Kincir Angin Mahasiswa Teknik Industri

Pemasangan kincir angin di Pantai Baru, Pandansimo, Bantul | dok. pribadi
Pemasangan kincir angin tim Garda Tamansiswa di Pantai Baru, Pandansimo, Bantul | dok. pribadi

Kesempatan libur akhir tahun biasanya banyak digunakan orang untuk berlibur atau sekadar lepas dari tugas-tugas yang ada. Namun, hal itu tidak berlaku bagi mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST). Eko Junianto, Andy Riyanto, dan Supranoto yang tergabung dalam tim Garda Tamansiswa merayakan akhir tahunnya di Pantai Baru, Pandasimo, Bantul, DIY dengan mengikuti lomba Wind Turbine Design National Competition 2012. Lomba tersebut diselenggarakan oleh pemerintah Kabupaten Bantul bekerjasama dengan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Lomba dimulai sejak 10 November 2012 dengan mengumpulkan proposal dan hasilnya diumumkan satu minggu setelahnya. Lolosnya proposal UST membuat tim Garda Tamansiswa sibuk menyiapkan berbagai peralatan untuk memenangkan lomba. “Pada saat pembuatan proposal ini, tim Garda Tamansiswa sempat melakukan pendalaman materi hingga ke Bandung untuk belajar langsung di PT Dirgantara Indonesia (PT DI) selama lebih kurang tiga hari,” ujar Eko. Beruntung beberapa bulan sebelumnya pihak kampus telah menjalin kerjasama dan menandatangani MoU bersama PT DI.

Sepulang dari Bandung, penggarapan proyek terus dilakukan. Sebagian material merupakan bantuan dari PT DI. Dengan semangat juang yang tinggi, penggarapan terus berlanjut hingga mendatangkan ahli dari PT DI demi mendapatkan hasil yang maksimal.

“Sebenarnya kemungkinan kita (UST –red) untuk menang kecil, dibandingkan dengan kampus-kampus yang lain seperti Institut Tinggi Bandung (ITB) atau UGM. Hal ini disebabkan UST sendiri belum pernah ada yang melakukan penelitian di bidang ini. Berbeda dengan UGM atau ITB yang telah lama berproses dan melakukan penelitian hingga TA (tugas akhir)-nya banyak yang mengangkat tentang baling-baling sehingga tinggal menyerpurnakan dari angkatan sebelumnya,” jelas Eko, mahasiswa semester III ini.

Rabu (26/12) sore pengerjaan kincir angin sudah pada tahap finishing akhir dan dilakukan percobaan namun gagal, bahkan baling-baling rontok. Rasa kecewa pun tak terbendung, padahal perlombaan hanya tinggal hitungan jam saja. Akhirnya, pihak kampus menghubungi PT DI untuk meminta bantuan.

Esok harinya, Kamis (27/12), Ardy dan Supranoto harus bekerja keras untuk membenahi kembali kincir angin dibantu oleh tim ahli PT DI yang baru tiba di Yogyakarta subuh hari. Sementara itu, Eko pergi ke Pantai Baru untuk mengikuti technical meeting.

“Inilah hasilnya, ini kincirnya kita,” tutur Eko sambil menunjukan foto kincir angin hasil buah tangan tim Garda Tamansiswa kepada Pendapa ketika diwawancara.

Eko menceritakan alat yang disediakan di pantai oleh panitia yakni tiang pemancang (tower), tenda, generator, dan data logger. Pencatatan daya yang dihasilkan dilakukan selama tiga hari yang dilanjutkan dengan presentasi pada hari berikutnya. “Jadi, sewaktu menunggu presentasi kita ngopi-ngopi bareng anak-anak ITB dan UGM,” tuturnya.

Perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan tim Garda Tamansiswa pun tak sia-sia. Kincir angin karya mahasiswa UST ini berhasil menempati posisi tiga, sedangakan posisi dua dan satu diraih oleh mahasiswa UNY.

Menurut Eko, kincir angin buatan UST yang berwarna hijau ini menggambarkan ciri khas UST. Kincir angin ini tercatat dapat menghasilkan daya sebesar 63,77 watt tenaga listrik. “Padahal kita hanya memiliki satu buah kincir dengan enam bilah. Namun, menurut pengakuan teman-teman yang ikut mengantar kincir saat lomba waktu itu, kalau kincirnya gak rontok, punya UST-lah yang paling bagus.”