Aturan Cuti Tanpa Sosialisasi

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Sudah hampir seminggu pelaksanaan pembayaran biaya tetap secara online, kebingungan mahasiswa pun seolah mencair. Tetapi kurangnya sosialisasi sekaligus hilangnya dispensasi dan anggapan cuti jika membayar melewati periode pembayaran yang sudah ditentukan menimbulkan masalah baru. Menanggapi pernyataan tersebut, ketua Majelis Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (MMFKIP), Dulhamin Arif mengungkapkan bahwa pembayaran online tersebut diterapkan agar mahasiswa memiliki kesadaran diri untuk membayar haknya baru menuntut kewajibannya.

Menurut Arif, sisi positif dari pembayaran online tersebut adalah pihak kampus ingin menerapkan sistem yang lebih maju dan lebih baik, yaitu dari manual ke online. Menanggapi ketidaksiapan pihak universitas dengan mengeluarkan informasi pada masa liburan yang membuat bingung mahasiswa. Pengumuman pertama yang menetapkan pembayaran online sempat dibatalkan, namun pembatalan tersebut dibatalkan kembali pada masa pembayaran biaya tetap dimulai. (lihat: Ki Andri : Intinya Sekarang Sudah Online) “Seharusnya diadakan sosialisasi dari awal agar mahasisiwa tahu mengenai pembayaran yang di terapkan oleh kampus,” terang Arif.

Mengenai pemberlakuan masa cuti bagi mahasiswa yang terlambat membayar biaya tetap, Arif menjelaskan bahwa sebenarnya pihak universitas ingin merapikan sistem dan menyadarkan mahasiswa untuk membayar kewajibannya sebelum menuntut haknya. Meski menurutnya pihak universitas seharusnya tidak serta merta mengeluarkan aturan tersebut. “Kalaupun mengenai cuti ini benar benar terjadi saya siap berdiri paling depan untuk mendobrak,” ungkap Arif menanggapi perihal aturan cuti. ”Hanya saja, dari pihak kampus telah selangkah lebih maju curi start mengeluarkan aturan di saat waktu libur, itu yang saya sesali tiba-tiba saja keluar aturan di papan pengumuman, di sinilah letak  kurangnya  sosialisasi dari pihak kampus itu sendiri,” tambahnya.

Sependapat dengan Arif, Wahyu Wibowo, mahasiswa Pendidikan Matematika turut menyatakan kekurangsepakatan dengan aturan cuti. “Kampus kita kampus kebangsaan, kampusnya rakyat ini seharusnya mencerminkan jiwa-jiwa Ki Hadjar Dewantar, dulu saja yang tidak punya uang pun bisa kuliah,” ungkapnya.

Tak hanya Wahyu, Febriana Hikmawati juga kurang setuju dengan penerapan aturan cuti tersebut. “Seharusnya pemberitahuannya jauh-jauh hari sebelumnya,” jelasnya. Tetapi dia setuju dengan pemberlakuan pembayaran online yang kini diberlakukan, menurutnya pembayaran online lebih memudahkan mahasiswa, “tapi masih bingung, karena masih harus nyetor slip kuitansi,” pungkas mahasiswa Pendidikan Fisika itu. [p]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *