Bahasa Indonesia Sebagai Basis Kurikulum 2013

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Rabu pagi (4/12), ruang Ki Sarino Mangunpranoto yang terletak di Kampus pusat Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa nampak dipenuhi oleh mahasiswa yang akan megikuti seminar. Seminar tersebut adalah seminar nasional untuk memperingati Bulan Bahasa yang jatuh pada tangal 28 Oktober. Acara tersebut dibuka dengan sambutan dari Hani Dia Lestari selaku ketua panitia dan Drs. Basuki, M. Hum selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Kaprodi PBSI).

Seminar Bulan Bahasa tahun ini mengangkat tema kurikulum 2013 mengenai rencana dan implementasinya pada pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Hani mengungkapkan bahwa tema seminar bahasa kali ini sesuai untuk peserta seminar yang merupakan bibit tenaga kependidikan. Seminar tersebut membahas tentang strategi dan implementasi kurikulum 2013 yang telah ditetapkan sebagai kurikulum baru pengganti Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)  oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Seminar Bulan Bahasa tersebut menghadirkan tiga pemateri, yaitu: Sudartomo Macaryus, dosen PBSI UST, kemudian Drs. Muhammad Nurrachmat Wirjosutedjo, ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Yogyakarta, serta  Prof. Dr. Fatur Rokhman, M.Hum., dari Universitas Negeri Semarang (UNNES). Menurut Fatur Rokhman, kurikulum 2013 adalah kurikulum yang menuntut peserta didik untuk mencari sendiri materi yang diajarkan oleh guru. Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang mengunakan pendekatan sainstifik bouth, yaitu pendekatan yang berbasis sainstifik, peserta didik dituntut untuk bertanya, melakukan observasi, mandiri, dapat  mempresentasi dan mempunyai keterampilan.

Selain itu, Muhammad Nurrachmat Wirjosutedjo menjelaskan bahwa kurikulum 2013  menjadikan Bahasa Indonesia sebagai penghela mata pelajaran lain karena menempatkan Bahasa Indonesia di depan mata pelajaran lain. Kurikulum 2013 juga menggunakan Bahasa Indonesia sebagai basis kurikulum dan wahana pengetahuan dengan teks, secara lisan maupun tulis. Pembelajaran Bahasa Indonesia yang berbasis teks dilaksanakan dengan menerapkan prinsip bahwa bahasa hendaknya dipandang sebagai teks, bukan semata-mata kumpulan kata-kata atau kaidah-kaidah kebahasaan. “Selain itu penggunaan bahasa merupakan proses pemilihan bentuk-bentuk kebahasaan untuk mengungkapkan makna, karena bahasa bersifat fungsional, maka penggunaan bahasa yang tidak lepas dari konteks,” tambahnya.

Menurut Hani, panitia membatasi jumlah peserta yang berkisar 150 orang. Akan tetapi, karena tema yang diangkat masih cukup hangat dan menarik untuk diperbincangkan, peserta justru membeludak menjadi 210 peserta. “Pesertanya  dari mahasiswa PBSI, ada pula 3 orang dari kampus PGRI dan dari UAD, namun berhalangan datang,” jelas Hani.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *