Ultah ke-33, PBSI Adakan Seminar Sastra Ahmad Tohari

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Senin (17/6), Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) mengadakan Seminar Sastra dengan mengusung tema ‘Daya Karakter’. Seminar yang bertempat di Ruang Ki Hadjar Dewantara UST Kampus 1 ini diadakan dalam rangka ulang tahun Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) yang ke-33.

Seminar sastra tersebut menghadirkan tiga narasumber, yaitu Ahmad Tohari, penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk dengan materi ‘Sastra dan Karakter Bangsa’, Drs. Basuki, M.Hum yang merupakan Kaprodi PBSI FKIP UST dengan makalahnya yang berjudul ‘Cermin Kearifan Lokal Budaya Jawa Melalui Makna Figuratif dalam Pemakaian Bahasanya’ dan Nur Sakhijah, S.Pd yang merupakan alumni Prodi PBSI FKIP UST dengan judul skripsinya ‘Efektivitas Penggunaan Media Visual Terhadap Peningkatan Keterampilan Menulis Deskriptif Siswa Kelas X SMA Taman Madya Jetis Yogyakarta’.

Acara dibuka pukul 13.00 WIB dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya serta lagu Tamansiswa oleh seluruh peserta seminar. Acara tersebut juga dimeriahkan oleh UKM Musik Dewantara UST.

Ki Rusdian Noor selaku Dekan FKIP UST dalam sambutannya mengatakan bahwa karya-karya sastra dari Ahmad Tohari merupakan karya sastra serius namun juga menghibur. Menurut Ki Rusdian, hal itu terlihat melalui pergulatan karakter-karakter tokoh yang digambarkan dengan kreatif dan humor. “Karakter-karakter yang menggambarkan manusia-manusia yang tulus dengan setting pedesaan pun menjadi alasan mengapa saya mengidolakan karya-karya sastra Ahmad Tohari yang salah satu karyanya berjudul Ronggeng Dukuh Paruk,” tutur Ki Rusdian.

Melki Hartomi, moderator seminar yang juga mahasiswa PBSI mengungkapkan bahwa karakter memang bisa dibangun dari banyak sisi. Salah satu caranya adalah dengan sastra. “Ahmad Tohari adalah seorang sastrawan Indonesia. Namun beliau juga seorang yang mampu merekam jejak-jejak sejarah Indonesia. Melalui jejak inilah kita akan dapat melihat karakter Bangsa,” terangnya saat mengawali seminar.

Ahmad Tohari pun menyampaikan kekagumannya kepada tokoh Pendidikan Nasional kita Ki Hadjar Dewantara. Melalui seminar ini Ahmad Tohari juga mengungkapkan niatnya untuk menyebarkan virus kesastraan merupakan salah satu tujuan dalam seminar sastra yang diikuti sekitar 150 peserta ini. “Menyebar virus kesastraan dan ingin menularkan komitmen di bidang sastra kepada generasi-generasi muda merupakan tujuan saya dalam kesempatan menghadiri seminar sastra ini,” terangnya.

Lebih lanjut Ahmad Tohari mengungkapkan bahwa karakter tulisan adalah suatu proses yang mempunyai awal namun tidak mempunyai akhir. Menurutnya sastra mempunyai peran penting dalam membangun karakter Bangsa, maka tugas seorang sastrawan adalah memperkaya karakter. “Kepenulisan itu harus diawali dan tidak boleh diakhiri, suatu proses dalam menulis adalah dengan diawali banyak-banayk membaca untuk kemudian kita dapat menuangkan ide-ide lewat menulis, menulis, dan menulis,” tutur Ahmad Tohari.[p]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *