Kering Kesadaran di Era Banjir Informasi

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Media massa diharapkan mampu menjadi pencerah dan menjadi acuan informasi yang benar serta mendidik di tengah banjirnya informasi pada publik. Banjirnya informasi merupakan hal yang harus disikapi dengan bijak. Atas motif itulah, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia kembali menggelar Festival Media II, arena interaktif antara penikmat media dan pekerja media. Kali ini Yogyakarta dipilih sebagai tempat berlangsungnya festival, tepatnya di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) Universitas Gadjah Mada (UGM), Sabtu-Minggu (28-29/9).

Mengangkat tema ‘Mencari Kebenaran di Era Banjir Informasi’, Iman D. Pranowo, koordinator advokasi AJI Indonesia mengungkapkan bahwa AJI berharap masyarakat tidak sekedar menjadi konsumen yang terlena dengan informasi yang bergerombolan tersiar, masyarakat harus sanggup melirik pemberitaan, apakah pemberitaan itu benar atau hanya sekedar isu atau opini. Melalui acara ini, AJI ingin mempertemukan publik dengan para pekerja media agar ereka melihat langsung bagaimana dapur redaksi dapat menghasilkan sebuah berita sampai kembali lagi kepada publik.

Media Saat Ini

Saat ini banyak bermunculan media yang sering berlebihan dalam memberitakan informasi yang sedang booming sekilas, terlebih di media televisi dan media online. Kecepatan informasi pemberitaan menjadi satu hal yang amat penting bagi orang media televisi maupun online tersebut. Namun, banyak jurnalis yang justru linglung dengan klarifikasi kebenaran berita, demi waktu yang setiap detiknya adalah jurang menuju kebasian jika telat disiarkan kepada khalayak. Padahal, Pito salah satu Panitia Festival Media II yang juga koresponden Tempo menyampaikan bahwa seharusnya jurnalis harus benar dalam memberitakan informasi. “Jurnalis dalam memberikan informasi harus yang benar dong, jangan asal-asalan. Jangan sampai melalaikan konfirmasi berita, jangan sampai ada pembohongan berita yang menyimpang dari fakta, karena pembacanya adalah masyarakat,” terang Pito dengan mantap.

“Jika masyarakat mau melihat lebih kritis, ada beberapa media TV yang pemberitaannya tidak seimbang,” terang Iman D. Pranowo, koordinator Advokasi AJI Indonesia. Namun Iman menambahkan, pelanggaran media TV dan media cetak itu berbeda, karena TV menggunakan frekuensi milik publik lewat sinyal on air, maka pemberitaan yang memuat iklan yang tersembunyi itu jelas mutlak tidak boleh. Sedangkan di media cetak, karena untuk memperoleh informasi dari produk media cetak adalah harus dengan membeli, maka advertising tersebut dibolehkan.

Sedangkan menurut Bella Putri, pengunjung Festival Media II yang juga mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip), ada media yang kompeten dan ada media yang merusak. Ada media yang concern dengan suatu masalah, tetapi malah ada juga media yang menumpulkan. Pers mahasiswa (Persma) seharusnya ikut serta dalam mengedukasi masyarakat.

Konsumen Cerdas

Bella Putri mengungkapkan bahwa seharusnya media bisa mengedukasi masyarakat. Sekarang banyak berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. “Faktanya banyak beberapa media yang menyuguhkan informasi tidak berkualitas. Media yang kompeten seharusnya mengedukasi masyarakat agar tidak mudah terbawa arus infornasi, “ ucap Bella yang ditemui Tim PENDAPA di sela acara festival.

Selain peran jurnalis yang harus menjunjung tinggi kode etiknya, adalah tugas masyarakat pula untuk melek media. “Warga patutnya jangan menelan mentah-mentah informasi yang hampir tiap saat membludak banjir di tengah-tengah kita,” pesan Pito.

“Karena jangan-jangan media ini punya kepentingan. Jadi warga sendiri yang harus menyaring. Misalnya ada media digunakan untuk kampanye, beritanya berat sebelah, ya warga harus aktif. Sebagai subjek yang punya hak publik, warga harus cerdas mengkritisi berita,” tambah Iman.

Masyarakat, tambah Iman, harus berani kritis sekaligus berani menyuarakan pendapatnya. Jurnalis bukan malaikat yang tak pernah salah, walaupun memiliki kode etik yang wajib ditaati. Jadi ketika ada berita, baik media cetak maupun non cetak ada yang salah, masyarakat berhak kritis menyuarakan pendapat tanpa perlu menyalahkan. “Kalau ada media yang tidak jelas, menyembunyikan iklan di dalamnya, maka laporkan ke Dewan Pers. Maka Dewan Pers akan memanggil media itu” terang Iman.[p]

 

*Merupakan salah satu tulisan yang diikutsertakan pada Lomba Penerbitan Festival Media II 2013 yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia

Satu tanggapan untuk “Kering Kesadaran di Era Banjir Informasi

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *