Berharap Terhindar Bala, 78 Sukerto Ikuti Ruwatan Massal

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Salah satu prosesi Ruwatan, kirab para sukerto didampingi orang tua masing-masing. Foto: Tikha/PENDAPA.
Salah satu prosesi Ruwatan, kirab para sukerto didampingi orang tua masing-masing. Foto: Tikha/PENDAPA.

Minggu (30/6), Lembaga Javanologi Yogyakarta mengadakan acara ruwatan bersama. Ruwatan bersama tahun 2013 ini merupakan yang ke-XXIII kalinya dilaksanakan di Pendopo Agung Tamansiswa, Jalan Tamansiswa No. 25 Yogyakarta. Ruatan bersama ini merupakan upacara adat dan budaya jawa yang diselenggarakan secara rutin setiap tahun pada hari-hari libur sekolah. “Ruwatan bersama ini kami selenggarakan secara rutin setiap tahun pada hari-hari liburan sekolah dengan maksud para peserta dari luar daerah agar dapat mengikuti dengan waktu yang panjang sekaligus dapat menikmati dan berwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai kota budaya dan tujuan wisata,” kata Suharjendro dalam sambutannya sebagai ketua panitia.

Upacara ritual ruwatan yang juga dilengkapi dengan pertunjukan wayang kulit lakon Murwakala oleh Mas Lurah Cermosutedjo yang merupakan Abdi Dalem Dhalang Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini, bertujuan agar para putra-putri yang termasuk sukerto terhindar dari bala dan malapetaka serta selalu mendapat keselamatan dan perlindungan dari-Nya. “Selain terlepas dari noda atau sukerto, juga agar memperoleh keselamatan, keselarasan, dan keseimbangan antara manusia dan lingkungannya atau tanah dimana dia bertempat tinggal,” terang Suharjendro.

Selain itu, tujuan dilaksanakan upacara rutin yang dimulai pukul 08.00-15.00 WIB ini adalah sebagai salah satu sarana untuk mempertahankan, melestarikan dan mengembangkan budaya Jawa yang berlandaskan kepercayaan dan hakekat utama untuk memohon bersama-sama kepada Allah SWT.

Sekitar 78 orang sukerto dari 48 keluarga yang berasal dari berbagai daerah mulai dari kota Yogyakarta, Sleman, Magelang, Solo, Bekasi, bahkan hingga berasal dari Palembang mengikuti prosesi upacara ruwatan dengan tertib dan khidmat. Upacara diawali dengan sungkem kepada orang tua, dilanjutkan dengan kirab para sukerto yang diikuti orang tua masing-masing. Kemudian para sukerto berpakaian kopohan dan duduk di belakang kelir dengan pembacaan kidung oleh Ki Dhalang. Dilanjutkan dengan pemotongan rambut sukerto dan diakhiri dengan siraman sukerto oleh orang tua masing-masing. Penutupan ditandai dengan penyerahan sertifikat kepada sukerto sebagai pertanda suci diri.[p]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *