Ki Suhartono: Saya Tidak Melanggar Tamansiswa

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Demo mahasiswa Teknik Industri UST beberapa waktu lalu menyita perhatian berbagai pihak. Para pendemo meminta Kepala Program Studi (Kaprodi) Teknik Industri, Ir. Suhartono. M.T. untuk dikembalikan ke Kopertis. Selasa sore (22/01), reporter Pendapa, Nur Romdlon M.A. dan Seno Dwi Sulistyo berhasil menemui Ki Suhartono di ruang kerjanya untuk meminta klarifikasi dan keterangan tentang kemelut dan berbagai isu yang terjadi di Prodi Teknik Industri. Demikian cuplikan wawancara dengan , Ir. Suhartono. M.T.

 

Bagaimana tanggapan Bapak mengenai aksi mahasiswa yang menuntut Bapak dikembalikan ke Kopertis?

Saya tidak tahu asalnya dari mana, kok timbul seperti itu. Di mana saja, saya bekerja niatannya ibadah, tetapi bagi saya mau dipindah atau bekerja di mana saja tidak masalah. Kejadian itu ada dari mana asalnya dan apa motivasinya saya tidak tahu. Saya masuk di UST tahun 2006, sebelumnya saya di IST Akprind selama 15 tahun. Jadi kalau ada selebaran yang mengatakan bahwa saya buangan dari IST Akprind barangkali anggapan mereka itu benar, tetapi seharusnya dikroscek terlebih dahulu karena ada selebaran-selebaran yang isinya semua bersifat fitnah. Saya bersedia berdialog dengan siapa saja yang ingin menanyakan tentang apa yang diisukan itu. Bahkan saya siap berdialog dengan Majelis Luhur (Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa-red) tentang orang yang berwawasan kebangsaan itu seperti apa.

 

Mengapa Bapak dipindahkan?

Sebenarnya kalau saya berbicara sendiri kurang objektif. Saya memberi referensi ke IST Akprind. Anda langsung tanya ke Rektornya. Silakan kalau mau konfirmasi atau cari info dari Kopertis. Apakah Pak Hartono itu sampah buangan atau bagaimana.

 

Salah satu alasan para pendemo mengatakan Bapak menyalahi ajaran Tamansiswa dan saat kuliah Bapak mengatakan bahwa ajaran Tamansiswa tidak berguna itu bagaimana, Pak?

Tidak benar. Itu adalah suatu pernyataan yang dipelintir. Apabila saya mengatakan jika Anda menjalankan ajaran agama masing-masing dengan baik dan benar itu sudah menjalankan ajaran Ki Hadjar Dewantara, karena saya tahu beliau muslim. Apapun agamanya jika paham dengan agamanya masing-masing, pasti sudah menjalankan ajaran Ki Hadjar Dewantara. Hanya Ki Hadjar Dewantara mengemas dengan metodenya sendiri seperti Tringo (ngerti, ngroso, nglakoni-red).

Saya memang dulunya bukan orang Tamansiswa, tapi ajaran Tamansiswa itu sifatnya adalah baik dan sejalan dengan ajaran agama, bahkan bagi kita sudah merupakan pandangan dan pedoman hidup. Jadi saya tidak menentang ajaran Tamansiswa. Seharusnya persoalan itu diselesaikan secara kekeluargaan. Mengapa tidak ada konfirmasi dengan saya, tahu-tahu ada demo. Semua pemberitaan harus ada klarifikasinya. Saya jengkel nama besar Ki Hadjar Dewantara digunakan sebagai tudung beberapa oknum. Seharusnya ada bukti.

 

Kemudian asal mulanya ada pengajian itu bagaimana?

Pengajian itu dalam rangka memperbaiki perilaku mahasiswa yang tidak jelas. Dosen juga masih bingung. Orang pertama yang saya kenal di sini yakni cucu Ki Hadjar Dewantara, Pak Nanang Rekto. Awal datang ke UST, kondisinya memprihatinkan karena Fakultas Teknik hanya ada beberapa mahasiswa dan banyak program-program yang tidak berjalan. Pada waktu itu hati saya tergelitik. Kemudian saya berpikir, dalam ajaran agama dalam kondisi yang memprihatinkan jika mau kaya harus ada sedekahnya. Ternyata dulu juga pernah ada pengajian, pada zamannya Ki Edi Riyanto, Ki Sumardi, Ki Imam Ghozali, serta Ki Supriyoko. Hingga akhirnya pengajian untuk dosen dilarang dan dihentikan karena katanya melanggar ajaran Tamasiswa, padahal itu dilindungi Pancasila sila pertama. Kegiatan pengajian dulunya juga terinspirasi kegiatan umat Kristiani yang dilaksanakan di Kampus I setiap hari Sabtu atau Minggu.

Kemudian bersama Ki Andri Waskito Aji dan Ki Hazairin Eko berpikir, mengapa UST yang sudah lama mahasiswanya semakin merosot. Bahkan Fakultas Pertanian dan Teknik pernah akan dibubarkan. Bagaimana jika diciptakan Kampus Kebangsaan dengan menghargai  toleransi masing-masing agama, tapi berjalan bersama-sama. Semua agama dibina dan bisa menjalankan agama masing-masing. Hingga akhirnya terbentuk program beasiswa yatim piatu. Beasiswa inilah yang mendasari terbentuknya beasiswa Kerakyatan dan Kebangsaan sekarang ini. Dalam pikiran ingin membangun image, maka mahasiswa yang mendapat beasiswa harus berkualitas sehingga dilakukan pembinaan dan pengawasan yang tercantum dalam Pakta Integritas dan telah disepakati penerima beasiswa. Selain jalur agama dengan pengajian mahasiswa, juga ada pelatihan lain seperti pelatihan Auto Cad, mengelas, dan kegiatan yang menghadirkan pakar psikologi dan pakar ekonomi.

