LEFT, Pahlawan dalam Balutan Mahasiswa

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Bazar Pakaian, salah satu kegiatan yang dilaksanakan LEFT. Foto : dok. istimewa
Bazar pakaian layak pakai, salah satu kegiatan sosial yang dilaksanakan LEFT UST di Pring Tali, Giri Mulyo, Kulon Progo. Foto : dok. istimewa.

Memperingati Hari Pahlawan, Minggu (10/11), Ladies Engineer From Tamansiswa (LEFT) Universitas Sarjanawiyata tamansiswa (UST) sukses melaksanakan tiga kegiatan sosial sekaligus. Ketiga kegiatan tersebut adalah pasar murah, pelatihan kreatifitas, dan lomba anak-anak.

Kegiatan yang terlaksana atas bantuan Majelis Mahasiswa Fakultas Teknik (MMF T) UST dan beberapa sukarelawan ini dilaksanakan sebagai jawaban bagaimana menjadi pahlawan dalam balutan almamater mahasiswa. Acara dengan tema “Pahlawan Muda Generasi Penyejahtera” tersebut berhasil menyedot antusiasme 120 KK yang tinggal di Pring Tali, Giri Mulyo, Kulon Progo.

“Kaum Mahasiswa yang masih menempuh jenjang pendidikan harus turun tangan membantu masyarakat. Tidak harus melihat kita siapa, karena semua tergantung niat dan tujuan,” kata ketua panitia kegiatan, Wulan, mahasiswa Teknik Industri 2012 saat ditemui Tim PENDAPA Kamis (14/11).

Bazar yang meliputi pakaian layak pakai dan sembako murah dilaksanakan dengan pembagian kupon sebelum hari-H. Sembako dijual seharga 30% dari harga sebenarnya. Sedangkan untuk pakaian layak pakai, sudah melalui seleksi yang ketat dari panitia. “Barometer layak bagi kami yaitu selera kami sendiri. Selama baju itu bersih, tidak rusak, dan kami tidak keberatan jika disuruh memakainya itu berarti layak,” ujar wakil ketua, Tya, mahasiswa Teknik Industri 2012. Adapun dana yang terkumpul dikembalikan kepada masyarakat untuk memperbaiki sarana desa.

Sedangkan kegiatan pelatihan dirancang agar sesuai kebutuhan warga. Untuk memudahkan, warga dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok ibu-ibu dengan pelatihan membuatan telur asin aneka rasa buah. Kelompok anak-anak usia balita dilatih membuat figura dari barang-barang bekas seperti kardus dan koran. Sedang kelompok terakhir adalah usia SD, SMP, dan SMA, mereka mendapat pelatihan membuat bros, gantungan kunci, dan boneka dari kain flanel. “Antusiasnya begitu besar, ibu-ibu yang sebelumnya sudah ikut pelatihan pembuatan telur asin, juga masih ikut kegiatan pelatihan lain,” ujar Tya.

Kegiatan selanjutnya adalah lomba anak-anak, dilaksanakan lomba makan kerupuk, lomba balap kelereng, dan lomba mengambil permen dalam tepung. Jenis lomba sengaja dipilih lomba yang sudah akrab dengan tradisi lomba yang ada di Indonesia. “Selain tidak kalah meriah, lomba tradisional juga untuk menjaga identitas bangsa kita,” tambah Tya.

Warga sendiri merasa sangat terbantu dengan kegiatan yang dilaksanakan LEFT tersebut, bahkan berharap ada pelatihan lanjutan. Menanggapi hal tersebut, Wulan selaku ketua panitia mengaku sudah memiliki program jangka menengah dan jangka panjang untuk ke depannya.[p]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *