Tangisan Kartini untuk Wanita Indonesia

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Apabila dihitung sejak hari kelahirannya pada tanggal 21 April 1879 hingga sekarang 21 April 2013, maka umurnya kini sudah 134 tahun. Meski sudah berumur ratusan tahun, perubahan jaman tidak mempengaruhi hak yang telah dia perjuangkan dulu. Perjuangan untuk menegakkan keadilan bagi kaum wanita, memerdekakan kaum wanita dari penjajahan, serta membela kaum wanita dalam meraih kedudukan mulia. Begitu banyak yang beliau perjuangkan untuk wanita-wanita Indonesia. Siapakah beliau ini? Tidak lain dan tidak bukan Raden Ajeng (R.A.) Kartini yang kita kenal lewat lagu ‘Ibu Kita Kartini’.

Emansipasi wanita memang terdengar luar biasa. Akan tetapi, dewasa ini emansipasi wanita bukan lagi emansipasi wanita yang dicita-citakan Kartini. Emansipasi wanita adalah menyamaratakan derajat wanita seperti laki-laki, seperti halnya memperoleh hak pendidikan, hak merdeka dan sebagainya. Kartini memperjuangkan hak merdeka kaum wanita agar lebih pandai mendidik anak-anaknya kelak.

Sekarang ini yang terlihat adalah wanita yang hidupnya sibuk untuk memperjuangkan karirnya sehingga tidak ada lagi waktu untuk mendidik anak-anaknya serta mengurus rumah tangganya. Sehingga terkadang wanita tidak lagi menghormati dan menghargai suaminya karena gajinya lebih menjanjikan dibandingkan penghasilan suaminya, kemudian menganggap derajatnya lebih tinggi dari suaminya.

Dengan alasan emansipasi pula wanita menuntut keadilan agar tidak hanya laki-laki saja yang dapat mempunyai pasangan hidup lebih dari satu Mereka pun ingin menegakkan poliandri dengan alasan tidak mau sebagai pelampiasan nafsu laki-laki. Sekarang ini wanita semakin dibodohi dengan masuknya budaya-budaya dari luar yang tidak sesuai budaya bangsanya sendiri.

Ketika diluar sana masih banyak wanita yang putus asa dan rela menjual dirinya demi mendapatkan uang, justru semakin banyak pula wanita yang rela membuang-buang uang untuk mengoperasi bagian dari tubuhnya agar nampak lebih menarik. Apakah seperti itu emansipasi wanita yang dicita-citakan Kartini?

Ironisnya, semua itu adalah realita yang terlihat di jaman sekarang ini. Bukan tidak mungkin Kartini akan menangis apabila mengetahui kaum yang dulu dia perjuangkan agar memperoleh hak merdeka justru dengan sadarnya telah merusak citra kaumnya sendiri. Sadar atau tidak justru mereka sendirilah yang merusak harga dirinya, membuat diri mereka terlihat bodoh dan tertindas.

Padahal tidak mudah Kartini memperjuangkan agar kaum wanita merdeka. Tetapi seiring perubahan jaman, dengan mudahnya kaum wanita menjungkirbalikkan perjuangan tersebut. Siapa yang harus disalahkan dan siapa yang harus bertanggung jawab dengan keadaan ini? Apakah keadaan tersebut masih bisa dikembalikan seperti dulu saat Kartini memperjuangkan kita?

Wanita-wanita Indonesia sekarang ini seharusnya berkaca dan melihat seperti apa moral dan kemerdekaan diri yang telah mereka rusak. Mereka harus dipaksa berpikir bahwa segala sesuatu yang telah mereka miliki itu patut dipertahankan untuk hal yang baik. Menjadi seperti apa yang telah dicita-citakan Kartini. Menjadi wanita yang mampu berjuang untuk merdeka bukan untuk menjatuhkan kemerdekaannya. Menjadi pendidik yang baik bagi penerus kaum wanita di masa yang akan datang. Karena emansipasi bukan berarti harus lebih tinggi derajatnya dari kaum pria, akan tetapi emansipasi adalah bagaimana wanita mampu berjuang bersama dengan kaum pria.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *