Janji Rektor Tak Berimbas Baik

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Lima Mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa teknik Sipil (HMTS) saat menunggu Rektor UST, Drs. Pardimin, M.Pd. di Rektorat, Rabu (30/10). Foto: Gita/PENDAPA
Lima Mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil (HMTS) saat menunggu Rektor UST, Drs. Pardimin, M.Pd. di Rektorat, Rabu (30/10). Foto: Gita/PENDAPA

Matahari tidak bersinar cerah, awan gelap menutupi sinar matahari. Disusul dengan hujan yang mengguyur Yogyakarta Rabu siang kemarin (30/10). Udara dingin yang merasuki tubuh rakyat-rakyat Yogyakarta sepertinya tidak di rasakan lima mahasiswa yang mengenakan kemeja hitam yang sejak lama duduk sejajar di bangku menghadap utara ruang tunggu Rektorat. Kelima mahasiswa hanya duduk dan sesekali mereka berbincang. Tidak begitu ramai, hanya beberapa karyawan dengan berbagai urusannya yang terlihat mondar-mandir di sekitar ruangan. Seorang penerima tamupun hanya duduk di kursi yang tertutup meja penerima tamu, tepat menghadap pintu masuk ruangan.

Tepat pukul dua siang Tim PENDAPA mendatangi kantor Rektorat dengan tujuan untuk mewawancarai Ki Pardimin Rektor Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) mengenai surat keputusan Rektor Nomor: 46/UST/Kep/Rek/VII/2013 tentang Hak dan Kewajiban Mahasiswa terkait biaya pendidikan. SK Rektor tersebutlah yang menjadi dasar diterbitkannya  pengumuman pada Senin (28/10) yang memaksa mahasiswa yang belum membayar SPP variabel untuk cuti.

Ketika kami mendatangi rektorat dan meminta bertemu langsung dengan Rektor, penerima tamu menerangkan bahwa Rektor sedang rapat dan tidak tahu akan selesai pukul berapa. Kami memutuskan untuk menunggu sampai rapat selesai dengan duduk di ruang tunggu Rektorat.

Di dalam kami bertegursapa dengan lima mahasiswa Program Studi Teknik Sipil, kelima mahasiswa ini adalah anggota Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil (HMTS) UST. Mareka juga ingin bertemu Rektor dengan tujuan yang sama, yaitu untuk menanyakan masalah kebijakan kampus. Akibat diterbitkannya pengumuman yang ditandatangani Kepala Biro Administrasi dan Akademik Kampus (BAAK) dan Biro Administrasi Umum (BAU), kurang lebih sepuluh mahasiswa Fakultas Teknik tidak bisa mengikuti Ujian Tengah Semester (UTS). Selain itu mereka juga ingin meminta kejelasan mengenai Kepala Program Studi (Kaprodi) mereka yang belum juga ditetapkan. Mereka sudah membuat janji dengan Rektor untuk bertemu guna membahas masalah tersebut tepat pukul satu siang. “Jam dua belas kami dari Gedung Pascasarjana sehabis ujian langsung turun ke sini,” terang Nokus salah satu mahasiswa dari HMTS ini.

Hingga pukul setengah tiga siang kami Tim PENDAPA dan lima mahasiswa dari HMTS ini belum juga bisa menemui Pak Rektor. Sambil menunggu, Nokus salah satu dari lima mahasiswa yang merupakan wakil ketua HMTS bercerita. “Ada kurang lebih sepuluh mahasiswa Fakultas Teknik dan salah limanya adalah mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknik Sipil yang tidak bisa ikut UTS dikarenakan belum melaksanakan kewajiban membayar SPP Variabel dengan alasan ketidaktahuannya atas kebijakan Rektorat bahwa SPP Variabel harus di lunasi sebelum UTS,” terang Nokus. Mereka baru tahu mengenai kebijakan itu di hari pertama UTS, itupun awalnya hanya sekedar isu saja. Yang mereka tahu dalam kebijakan terdahulu, pembayaran SPP Variabel boleh dilunasi dengan batas akhir sebelum Ujian Akhir Semester (UAS). HMTS-pun tidak pernah mendapat surat pemberitahuan mengenai kebijakan yang baru tersebut sehingga tidak bisa menginformasikan isi dari kebijakan tersebut kepada teman-teman Teknik Sipil.

Mahasiswa Teknik Sipil yang tidak bisa mengikuti UTS ini pun pada hari selasa lalu (29/10), sempat mendatangi BAAK, namun pihak BAAK jutru melempar-lempar masalah dengan menyuruh mereka untuk menemui Wakil Rektor (Warek) II. Segera mereka menemui Ki Andri Wakil Rektor II dengan maksud meminta kejelasan akan nasib mereka.