Saya diserahi untuk mencari mahasiswa dengan beasiswa. Saya cari calon mahasiswa yang yatim piatu ke pondok-pondok dan panti asuhan karena tahunya memang itu. Saya tidak punya link di tempat lain selain pondok. Itu pun belum berhasil. Tahun kedua baru berhasil. Ki Andri Waskito Aji dan Ki Hazairin Eko yang membuat perangkatnya dan ditawarkan ke yayasan. Saya yang turun ke lapangan bersama Ki Iskandar Yasin dan Nyi Retno. Mencari yatim piatu yang tidak mampu itu sulit maka yatim saja atau piatu saja. Waktu itu tujuannya untuk menjaga student body, untuk menyelamatkan jurusan karena target satu jurusan harus 30 mahasiswa.

Kegiatan pengajian dilaksanakan satu minggu sekali yang sekarang dilaksanakan hari Jumat pukul 15.00 WIB. Wajib hukumnya bagi yang ikut beasiswa. Jika tidak mengikuti satu atau dua kali tidak masalah, namun ada etikanya yaitu dengan izin. Bagi yang melanggar Pakta Integritas, nanti dapat surat peringatan. Mahasiswa yang mendapat beasiswa juga tidak semuanya Islam.

 

Posisi Bapak dalam pengajian itu sebagai apa?

Saya sebagai dosen biasa, ketua jurusan. Pembinaannya diserahkan kepada dosen masing-masing. Hanya selama ini selalu dipijokkan karena stempelnya pengajian.

 

Akreditasi Teknik Industri sudah habis bulan November 2012. Mengenai akreditasi prosesnya sekarang sudah sampai tahap apa, Pak?

Saya dulunya Wakil Dekan, kemudian ada perubahan struktural dan saya masuk (menjadi Kaprodi-red). Begitu saya masuk, prodi ada perubahan kurikulum, kuliah tamu, kegiatan kejuaraan dan yang terakhir kincir angin juara III. Itu semua ada nilainya di borang akreditasi. Kejuaraan Tingkat nasional nilainya 4, kemudian paten juara nilainya 4. Seminar internasional di Thailand oleh Ki Shodiq nilainya 4. Sebelumnya kita belum punya. Jadi mengapa borang diundur, ada alasan pasti. Karena kepemimpinan sebelumnya tidak ada apa-apa.

 

Berarti memang sengaja diundur?

Sebenarnya tidak sengaja diundur karena sebelum November sudah kita persiapkan untuk diajukan. Borang itu terdiri dari borang program studi, borang fakultas, dan evaluasi diri. Saya berkewajiban membuat borang evaluasi diri dan borang prodi. Sebenarnya sudah bisa terkirim, tapi Rektor memerintahkan konsultan Ki Imam Ghozali. Borang yang sudah jadi dan belum sempurna ini kita konsultasikan ke beliau. Masukannya juga banyak dan bagus untuk peningkatan.

Untuk pengerjaan borang, saya hanya butuh bantuan beberapa orang, karena tidak efektif jika banyak orang. Dalam hal tertentu, pengerjaan juga melibatkan banyak dosen, seperti visi-misi. Pertengahan Januari kira rencanakan dikirim, tapi konsultan meminta untuk dibenahi lagi. Barangkali adanya demo juga karena hal-hal seperti yang saya katakan.

4 tanggapan untuk “Ki Suhartono: Saya Tidak Melanggar Tamansiswa

  • 31 Januari 2013 pada 14:41
    Permalink

    bahasa lisan dan bahasa tulisan jauh berbeda, apalagi bahasa hati…
    btw, jika memang fitnah mengapa tidak dilaporkan saja ke yang berwajib…..

    Balas
    • 22 Februari 2013 pada 08:19
      Permalink

      I just want to mention I am very new to bligogng and site-building and really enjoyed your website. Likely I’m planning to bookmark your site . You surely have perfect writings. Thanks a lot for sharing your website page.

      Balas
  • 31 Januari 2013 pada 15:09
    Permalink

    wiidiiiw …..ngeleeeeess….

    Balas
  • 22 Februari 2013 pada 12:48
    Permalink

    Hello Web Admin, I noticed that your On-Page SEO is is missing a few factors, for one you do not use all three H tags in your post, also I notice that you are not using bold or italics properly in your SEO optimization. On-Page SEO means more now than ever since the new Google update: Panda. No longer are backlinks and simply pinging or sending out a RSS feed the key to getting Google PageRank or Alexa Rankings, You now NEED On-Page SEO. So what is good On-Page SEO?First your keyword must appear in the title.Then it must appear in the URL.You have to optimize your keyword and make sure that it has a nice keyword density of 3-5% in your article with relevant LSI (Latent Semantic Indexing). Then you should spread all H1,H2,H3 tags in your article.Your Keyword should appear in your first paragraph and in the last sentence of the page. You should have relevant usage of Bold and italics of your keyword.There should be one internal link to a page on your blog and you should have one image with an alt tag that has your keyword….wait there’s even more Now what if i told you there was a simple WordPress plugin that does all the On-Page SEO, and automatically for you? That’s right AUTOMATICALLY, just watch this 4minute video for more information at. Seo Plugin

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *