Pengemis Mengutuk

Salah satu adegan pementasan Teater Trisula dengan judul “Kutukan Pengemis” di halaman Parkir Fakultas Psikologi UST, Jumat (19/10) malam. | Foto: Ahmad Mustaqim

Alkisah, pada suatu hari ada seorang pengemis yang mengemis di pinggiran jalan. Dia meminta-minta kepada orang yang lewat dihadapannya. Hal itu ia lakukan untuk mendapatkan sesuap nasi. “Saya belum makan lima hari,” ucapnya.

Di saat yang hampir bersamaan, Vero, putri Bapak Imam dan Ibu Pipit, lewat di depan pengemis tersebut. Bukan memberikan uang atau apa, akan tetapi ia malah menendangnya. “Bruukk!” Pengemis itu terjatuh. Vero pun langsung pergi meninggalkan pengemis yang jatuh tergeletak. Karena tidak terima, pengemis itu pun mengutuk Vero menjadi orang gila. “Siapa yang menganiaya saya, ia akanmenjadi gila,” ujar pengemis itu dengan nada kesal.

Sesampainya di rumah, kutukan itu berjalan. Vero menjadi gila. Kegelisahan pun mendera Bapak Imam dan Ibu Pipit. “Bagaimana ini, Pak, anak kita? Kalau dibiarkan saja nggak bakalan sembuh tapi tambah parah,” cetus Ibu Pipit dengan panik. Sementara, Bapak Imam hanya diam tanpa mengucap satu kata pun.

Gina, teman dari pengemis datang menemui keluarga tersebut. Datang dengan maksud baik, dia malah menerima amukan. Namun, setelah menjelaskan maksud kedatangannya, suasana menjadi agak tenang. Gina mengatakan, “Saya mau membantu, tapi harus ada emmm…ongkos jalannya?” Tanpa berfikir panjang, kedua orang tua Vero menyanggupinya.

Cerita terus berlangsung. Gina membantu keluarga tersebut mencari orang pintar untuk menyembuhkan Vero. Tak tangung-tanggung, Gina mencari orang pintar hingga ke mancanegara. Mulai dari Arab Saudi, Afrika, India, dan Malaysia. Silih berganti, Gina mendatangi mereka satu per satu secara langsung. Setelah itu, mereka diajak datang ke Indonesia dengan tujuan menyembuhkan Vero.

Dengan bergantian, orang pintar yang Gina undang, mengobati Vero. Namun, tak satu pun yang berhasil. Singkat cerita, Gina langsung mendatangi pengemis yang ditendang Vero. Pengemis tersebut menjelaskan bahwa Vero akan sembuh jika ia meminta maaf langsung kepadanya. Dengan sigap, Gina mengajak pengemis itu bertemu Vero.

Sesampainya di rumah, tanpa diminta, Vero langsung minta maaf dan penyakit yang ia alami sembuh. “Maafkan salah saya,” kata Vero dengan nada menyesal. Vero pun akhirnya sembuh.

Cerita tersebut merupakan pementasan yang dibawakan Teater Trisula. Teater dari Fakultas Psikologi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) ini berlangsung di Kampus Pusat UST Jalan Kusumanegara 157, Jumat (19/10) malam. Pementasan tersebut mengangkat tema “Kutukan Pengemis”. Rizky Nugroho, asisten sutradara, menjelaskan bahwa pementasan tersebut sebagai kritik sosial atas maraknya paranormal yang hanya sebagai kedok untuk berbohong. Ia juga mengatakan bahwa seluruh pemeran dalam pementasan tersebut merupakan anggota baru.  “Pementasan ini sebagai pementasan latihan untuk pementasan ke depannya,” kata Rizky.[p]