Datang dengan cara baik-baik tetapi tidak berimbas baik. Ketika mereka menunggu Warek II di ruang tunggu Rektorat, mereka justru melihat wakil Rektor II itu keluar melewati pintu lain, bukan melewati pintu utama. Hal tersebut membuat mereka beranggapan bahwa Warek II seperti terkesan menghindar. Lebih lucunya lagi setelah kejadian tersebut, mereka malah di tetapkan “cuti” oleh Rektorat. Kejadian itu membuat mereka kecewa dan enggan lagi untuk datang.

Mereka menceritakan kejadian tersebut kepada HMTS dan dengan alasan inilah lima mahasiswa dari HMTS berada di samping kami untuk bertemu Rektor. Tak hanya alasan itu yang membawa mereka di sini, tetapi juga karena belum diperkenalkannya Dekan Fakultas Teknik yang baru. Belum lagi dengan Kaprodi Teknik Sipil yang juga belum ditetapkan sejak kemunduran Kaprodi sebelumnya. Masalah demi masalah yang di hadapi teman-teman Fakultas Teknik terutama Prodi Teknik Sipil ini membuat HMTS tidak mungkin diam.

Harapan mereka pihak Rektorat cepat menentukan siapa orang yang akan menduduki jabatan Kaprodi Teknik Sipil, sehingga akreditasipun juga segera ditindaklanjuti. “Kegiatan-kegiatan HMTS-pun banyak yang belum terlaksana dikarenakan masalah ini. Mahasiswa yang sudah waktunya lulus menunda kelulusannya karena akreditasi yang belum jelas. Masalah yang berlarut-larut dihadapi teman-teman Teknik sudah seharusnya cepat ditanggapi oleh pihak Rektorat,” terang Nokus.

Adzan Ashar sudah terdengar, lama lima mahasiswa dari HMTS dan Tim PENDAPA yang menunggu tidak juga mendapat kabar dari Rektor. Tiba-tiba Karyawan Rektorat menegur kami dan menunjuk ke arah luar ruang Rektorat sebelah barat, terlihat Pak Rektor sedang mengobrol dengan seseorang melalu telepon genggamnya dan bersegera masuk kedalam mobilnya yang sudah siap di bawakan supir pribadinya menuju keluar kampus pusat UST.

Dua mahasiswa dari HMTS keluar untuk menyusul Pak Rektor, namun sayang mobil yang membawanya lebih cepat melaju tidak tahu kemana.Mereka merasa tidak sopan kalau harus memanggil Rektor dari kejauhan. Akhirnya dua mahasiswa dari HMTS memasuki kembali ruang Rektorat. Menurut salah satu saksi mata yang kebetulan sedang berada di halaman parkir Rektorat, Rektor berjalan dari gedung Pascasarjana dan langsung memasuki mobilnya. Walaupun belum sempat bertemu Rektor, Nokus dan kawan-kawan menegaskan bahwa akan datang lagi kemudian hari sampai bisa bertemu dengan Rektor.

Tak lama, dua orang yang juga merupakan mahasiswa dari HMTS memasuki Rektorat dan mendatangi Nokus dan kawan-kawan. Dua orang tersebut salah satunya adalah Ridwan ketua HMTS dan selang beberapa detik keluar Nyi Trisharsiwi kepala Biro Administrasi Umum(BAU) UST dari dalam ruangannya terlihat akan bergegas pulang, namun langkahnya sempat terhenti ketika melihat mahasiswa HMTS sedang meributkan kegagalan bertemu Rektor di ruang tunggu Rektorat. Ia bertanya mengapa kita berada di sini dengan nada heran.

Ridwan bersama mahasiswa HMTS bermaksud menjelaskan tujuannya berada di Rektorat, namun kepala BAU tidak menghiraukan ungkapan dari Ridwan dengan alasan Ridwan yang tidak menjawab pertanyaannya dengan jelas. “Nek panjenengan apik-apik tak apiki genten”, begitu ungkapan Kepala BAU ini dan bergegas keluar kantor Rektorat.

Mahasiswa HMTS memutuskan untuk keluar dari kantor Rektorat. Kami sempat mengobrol dengan Ridwan mengenai masalah yang sama. Masih seperti ungkapan Nokus dan kawan-kawan, Ridwan juga menjelaskan mengenai maksudnya mendatangi Rektor.

“Kawan-kawan sudah datang baik-baik tapi mereka malah dikecewakan bahkan Wareknya lari dan mereka lihat sendiri Wareknya lari. Warek II khususnya. Ibaratnya tidak mau memberi tanggapan tentang apa yang terjadi dengan kesusahan yang mereka hadapi. Sedangkan Rektor pernah berjanji kalau ada masalah apa-apa langsung saja bertemu dia tetapi yang terjadi adalah Warek II sendiri pengecut. Jadi kami ingin menuntut kejelasan dari sikap Warek, pemimpin kok lari. Nah ternyata Rektor malah lari juga. Kami baik-baik datang mereka malah lari. Kalau memang kita bisa bicara baik-baik ibarat pamong dengan anak ya monggo kami disambut baik-baik. Jangan kabur,”terang Ridwan yang menyesalkan sikap pihak Rektorat.[p]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *