Biaya Naik, Lembaga Kemahasiswaan FKIP Ambil Sikap

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Menyikapi kenaikan biaya PPL I, himpunan mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) mengadakan pertemuan dengan sejumlah mahasiswa pada Senin (18/2) di ruang 208 Pendidikan Bahasa Inggris. Pertemuan yang direncanakan pada pukul 09.00 WIB dan baru dimulai pukul 10.00 WIB, hanya dihadiri sebagian kecil mahasiswa.

Menurut Dulhamin Arif selaku Ketua Majelis Mahasiswa Fakultas keguruan dan Ilmu Pendidikan (MMFKIP), maksud mengumpulkan teman-teman itu untuk satukan pemikiran dulu. “Setelah kita berdiskusi di sini, kita harus mengambil sikap,” tutur Arif dalam forum.

“Biaya praktikum itu tidak mungkin Rp. 150.000 per sks. Kan PPL I bebannya 2 sks, kalau biayanya Rp.300.000 kan nggak mungkin,” kata Fauzan selaku ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan pendidikan Matematika dan IPA (HMJPMIPA). Senada dengan Fauzan, Sinaryo yang turut dalam forum diskusi itu juga menyatakan keberatannya. “Dari tahun ke tahun biaya PPL I naik. Ini kan masih micro teaching, masih di keles, jadi beban biayanya masih sama dengan sks praktik. Mengenai kenaikan ini, kalau saya ya keberatan.”

Fani Kurnia salah satu mahasiswa yang mengaku pernah menemui Dra. Ag. Sri Purnami, M.Pd. pada Selasa (12/2) lalu mengatakan bahwa menurut Nyi Purnami, PPL I itu adalah pematangan proses berpikir. “Tapi pemantapan cara berpikir itu seperti apa kami belum paham.”

Selain PPL I, biaya Kuliah Kerja Nyata (KKN) juga mengalami kenaikan. “Rp. 500.000,00 itu masih untuk peninjauan dan administrasi saja, belum akomodasi di sana. Ini kan jadi tidak realistis bagi kita. Saya harapkan teman-teman juga ikut memberi masukan pada kami. Kalau pihak birokrasi belum bisa menyampaikan alasan-alasannya, itu kan jadi tanda tanya besar. Dan ini bukan hanya masalah lembaga saja, ini masalah bagi kita semua. Jadi saya harap teman-teman juga aktif,” tambah Fauzan.

“Saya rasa dari semua yang hadir disini sudah sepakat kalau kita keberatan. Sehingga kita bisa langsung tentukan sikap,” kata Ardy Syihabudin mencoba menyimpulkan. Forum diskusi yang berlangsung selama satu setengah jam itu akhirnya memperoleh kesepakatan, yakni menolak kenaikan biaya tanpa adanya kejelasan penggunaan atau fungsi dan mereka menuntut kembalikan pembiayaan sesuai hitungan beban sks.[p]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *