PPL II, Mempertaruhkan Citra UST

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Sudah menjadi catatan sejarah bawasanya Tamansiswa adalah pelopor pendidikan di Indonesia, berangkat sejak bangsa masih terjajah hingga kini. Tak hanya itu, ajaran serta konsep-konsep pendidikan dari pendiri Tamansiswa, Ki Hajar Dewantara, menjadi pedoman menyeluruh lembaga pendidikan di Indonesia, contoh yang paling jelas terlihat adalah salah satu kalimat dari Trilogi kepemimpinan yang disematkan dalam lambang pendidikan nasional yaitu Tutwuri Handayani yang berarti dari belakang memberikan dorongan.

Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa adalah salah satu lembaga pendidikan Tamansiswa, dan sudah kita ketahui bersama fakultas paling besar di UST adalah FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) yang jelas mencerminkan karakter Tamansiswa yaitu pendidikan, dimana didalamnya didik mahasiswa dari berbagai jurusan yang diharapkan menjadi guru. Adapun jurusan tersebut adalah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), Pendidikan Seni Rupa (PSR), Pendidikan Matematika (P Mat), Pendidikan IPA (P IPA), Pendidikan Fisika (P Fisika), Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Pendidikan Teknik Mesin (PTM), dan Pendidikan Kesejahteraan keluarga (PKK).

Dalam pembinaan dan proses pembelajaran menjadi calon guru atau dalam istilah Tamansiswa disebut dengan pamong tentu tidak hanya dibutuhkan pengetahuan secara teori semata, namun harus dibarengi dengan praktek dan pengalaman langsung terjun ke lapangan, dalam hal ini sekolah baik itu SD, SMP, SMA, SMK atau yang sederajat. Salah satu program yang dilakukan adalah Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) II. PPL II adalah mata kuliah wajib dimana para mahasiswa diterjunkan langsung ke sekolah untuk terlibat aktif dalam pengelolaan dan pelaksanaan pembelajaran di sekolah yang sebagian besar diikuti oleh mahasiswa di semester VII. Namun kenyataan yang terjadi di lapangan dalam perencanaan dan pelaksanaan dinilai mahasiswa kurang maksimal, dan justru mengecewakan. Banyak masalah dan kesemrawutan administrasi yang justru menjadi hambatan bagi pelaksnaan PPL II ini.

Diantara sekian banyak masalah, terdapat tiga masalah utama. Pertama, suatu program yang rutin dilakukan dan menjadi agenda tahunan ini tentu tidak bisa dilepaskan dari tahun-tahun sebelumnya. Tahun lalu PPL II ini bisa dikatakan kurang baik, terbukti ada beberapa mahasiswa yang terang-terangan disuruh kembali ke kampus bahkan guru bersangkutan mengatakan bahwa tahun-tahun ke depan tidak akan menerima lagi mahasiswa PPL dari UST karena kecewa atas kinerjanya. Dalam permasalahan ini tentu juga harus ditinjau dari aspek pribadi mahasiswa namun sebagai lembaga terkait seharusnya kampus bertanggung jawab atas hal semacam ini, namun pada tahun ini belum ada perbaikan signifikan yang dilakukan pihak kampus atas permasalahan tersebut. Seolah masalah yang terjadi tahun lalu dibiarkan saja, tidak dijadikan koreksi dan diperbiki.

Kedua, Masih banyak dosen pembimbing yang kurang peduli terhadap  mahasiswa yang dibimbingnya. Dosen seolah melepas begitu saja mahasiswa ke sekolah dan harus berkordinasi sendiri dengan pihak sekolah terkait, padahal peran dosen disini sangat dibutuhkan sebagai pamong yang memasrahkan anak didiknya untuk berpraktek dan menimba ilmu lebih di sekolah yang bersangkutan. Dalam kelompok PPL di beberapa sekolah juga terkadang terjadi perbedaan intruksi antara dosen pembimbing Prodi yang satu dengan yang lain hingga menyebabkan mahasiswa bingung dan berujung pada keterpecahan kelompok. Ketiga, buruknya administrasi dan kurangnya koordinasi yang dilakukan kampus dengan pihak sekolah, contohnya saja tentang jadwal diundurnya penerjunan PPL II yang semula dijadwalkan tanggal 17 juli diundur menjadi mulai tanggal 20 Juli tanpa memberitahu pihak sekolah. Akibatnnya banyak  dari sekolah yang justru menyalahkan mahasiswa, bahkan ada pula sekolah yang menolak untuk dijadikan tempat PPL dan terpaksa dialihkan ke sekolah lain. Ini menjadi bukti buruknya administrasi serta komunikasi dari pihak kampus.

Dalam menyikapi masalah tersebut seharusnya kampus melakukan persiapan yang lebih matang tentang pelaksanaan PPL II ini, sehingga ketika penerjunan berlangsung dari pihak kampus maupun mahasiswa benar-benar siap. Selain itu perlu adannya perbaikan administrasi sehingga tak ada lagi keterlambatan pelaksanaan program yang telah disepakati dan dipublikasikan. Komunikasi dengan sekolah terkait juga menjadi hal yang sangat penting, ketika ada kendala ataupun perubahan rencana harus dikoordinasikan dengan pihak sekolah karena kredibekitas serta citra kampus dapat dinilai dari sini, agar kedepanya nama UST di mata masyarakat khususnya sekolah menjadi lebih baik, bukan  sebaliknya.

“Kritik adalah wujud kepedulian dan demokrasi ”

 

*Mahasiswa Semester VII Pendidikan Matematika

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *