Ada Apa Pemilu Mahasiswa FKIP 2012?

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Kampus Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) tampak biasa. Tak terlihat seperti ada hajatan yang sedang dilangsungkan di Kampus FKIP UST, Rabu (14/11) lalu. Padahal, pada hari itu tengah diadakan Pemilu Mahasiswa, baik di tingkat jurusan maupun tingkat fakultas di FKIP. Suasana khas pesta demokrasi pun tak terlihat, terlebih pelaksanaan kegiatan tersebut berbarengan dengan ujian tengah semester (UTS) di semua program studi. Bahkan, tak sedikit pula mahasiswa yang tidak mengetahui bahwa saat itu tengah berlangsung Pemilu Mahasiswa yang dilaksanakan di Hall FKIP.

Dekan FKIP, Drs. Rusdian Noor Dermawan, M.Hum, saat ditemui menyatakan bahwa Pemilu Mahasiswa diadakan pada hari Rabu di sela-sela waktu ujian. Tetapi, ia mengungkapkan kurang mengetahui calon yang akan maju.

Bursa pencalonan ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) banyak diwarnai calon tunggal. Dari 4 jurusan yang ada, hanya Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (JPMIPA) dan Jurusan Pendidikan Teknik dan Kesejahteraan Keluarga (JPTK) yang mencalonkan 2 pasang kandidat HMJ. Sementara itu, Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dan Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni (JPBS) hanya mencalonkan satu pasang kandidat.

Kursi Ketua Majelis Mahasiswa (MM) FKIP pun demikian, hanya terdapat satu pasang calon. Adanya calon tunggal itu membuat yang bersangkutan langsung ditetapkan menjadi kandidat terpilih tanpa melalui sistem pemilihan. Pemilu pun akhirnya dilaksanakan hanya untuk mahasiswa JPMIPA dan JPTK.

Menurut Ketua Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) FKIP, Syahrudin R. Pratama, dari banyaknya mahasiswa FKIP, hanya ada 150 mahasiswa yang memfungsikan suaranya untuk memilih calon Ketua HMJ PMIPA. “Sementara JPTK, hanya ada 50 mahasiswa yang menggunakan hak suaranya.”

Adanya calon tunggal dan sedikitnya mahasiswa yang menggunakan hak suaranya mengindikasikan kurangnya antusias mahasiswa FKIP. Terkait jumlah kandidat yang didominasi calon tunggal, menurut Rusdian tidak masalah. “Selama hal itu diperbolehkan, KPUM nggak ada masalah. Meskipun, dari sisi demokrasi bisa berindikasi bahwa mahasiswa kurang berminat menjadi anggota MMF. Selain itu, juga kurangnya budaya demokrasi,” ungkap Rusdian. Lebih lanjut Rusdian mengungkapkan, dari pihak Dekan akan melakukan pembinaan kepada mahasiswa tentang pentingnya berorganisasi.

Pelaksanaan pemilu yang berbarengan dengan UTS, menurut Syahrudin terjadi karena miskomunikasi antara Dekanat dengan KPUM FKIP. “Awalnya Dekan menyetujui untuk mengadakan pemilu saat ujian, yaitu menggunakan jam pertama yang dikosongkan untuk pemilu, sedangkan jam-jam berikutnya tetap melasanakan ujian. Namun pada realitasnya, Dekan tetap melaksanakan ujian dari jam pertama,” aku Syahrudin.

Rusdian pun mengakui bahwa kurang adanya koordinasi antara MMFKIP dengan pihak dekanat. “Memang kepengurusan MMFKIP sekarang ini koordinasinya kurang, utamanya terkait Pemilu. Contohnya, Dekan tidak diberitahu tentang persiapannya, juga tidak dikenalkan dengan anggota KPUM dan Panwaslu. Bahkan, seharusnya kalau perlu Dekan dihadirkan saat rapat. Kalau gitu kan enak koordinasinya,” ungkap  Rusdian, yang juga dosen JPBS.

Lebih lanjut, Rusdian mengatakan, ada koordinasi setelah Dekan memanggil Ketua MMFKIP, Jumat (9/11) lalu. Setelah pemanggilan tersebut, Dekan baru mendapat surat pemberitahuan dari KPUM Fakultas tertanggal 13 November 2012 Nomor 021/KPUM/FKIP-UST/XI/2012. “Sebelumnya, belum pernah mendapat pemberitahuan, baik lisan maupun surat. Karena saya proaktif, ya cepat bertindak. Mereka saya panggil,” ungkap Rusdian.

Di lain pihak, Syahrudin menjelaskan informasi dan publikasi dirasa sudah mencukupi meski dalam jangka waktu yang mepet. “Kurangnya mahasiswa yang menggunakan hak suara karena mahasiswa kurang begitu respect, bahkan mereka tak acuh terhadap pemilu,” ungkapnya.

Achmad Azhari, mahasiswa PGSD semester V, mengaku bahwa dirinya mengetahui adanya pemilu dari selebaran yang ditempel di papan pengumuman. “Tetapi saya tidak tahu siapa calon Ketua HMJ dan MMF.”

Hal serupa juga diungkapkan Suparmono, mahasiswa Pendidikan Matematika. Menurutnya, kurang adanya sosialisasi terkait pelaksanaan Pemilu Mahasiswa. “Bahkan saya baru tahu kalau ada pemilihan setelah waktu pemiilihan selesai,” ungkap Suparmono yang mengaku tidak menggunakan hak suaranya.

Menanggapi hal tersebut, Rusdian berpendapat, mepetnya waktu sosialisasi bisa saja terjadi karena keterlambatan dari atas (red: Majelis Mahasiswa Universitas). “Karena atas lambat, akhirnya turun juga lambat, mungkin saja seperti itu. Atau bisa juga dari atas sudah lama, yang bawah yang susah. Nah, itu berarti yang di bawah yang lambat,” jelas Rusdian.

Sementara itu, Ketua KPUM menanggapi berbeda mengenai waktu sosialisasi yang mepet. KPUM, ungkap Syahrudin, sudah bekerja keras (red: untuk sosialisasi) walau dalam tempo yang sangat singkat sekali. Menurutnya, sebelumnya KPUM telah melakukan sosoialisi dari kelas ke kelas dan menempelkan spanduk serta selebaran di papan pengumuman. “Mengenai mahasiswa yang PPL2 dan KKN, KPUM tidak begitu mengharapkan karena mereka sibuk di sekolah-sekolah dan tempat KKN. Namun, yang diutamakan adalah mahasiswa semester I, III dan V,” ungkap Syahrudin.

Syahrudin pun mengharapkan agar ke depannya mahasiswa tidak bersikap tak acuh terhadap kelembagaan kampus. “Ini merupakan wadah untuk menyalurkan uneg-uneg mahasiswa terhadap keganjalan dalam pengambilan keputusan,” ujarnya.[p]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *