasiswaan belum cair,” terang Devri. Meski begitu, mahasiswi semester V ini tetap merasa lega, pemilu pertama di Fakultas Pertanian tetap bisa terlaksana.[p]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *