Menelisik Kiprah PPKIJ

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Mungkin tak banyak yang mengatakan tahu apabila disodori pertanyaan apa itu PPKIJ. Kiprah dan kontribusinya terhadap bangsa Indonesia mungkin hanya segelintir orang yang tahu. Namun dibalik kurang akrabnya telinga masyarakat dengan namanya, kontribusi PPKIJ terhadap Indonesia tak boleh dipandang sebelah mata.

Pusat Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia-Jepang, atau yang lebih dikenal dengan PPKIJ, merupakan salah satu lembaga yang concern dalam bidang pendidikan dan kebudayaan. Hal itulah yang diungkapkan oleh Drs. Sutikno, Local Leader PPKIJ regional Yogyakarta. Menurut Ki Sutikno yang juga merupakan dosen di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST), peran PPKIJ di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari The Committee for Promotion to Innovate Japan (C.P.I. Japan). Hal yang sama juga diungkapkan Indra Yahdi Putra, Assistant Manager C.P.I. Japan yang berkantor di kawasan Mampang, Jakarta.

Menurut Indra, C.P.I. Japan merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau Non Governmental Organization (NGO) berkedudukan di Jepang yang ingin menyalurkan beasiswa ke Indonesia. “Tetapi ada peraturan yang melarang NGO asing menyalurkan bantuan secara langsung di Indonesia. Nah, PPKIJ ada di tengah-tengahnya,” ungkap Indra.

Ki Sutikno menjelaskan bahwa bentuk bantuannya adalah pemberian beasiswa secara kontinu kepada siswa kelas IX Sekolah Menengah Pertama (SMP) sampai Perguruan Tinggi. “Kita tinjauannya bukan melalui sekolah, tetapi kita mencari yang bapak atau ibunya sudah tidak ada atau yang bapaknya harus menghidupi sejumlah anak,” tutur Ki Sutikno. Ki Sutikno pun menambahkan bahwa posisi C.P.I. Japan di Jepang mencari orang tua asuh. Kemudian dananya disalurkan melalui PPKIJ yang orientasinya pada pendidikan dan kebudayaan.

Mengenai kegiatan, Indra mengungkapkan bahwa di pusat (Jakarta) sepi kegiatan. Kegiatan diserahkan langsung ke cabang PPKIJ, yaitu Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Bogor, Cianjur, Malang, Jember, Bandung serta Balikpapan. “Kita memberi beasiswa, nah yang diberi beasiswa wajib mengikuti kegiatan yang diadakan Local Leader setempat. Seperti di Jakarta ada kursus wajib gamelan,” kata Indra.

Selain itu, lanjut Indra, C.P.I. Japan bersama PPKIJ juga pernah membuat program pemberian keterampilan kepada para janda. Hal ini dilakukan agar bantuan tidak hanya sekedar memberikan uang. Indra pun mengungkapkan bahwa sejak tahun 2008 ada festival dan bazar kebudayaan kedua negara yang diikuti anak asuh C.P.I. Japan. Menurutnya, posisi PPKIJ hanya sebagai partisipan.

Untuk kegiatan di Yogyakarta, kata Ki Sutikno, ada Taman Bina Muda Prestasi yang membina anak-anak tidak mampu menjadi berprestasi. Kemudian ada Taman Bina Wirausaha yang memberikan pembinaaaan kewirausahaan seperti rental mobil, jual pulsa, dan lain sebagainya. Selain itu, ada pula Taman Bina Budaya. “Anak binaan dituntut untuk menguasai tiga bahasa yakni bahasa Jepang, bahasa Inggris, serta bahasa Indonesia. Bila berkembang, ditambah bahasa Prancis dan bahasa Cina. Anak asuh PPKIJ yang kita bina langsung kita dudukkan di perusahaan yang kita bina juga. Itulah cara PPKIJ, memberikan pancing bukan memberi ikan,” kata Ki Sutikno. [p]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *