Mahasiswa UST Ragukan Perubahan Pasca Pemilwa

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Bulan Desember menjadi bulan demokrasi bagi mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST). Bagaimana tidak? Bulan terakhir di tahun 2013 ini Lembaga Kemahasiswaan mulai melakukan pemilihan pemimpin baru untuk Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), Majelis Mahasiswa Fakultas (MMF) dan Majelis Mahasiswa Universitas (MMU). Lalu bagaimana respon mahasiswa UST menaggapi adanya Pemilu Mahasiswa? Apakah Pemilu Mahasiswa ini masih bisa dianggap sebagai pesta demokrasinya mahasiswa?

Untuk mengetahui tanggapan mahasiswa UST tentang adanya Pemilu Mahasiswa di UST, LPM PENDAPA Tamansiswa mengadakan polling yang ditujukan untuk mahasiswa UST. Tim PENDAPA mengambil sampel sebanyak 315 responden yang tersebar secara proporsional di semua fakultas di UST. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Proportionale Stratifiled Random Sampling. Penyebaran polling dilakukan pada tanggal 19-21 desember 2013.

1

Berdasarkan polling yang dilakukan Tim PENDAPA, 192 dari 315 responden menyatakan mengetahui perhelatan Pemilu Mahasiswa di UST. Sementara sisanya sebesar 123 responden atau 39,05% menyatakan tidak mengatui.

2

Dari hasil polling di atas, meski mayoritas mahasiswa tahu adanya kegiatan Pemilu Mahasiswa, tetapi pengetahuan responden tentang para calon Ketua HMJ dan MMF berbanding terbalik dengan pengetahuan mereka tentang adanya Pemilu Mahasiswa. Dari 315 responden, 61,27% responden mengaku tidak mengetahui kandidat ketua HMJ dan MMF. Hal ini menandakan bahwa kinerja KPUM masih belum maksimal dalam mempromosikan para kandidat Pemilu Mahasiswa.

3Sosialisasi yang diselenggarakan oleh KPUM juga dirasa belum maksimal oleh mahasiswa. Hal tersebut nampak dari 85,71% responden menyatakan bahwa sosialisasi KPUM belum efektif. Banyaknya mahasiswa yang tidak mengetahui adanya Pemilu Mahasiswa hingga para calon yang bertarung di dalamnya akan menjadi indikasi banyaknya mahasiswa yang tidak menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan Ketua HMJ dan MMF di UST.

4

Saat responden disodori pertanyaan apakah mereka akan menggunakan hak pilihnya pada Pemilu Mahasiswa, 53,02% responden menyatakan tidak akan menggunakan hak pilihnya di Pemilu Mahasiswa kali ini. Sisanya sebesar 46,98 % menyatakan akan menggunakan hak pilihnya. Itu berarti lebih dari separuh mahasiswa yang ada tidak akan berpartisipasi dalam proses pemilihan para wakil mahasiswa. Bagaimana proses demokrasi kampus bisa berjalan jika mahasiswanya tidak ingin ikut campur dalam perjalanannya. Ini PR besar bagi para aktivis lembaga kampus untuk membuat suasana berpolitik di kampus menjadi lebih hidup.

5

Dengan kondisi seperti ini, jelas saja 54,61% responden beranggapan bahwa tidak akan ada perubahan dengan terpilihnya ketua HMJ, MMF ataupun MMU yang baru. Kenapa para mahasiswa menjawab demikian? Tentu menjadi tanggungjawab seluruh elemen kepengurusan lembaga baik yang akan demisioner maupun yang akan terpilih nanti. Sehingga akan membuat tingkat kepercayaan mahasiswa pada lembaga kemahasiswaan akan meningkat.

 

Teks : Paramita K. D. & Ririn S.S.M.

Polling: Tim Magang 2 LPM PENDAPA Tamansiswa

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *