Bulan Bahasa di UST

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Kamis (29/11) Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) mengadakan Seminar Nasional Bulan Bahasa dengan mengusung tema ‘Memupuk Karakter Generasi Muda dengan Bahasa dan Sastra Indonesia’. Acara tersebut bertempat di ruang Dewantara Convention Room, Kampus Pusat UST, Jalan Kusumanegara 157 Yogyakarta. Selain diadakan dalam rangka Dies Natalis ke 57 UST, seminar bulan bahasa juga selalu diadakan rutin setiap tahun oleh mahasiswa-mahasiswi Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) semester V ini.

Peserta seminar berasal dari mahasiswa Prodi PBSI UST, mahasiswa Universitas Sanata Dharma (USD), mahasiswa STMIK Amikom, serta sejumlah guru SMA di Yogyakarta. Selain mahasiswa, ada pula dosen dari UST sendiri.

Seminar Nasional Bulan Bahasa kali ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu Drs Agus Maladi Irianto, MA (Staf Pengajar Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro), Drs Edi Setiyanto, M.Hum (Perwakilan dari Balai Bahasa Provinsi DIY), dan Drs Sudartomo Macaryus, M.Hum (Dosen PBSI FKIP UST). Acara dibuka dengan pembacaan teks Sumpah Pemuda oleh salah satu panitia, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan lagu Tamansiswa

Cecep Supriyadi, ketua panitia seminar, dalam sambutannya menyampaikan harapan bahwa tema yang diusung dalam seminar kali ini dapat bermanfaat serta memotivasi para generasi muda untuk dapat mulai menggemari kebiasaan menulis. “Sehingga tidak menutup kemungkinan penulis-penulis baru datang dari kalangan generasi muda dan semoga kita sebagai generasi muda dapat lebih menghargai karya-karya sastra dari anak bangsa serta dapat ikut serta dalam mengembangkan bahasa Indonesia,” ujarnya.

Peran Bahasa Indonesia Kini

Agus Maladi Irianto, dalam makalahnya yang berjudul ‘Optimalisasi Peran Generasi Muda Antara Kepraktisan Global dan Kearifan Lokal’, memaparkan bahwa teknologi yang semakin berkembang telah mempengaruhi sebagian orang untuk mengikutinya. Sehingga identitas generasi muda menjadi terbelah. Padahal generasi muda seharusnya berperan sebagai agen sosial dan kontrol sosial.

Senada dengan pendapat tersebut, Edi Setiyanto pada makalahnya yang berjudul ‘Memupuk Karakter Generasi Muda dengan Bahasa Indonesia’, menjelaskan bahwa bangsa Indonesia memang telah menjadi bangsa yang mudah untuk bersifat konsumtif. Hal itu lantaran segala perkembangan global selalu diikuti. Namun, menurutnya, tidak ada yang bisa disalahkan. “Disisi lain kita juga harus bangga saat kita menjadi suatu sistem. Karena bahasa memang dapat mempengaruhi kebudayaan dan karakter,” kata Edi.

Pembicara lain, Sudartomo Macaryus mengungkapkan, bahasa mempunyai power sehingga dapat mempengaruhi lingkungan sekitarnya lewat sugesti. Maka, tinggal bagaimana caranya, terutama generasi muda dapat menggunakan bahasa sebagai pembentuk karakter. Pembentuk karakter yang baik, kata Sudartomo, dapat dimulai dengan membangun semangat untuk terus berjuang dan sadar situasi sesudah kemerdekaan terus dibangun dan dikembangkan dengan memanfaatkan saat-saat penting dalam sejarah dan perjalanan bangsa Indonesia.[p]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *