Tujuh Tahun Korban Lapindo Mengungsi Tanpa Kejelasan

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Pagi itu, 29 Mei 2013 sekitar pukul 9.00 WIB mentari pagi dari halaman taman eks Pasar Porong Lama dekat Stasiun Porong, Sidoarjo, nampak buram tertutup kabut. Hal itu yang menjadikan suasana menjadi tidak begitu panas, meski polusi dari berbagai macam jenis kendaraan yang melewati Jalan Raya Jenggolo Porong tanpa henti keluar.

Pukul 9.15 di halaman taman eks Pasar Porong Lama, massa aksi sudah memulai aksinya dalam rangka peringatan tujuh tahun semburan lumpur Lapindo. Massa aksi yang tergabung dalam Korban Lumpur Menggugat (KLM), Komunitas Ar Rohmah, Sanggar Al Faz, dan Komunitas Jimpitan Sehat membawa berbagai macam atribut. Diantaranya; puluhan spanduk yang berisi tuntutan, replika patung yang menyerupai Aburizal Bakrie, pengeras suara, dan musik perkusi.

“Patung ini merupakan simbol siapa yang harusnya bertanggung jawab dalam kasus Lapindo,” kata Abdul Rokhim, koordinator peringatan tujuh tahun Lumpur Lapindo dalam orasinya.

Kurang lebih pukul 9.22 massa aksi mulai berjalan dari halaman taman eks Pasar Porong Lama menuju tanggul 21 dengan mengenakan atribut yang mereka bawa. Dalam perjalanan, massa aksi hampir memenuhi separuh badan jalan. Beberapa personil polisi nampak ikut mengawal jalannya aksi sembari mengatur lalu lintas yang sedikit terhambat massa aksi. Di tengah perjalanan, terdapat juga massa aksi yang bertugas manaburkan bunga di sepanjang perjalanan.

Aksi ini menjadi perhatian masyarakat yang berada di sepanjang Jalan Raya Jenggolo Porong. Tak ketinggalan, pengendara yang berasal dari arah berlawanan pun ada yang menyempatkan untuk sejenak melihat aksi. Adapula yang mengabadikan menggunakan kamera telepon seluler. Pukul 9.45, massa aksi sampai di tanggul 21.

Sesampainya di tanggul 21, replika patung yang menyerupai Aburizal Bakrie diceburkan ke dalam lumpur dan dilempari lumpur. Selain itu, juga ada pemasangan Monumen Tragedi Lumpur Lapindo. Monumen yang dipasang tersebut bertuliskan “Lumpur Lapindo telah mengubur kampung kami, Lapindo hanya mengobral janji palsu. Negara abai memulihkan kehidupan kami. Suara kami tak pernah padam, agar bangsa ini tidak lupa”.

Sengkarut Tanggung Jawab

Perusahaan Lapindo Brantas dinilai abai dan lalai dari tanggung jawab. Tiga kecamatan yakni, Porong, Tanggulangin, dan Jabon terendam lumpur. Mereka harus mengungsi untuk menghindari lumpur panas Lapindo.

“Sudah tujuh tahun Mas kami mengungsi. Katanya mau ada ganti rugi tapi hanya omong kosong sampai sekarang,” kata salah seorang massa aksi.

Permasalahan muncul lantaran warga yang rumahnya tidak terendam lumpur malah sudah diberi ganti rugi. Sebaliknya, warga yang rumahnya terendam lumpur tak kunjung mendapatkan ganti rugi.

Rukayah (70), salah seorang warga yang siang itu menjaga parkir di pinggir tanggul 21 dekat rel kereta api mengaku bahwa dia sudah diberi uang sebagai ganti rugi. Rumah tempat tinggal Rukayah berada di seberang jalan di luar tanggul lumpur Lapindo. “Yang demo itu yang belum diberi ganti rugi,” ujar Rukayah. Mestinya, mereka (dalam hal ini pihak perusahaan dan pemerintah) bertanggung jawab atas perbuatan yang mereka lakukan. Mereka sudah memutus berbagai aspek dari sendi-sendi kehidupan masyarakat yang terkena dampak lumpur Lapindo.

“Yang hancur itu bukan hanya rumah dan tanah saja, tapi juga kesehatan, ekonomi, dan pendidikan anak kami. Siapa yang mau menggantinya?” kata Harwati, warga Siring Porong Sidoarjo.[p]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *