Mahasiswa PBSI Akhiri Kuliah dengan Pementasan Drama

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Sabtu malam (29/12), mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) menyelenggarakan pementasan drama berjudul Sinden karya Heru Kesawa Murti. Acara pementasan drama mahasiswa semester 7 tersebut dilaksanakan di lobi PBSI, kampus FKIP UST. Drama Sinden ini merupakan satu dari tiga judul drama yang menjadi tugas akhir mata kuliah Pementasan Drama dan Perencanaan Teater. Dua judul drama telah dipentaskan pada Jumat malam (27/12), yakni Los Bagados Ganks karya Puntung CM Pudjadi dan Pada Suatu Hari karya seniman kenamaan Arifin C. Noer.

Ratna Khoirun Nisa, sutradara pemantasan drama Sinden, mengungkapkan bahwa pengambilan judul drama yang menceritakan tentang kehidupan sinden betujuan untuk memperkenalkan budaya Indonesia. “Karena ini sudah menjadi kewajiban bagi anak PBSI untuk mengembangkan sastra dan budaya Jawa yang merupakan budaya Indonesia. Budaya tersebut harus dikembangkan secara luas,” tutur Ratna yang juga mahasiswa PBSI semester 7 ini.

Ratna mengungkapkan bahwa setiap mahasiswa pementasan yang dibagi menjadi tiga kelompok itu wajib melakukan pementasan. “Untuk persiapan pementasannya sendiri telah dibentuk sejak awal semester. Pada tahap awal diberi tiga materi terlebih dahulu, setelah itu dari masing-masing kelompok  yang terdiri dari 25 anggota menentukan apa yang mau dipentaskan. Kemudian setiap kelompok tersebut dalam waktu dua setengah bulan sudah harus membentuk siapa pemainnya, sutradaranya, tim artistiktik dan tim produksinya,” terang Ratna. Untuk pelatihnya sendiri langsung dari dosen mata kuliah, yakni Ki Marijo dan Ki Wahyana Giri Mc.

Saat ditanya mengenai kesulitan yang dihadapi, Ratna menerangkan bahwa kesulitannya sama seperti teater-teater pada umumnya, yakni mengkondisikan para pemain dan anggota kelompok untuk berlatih, mengatur emosi saat sudah lelah, dan banyaknya tugas kuliah lain yang juga harus diselesaikan. “Mekipun begitu tidak membuatnya menjadi kendala bagi kelompok, tapi itu menjadi motivasi. Dalam teater itu tidak ada kendala. Kendala itu di ibaratkan sebuah syarat untuk kita maju lagi.”[p]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *