Mencari Bentuk Ospek Ideal

Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek) sudah menjadi tradisi di setiap Perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta, bahkan sudah menjadi kegiatan wajib untuk mahasiswa baru sebelum memasuki pintu gerbang Perguruan Tinggi (PT). Ospek bertujuan untuk memperkenalkan kampus kepada para mahasiswa baru, sehingga dari PT itu sendiri wajib memberikan hal-hal baik di dalam Ospek. Namun tak jarang kita dengar banyak terjadi hal-hal yang tidak baik di dalam kegiatan Ospek, seperti adanya kekerasan yang dilakukan senior terhadap si mahasiswa baru maupun berbagai atribut tak wajar yang harus dibawa saat Ospek.

Terkait hal itu, keputusan Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (Dirjen Dikti) Departemen Pendidikan Nasional (Dekdiknas) Nomor 38/Dikti/Kep/2000 tentang pengaturan kegiatan peneriman mahasiswa baru di perguruan tinggi menyebutkan bahwa pengenalan terhadap program studi dan program pendidikan Perguruan Tinggi (Universitas, Institut, Sekolah Tinggi, Politeknik, dan Akademi) di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional hanya boleh dilakukan dalam rangka kegiatan akademik dan dilaksanakan oleh pimpinan Perguruan Tinggi.

“Keputusan Dikti tentang Ospek itu dibarengi dengan adanya otonomi pendidikan tinggi sehingga PT itulah yang mengatur pelaksanaan Ospek,” ungkap Tunggul Priyono SH., M.Hum., Administrasi Akademik Kopertis wilayah V Daerah Istimewa Yogyakarta. “Kewenangan untuk mengelola PTN diserahkan kepada PTN itu, pemerintah tugasnya hanya mengawasi, mengendalikan, dan membina. kalau terjadi pelaggaran, perguruan tinggi itu yang harus mempertanggungjawabkan. Untuk Ospek biasanya perguruan tinggi menyerahkan kegiatan kepada Senat dengan memberikan Surat Keputusan, akan tetapi Perguruan Tinggi itu juga harus memberikan pembekalan kepada panitia Ospek agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” tambah Tunggul. Sampai saat ini, Kopertis wilayah V Yogyakarta tidak pernah menerima keluhan lagi mengenai kegiatan ospek di Perguruan Tinggi.

Tunggul berharap Ospek yang dilaksanakan Perguruan Tinggi di Yogyakarta ini sudah sesuai dengan aturan yang ada. “Idealnya ya Ospek itu pengenalan, mengarahkan bagaimana cara belajar mereka agar dapat mengantisipasi perubahan budaya sekolah menjadi budaya di Perguruan Tinggi. Pihak Perguruan Tinggi harus menanamkan budaya apa yang akan dikembangkan dari perguruan tingginya. Nah Ospek itu menjadi budaya akademik. Karena budaya perguruan tinggi itu sinergi antara budaya akademik, dosen dan mahasiswa serta bisa membentuk landasan budaya di Perguruan Tinggi itu sendiri. Disamping pendidikan, budaya kan juga penting.”

Ospek di UST

Kegiatan Ospek juga telah dirasakan mahasiswa baru di Universitas sarjanawiyata tamansiswa (UST) Yogyakarta. Salah satunya adalah Anton Sudibyo, mahasiswa baru Program Studi (Prodi) Pendidikan Teknik Mesin. Ia berharap adanya Ospek mampu mendekatan mahasiswa baru dengan mahasiswa baru lainnya, juga dengan senior-senior. Selain itu ia juga ingin lebih tahu mengenai sejarah UST. “Yang penting ya pengenalan kepada mahasiswa mengenai fakultasnya dan universitasnya. Juga pengenalan ke sesama mahasiswa. Tapi sayangnya di UST ini kuliah dulu, jadi kami sudah mendapatkan materi mengenai banyak hal dari dosen-dosen lalu baru ospek, seolah Ospek itu tidak ada gunanya untuk kami,” ungkap Anton. Kegiatan Ospek di UST ini memang terbilang lambat dibanding Perguruan Tinggi lainnya yang sudah selesai dengan kegiatan Ospeknya.

Kegiatan Ospek UST bernama Ospek Pandawa yang berlangsung selama enam hari terhitung dari hari Senin (23/9) sampai dengan Sabtu (28/9) ini tentu mempunyai fungsi dan tujuannya. Seperti yang di tuturkan Dulhamin Arif, aktifis mahasiswa yang juga merupakan panitia Ospek Pandawa. “Di lihat dari esensinya, Ospek itu Orientasi Studi Dan Pengenalan Kampus, yang dilakukan di sana adalah bagaimana mahasiswa baru mengenal lingkungan kampus, bukan hanya kampus tapi lebih dalamnya lagi, baik jajaran kampus maupaun pemerintah birokrat di dalamnya, itu yang harus dikenali. Ospek adalah langkah awal untuk menunjukkan kepada mahasiswa baru atau mensosialisasikan kampus yang telah mereka pilih, itu tujan pertama. Tujuan kedua disini untuk membina keakraban, dengan adanya Ospek ini bisa merangkul mahasiswa baru untuk merasa bahwa kita dalam satu payung yaitu Tamansiswa.”

Tak hanya para aktifis mahasiswa, jajaran kampus seperti Wakil Rektor I, Drs. Hazairin Eko Prasetyo, M.S. menuturkan, “kegiatan Ospek harus mampu membekali mahasiswa bebagai pengetahuan dan pengalaman yang mereka perlukan, supaya mereka bisa belajar mengembangkan minat, misal dalam bidang penelitian,  bisa berkembang di sini. Lalu bakat, berbakat dalam bidang apa mahasiswa itu, lalu mampu berprestasi di sini. Jadi optimalisasi minat, bakat dan akademik harus terjadi dan itu harus diberikan pada saat Ospek. Ospek juga menjadi jembatan untuk mereka yang baru lulus SMA ke jenjang Perguruan Tinggi, jadi tidak perlu ada kegiatan yang sifatnya tidak sesuai dengan itu.”

Namun berbicara tentang keidealan dalam Ospek di UST, Wakil Rektor I mengungkapkan, “Ideal ya masih mengarah ke sana, tahun kemarin sudah mulai membentuk tim supervisi dari Rektorat untuk kegiatan Ospek itu, jadi sudah mulai kita arahkan dan tahun ini malah sudah masuk ke kepanitiaan supaya arahnya benar”. Ospek memang menjadi hal utama pembentuk karakter mahasiswa baru dalam memasuki jenjang perguruan tinggi, oleh karena itu baik buruknya karakter mahasiswa bergantung kepada baik buruknya pelaksanaan Ospek di Perguruan Tingginya.[p]