Bahasa Indonesia: Asing di Negeri Sendiri

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Di era globalisasi ini masih banyak orang yang meremehkan mata pelajaran bahasa Indonesia. Peminatnya pun mulai jarang, bahkan sedikit sekali anak muda penerus bangsa yang tertarik untuk mempelajari bahasa Indonesia secara serius dan mendalam. Kebanyakan dari mereka menganggap bahwa mata pelajaran bahasa Indonesia sangatlah mudah karena sudah diajarkan sejak dini dan digunakan sebagai alat komunikasi dalam kesehariannya.Meski bahasa Indonesia dianggap enteng, jarang sekali ada siswa yang mampu mendapatkan nilai sempurna untuk mata pelajaran bahasa Indonesia. Hal ini dikarenakan bahasa Indonesia bukanlah ilmu pasti, sehingga kita harus mengetahui logikanya dalam mengerjakan, semisal untuk menentukan tema, ide pokok ataupun gagasan utama.

Di dunia pendidikan, peminat bahasa Indonesia pun kian hari kian berkurang. Sebagai contoh di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) sendiri. Jumlah mahasiswa ProdiPendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari tahun ke tahun kian menurun. Sedangkan pada Prodi lain seperti Prodi Basaha Inggris dari tahun ke tahun kian meningkat. Sebagai contoh angkatan 2013/2014 Program Studi Bahasa Inggrisada delapan kelas sedangkan Program Studi Bahasa Indonesia  hanya tiga kelas. Data tersebut menunjukkan bahwa minat mahasiswa untuk mempelajari bahasa Indonesia semakin berkurang.

Globalisasi yang menuntut untuk dapat menggunakan bahasa internasional sebagai alat komunikasi antarbangsa pun menjadi alasan yang kuat mulai menjamurnya lembaga kursus bahasa asing seperti bahasa Inggris, Mandarin, maupun bahasa asing lainnya. Selain itu, banyak yang beranggapan bahwa kemampuan berbahasa internasional akan memudahkan orang untuk mendapat pekerjaan. Bukan tanpa alasan mereka dapat berfikir seperti itu, dewasa ini sudah banyak perusahaan yang mencantumkan kemampuan berbahasa internasional sebagai salah satu syarat dalam melamar pekerjaan. Kemampuan berbahasa internasional tersebut dimaksudkan untuk memudahkan dalam interaksi atau komunikasi secara luas. Meski begitu, apakah harus menumbalkan bahasa Indonesia?

Bagaimana bahasa Indonesia akan berkembang kalau mayoritas penduduknya saja tidak tertarik untuk mempelajarinya? Fanatisme terhadap bahasa asing juga sudah lama merambah ke dunia sekolah. Bahkan dahulu sempat terbentuk Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) yang menjadikan Bahasa Inggris sebagai bahasa penagantar. Meskipun pada akhirnya RSBI dibubarkan, tetapi masih banyak juga sekolah yang menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi sehari-hari, bukannya bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia adalah bahasa pemersatu bangsa. Negara Indonesia yang notabennya adalah negara kepulauan, memiliki ribuan bahasa daerah yang menyulitkan komunikasi antardaerah. Oleh sebab itu, muncul bahasa Indonesia sebagai alat untuk berkomunikasi secara nasional. Ketika orang SumateraberkunjungketanahJawa,dia dapat berkomunikasi secara luwes menggunakan bahasa Indonesia karena belum tentu orang jawa paham dengan bahasa Sumatera. Sehingga, keberadaan bahasa Indonesia menjadikan tiap daerah tidak merasa terkotak-kotakkan karena perbedaan bahasa. Bisa jadi sepuluh tahun lagi alat komunikasi antar daerah menggunakan bahasaasing. Tetapi itu tidak akan terjadi jika bahasa Indonesia tetap dipertahankan dan digunakan sebagaimana mestinya.

Kalau memang anak muda penerus bangsa tidak tertarik dangan bahasasendiri, tinggal tunggu waktunya Bahasa Indonesia  menjadi bahasa asing di negeri sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *