Pukulan Akhir, Menghentikan Kebangkitan Neoliberalisme

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Duta Besar Bolivia untuk PBB, Mr. Pablo Solon Romero (Tengah) saat menyampaikan materi diskusi. Foto : Tao
Duta Besar Bolivia untuk PBB, Mr. Pablo Solon Romero (tengah) saat menyampaikan materi diskusi. Foto : Tao/Pendapa

Selasa (23/4), Aliansi Buruh Yogyakarta (ABY) bekerjasama dengan Gerakan Rakyat Lawan Kolonialisme & Imperialisme (GERAK LAWAN) menyelenggarakan Forum Bersama Pablo Romero dengan ABY. Dengan topik “Pukulan Akhir Bagi WTO”; Saatnya Wujudkan Keadilan Ekonomi, Akhiri WTO dan Gelombang Baru Perjanjian Perdagangan Bebas, forum ini digelar di Kantor DPD K SPSI DIY, Jalan Bintaran Wetan No. 11, Yogyakarta. Diadakannnya acara ini sehubungan dengan kedatangan Duta Besar Bolivia untuk PBB Mr. Pablo Solon Romero ke Yogyakarta dalam rangka pertemuan Internasional Konfrensi Tingkat Mentri ke-9 WTO di Bali pada bulan Desember tahun 2013 ini.

Selain Pablo Solon, forum ini juga dihadiri Kirnadi selaku Sekretaris Jendral ABY, Serikat Mahasiswa Indonesia, perwakilan mahasiswa dan beberapa oraganisasi lain. Pablo Solon yang aktif dalam pergerakan menentang perdagangan bebas memberikan penjelasan tentang sistem dan dampak ekonomi bagi negara berkembang akibat dari perjanjian perdangangan bebas.

World Trade Organization (WTO) atau Organisasi Perdagangan Dunia merupakan satu-satunya badan internasional yang secara khusus mengatur masalah perdagangan antar negara. Sistem perdagangan multilateral WTO diatur melalui suatu persetujuan yang berisi aturan-aturan dasar perdagangan internasional sebagai hasil perundingan yang telah ditandatangani oleh negara-negara anggota. Persetujuan tersebut merupakan kontrak antar negara-anggota yang mengikat pemerintah untuk mematuhinya dalam pelaksanaan kebijakan perdagangannya. Perjuangan melawan perdangangan bebas pernah berhasil di jalanan Hongkong pada KTM WTO tahun 2005 silam.

Dalam pemaparannya, Pablo mengatakan masalah utama dari perjanjian perdangangan bebas adalah perbedaan situasi di setiap negara. “Akan tetapi, persaingannya dianggap rata, sehingga negara yang ekonominya lemah akan kalah. Dampak dari negara lemah akan membayar lebih. Jika ikut, kita akan membayar dengan harga tinggi. Jika tidak ikut, industri nasional tidak terlindungi,” tuturnya.

Secara umum forum ini mengajak berbagai organisasi dan gerakan seluruh dunia untuk bergabung, memberikan pukulan akhir, menghentikan kebangkitan neoliberalisme, serta memajukan gagasan alternatif rakyat.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *