Telat Bayar SPP Tetap, Mahasiswa Dianggap Cuti

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Pembayaran biaya SPP tetap dan variabel dengan model baru yaitu sistem Student Payment Centre (SPC) mulai diberlakukan pada semester genap tahun akademik 2012-2013 ini. Dengan sistem ini, mahasiswa memang lebih mudah membayarkan biaya SPP tetap dan variabel secara online di seluruh cabang Bank BNI 46. Akan tetapi sistem tersebut bukan tanpa konsekuensi. Hal inilah yang ditegaskan Wakil Rektor II (Warek II), Andri Waskita Aji, S.E., M.Sc., Ak. saat ditemui Tim Pendapa pada Senin (18/2) di ruang kerjanya.

Menurut Ki Andri, pembayaran online di bank tidak memungkinkan lagi ada dispensasi sehingga mahasiswa harus membayar sesuai waktu yang telah ditentukan. “Kalau sekarang sudah tidak bisa, kalau habis waktunya ya pembayarannya ditutup. Ini konsekuensi yang harus dipahami semua pihak. Kalau kita tidak melangkah seperti ini kapan kita akan maju,” papar Ki Andri.

Lebih lanjut Ki Andri menjelaskan bahwa aturan ini merupakan bagian  dari keinginan universitas untuk berkembang. Hal ini juga harus dipahami mahasiswa karena mahasiswa punya kepentingan untuk perkembangan kampus. “Sekarang ini semua lini mulai berkembang karena pendanaan lancar. Pencitraan kita (UST-red) juga mulai naik,” kata Ki Andri.

Ki Andri pun menyoroti mahasiswa yang sering terlambat membayar dan meminta dispensasi. Menurut Ki Andri, mahasiswa bukannya tidak bisa membayar akan tetapi mahasiswa selalu ingin membayar terlambat. Mahasiswa membayar ketika memasuki semester berikutnya. Ki Andri berasumsi bahwa keadaan tersebut untuk memindahkan pola pikir kemalasan mahasiswa. “Seharusnya kalau dia butuh waktu paling tidak 1 semester untuk mendapatkan uang, maka dia akan menyiapkan pembayaran sejak 6 bulan yang lalu. Yang terjadi adalah, dia baru mencari uang setelah ada pengumuman. Bebannya kan dipindahkan ke lembaga. Kalau ada mahasiswa berprestasi yang tidak mampu kita ada beasiswa bagi mahasiswa baru,” tegas Ki Andri.

Sistem pembayaran online SPC dan konsekuensinya ini mendapat respon beragam dari kalangan mahasiswa. Seperti yang diungkapkan Takdir Sukmo Wijayanti, mahasiswa Pendidikan Matematika semester 8. “Dengan online di bank kita jadi tidak harus ke kampus, jadi lebih praktis. Terkait konsekuensinya yang tidak boleh molor, kalau menurut saya itu bagus, jadi kan kita bisa tertib administrasi,” kata Sukmo.

Sependapat dengan Sukmo, Adzkia Asna Amani, mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris memberikan respon positif atas diberlakukannya sistem SPC. “Pada dasarnya saya setuju dengan sistem pembayaran online itu karena memudahkan mahasiswa di luar daerah dalam pembayaran. Mereka tidak perlu ke kampus untuk membayar karena bisa membayar di daerahnya masing-masing,” kata Adzkia. Akan tetapi, Koordinator Divisi Akademik & Pengembangan Ilmu Pengetahuan Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni (HMJPBS) ini kurang setuju dengan tidak adanya dispensasi. “Seharusnya ada kebijaksanaan lain atau keringanan bagi mahasiswa yg telat bayar,” ungkapnya.

Pernyataan tidak setuju Adzkia itu pun diamini Imron Rosadi, Ketua Majelis Mahasiswa Fakultas Teknik (MMF Teknik). Menurutnya, tetap harus ada perpanjangan waktu bagi mahasiswa yang belum membayar karena pemberlakuan sistem baru ini tidak ada sosialisasi mengenai dihilangkannya dispensasi. “Sebelumnya tidak ada sosialisasi dari pihak Rektorat jika ada kebijakan seperti itu, sehingga saya rasa harus ada dispensasi,” ungkapnya. [p]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *