Kopi Djuang, Kopi Celup Ala Mahasiswa UST

Kelompok PKMK UST yang menghasilkan produk Kopi Celup Djuang.
Kelompok PKMK UST yang menghasilkan produk Kopi Celup Djuang. Foto : Romdlon/PENDAPA

Lima mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknik Industri Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) membuat inovasi minuman gaya baru bagi pecinta kopi, yakni kopi celup. Kelima mahasiswa tersebut adalah Imam Attermizi, Leone Ahmed Marvie, Ricky Ardi Setyaputra, Fira Setyaningsih dan Devi Sulistiarini. Imam Attermizi selaku ketua kelompok mengungkapkan bahwa kopi celup ini merupakan salah satu Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKMK) UST yang didanai oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dikti Kemdikbud).

Leone Ahmed, salah satu anggota kelompok menuturkan bahwa ide kopi celup ini didapatkan setelah melakukan pengamatan produk di pasaran. “Pada umunya kopi mengandung ampas. Padahal tidak semua penikmat kopi menyukai ampas, bahkan ada yang terganggu dengan ampas tersebut. Hal itulah yang membuat kami berinisiatif untuk membuat kopi celup yang kami beri nama Kopi Djuang,” katanya.

Leone Ahmed menambahkan bahwa dipilihnya nama Djuang karena pada kopi celup untuk mendapatkan keharmonisan rasa perlu perjuangan dengan mencelup-celupkan kopi. “Konsep yang kami gunakan adalah modern klasik. Prinsip juang sejatinya masih berlaku hingga saat ini dan untuk mendapatkan keharmonisaan rasa memang perlu perjuangan,” katanya.

Imam Attermizi menjelaskan bahwa Kopi Djuang terbuat dari kopi robusta dan kopi java yang diambil langsung dari Semarang. Untuk proses produksinya, Imam menjelaskan bahwa setelah dibersihkan kopi dicuci kemudian dikeringkan. Setelah kopi tersebut kering kemudian disangrai. Untuk menjaga cita rasa kopi tersebut, proses sangrai kopi menggunakan tungku dan wajan tanah liat.

Setelah disangrai kopi lalu digiling hingga siap untuk dikemas. Setelah siap dikemas, kopi kemudian dimasukkan ke dalam filter paper dengan takaran 7 gram. Tahap selanjutnya yaitu pemasangan benang dan label Djuang. Kemudian kopi dikemas tiap lima filter paper dan kopi celup siap untuk dipasarkan.

Leone Ahmed menambahkan bahwa Kopi Djuang telah diujikan kadar kafeinnya di Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu Universitas Gadjah Mada (LPPT UGM), dan hasilnya kopi ini hanya mengandung kadar kafein sebesar 0,79 %. Selain itu, Kopi Djuang ini juga tidak dicampuri bahan apapun. “Ini yang menjadi kelebihannya karena kopi yang telah beredar di pasaran ada yang dicampuri rempah-rempah yang malah mengurangi cita rasa kopi itu sendiri,” pungkas Leone.[p]