“Dari Militer ke Seni Tradisi”

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Festival Tari Tradisional
Salah satu penampilan tari tradisional yang diselenggarakan Menwa UST, di halaman Kampus I UST Yogyakarta, MInggu (30/9) | Foto: Taofiq Tri Yudhanto

Malam yang biasanya hening, sudah tidak nampak di pelataran Kampus Pusat Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST). Sebuah panggung dengan tiang penyangga berbentuk segi empat memanjang, bak pementasan band, terpajang tepat di depan patung Ki Hadjar Dewantara yang berukuran setengah badan itu.

Sekitar pukul 19.00, acara pun dimulai. Silih-berganti, para penari tradisional menunjukkan kemampuannya di depan para penonton malam itu, Minggu (30/9). Mereka adalah kelompok tari tradisional yang mengikuti Festival Seni Tari Tradisional, yang diselenggarakan Resimen Mahasiswa (Menwa) UST. Tema yang diusung pada festival malam itu adalah “Mengetahui, Memiliki, dan Mencintai Tradisi Tari Sebagai Budaya Negeri”.

Festival Seni Tari Tradisional yang didukung Kesbanglinmas Yogyakarta ini, diikuti 10 kelompok tari. Mereka diantaranya; Kinari Larasati (Sanggar), Wasita (Sanggar), Tudung Pelite (Ikatan Pelajar Mahasiswa Kepulauan Riau-Yogyakarta/IPMKR-Y), Bahana Dance (Bahana Dwipa), Talun Sinyuk Murulai (Kresik Luwai), Bhipa Smuten (SMA N 10 Yogyakarta), Siak Dance Company (IPRY-KS), Hoemanish Dance (UNY), Sanggar Seni Asmadewa (UST), serta kelompok tari dari SMA 1 Kasihan, Bantul, Yogyakarta.

Setelah pementasan selesai, dilanjutkan dengan hiburan yang diisi Komunitas Angklung Malioboro, dan pembacaan hasil penjurian yang dilakukan Sutikno (UST), Raja (Dosen Seni Tari ISI Yogyakarta), dan YB Maridja (Dosen Teater PBSI UST).

Adapun hasil putusan dewan juri menobatkan Siak Dance Company (IPRY-KS) sebagai juara I, Hoemanish Dance (UNY) sebagai juara II, dan Tudung Pelite (IPMKR-Y) peraih juara III.

Sudah semestinya bangsa Indonesia harus cinta terhadap budayanya sendiri (tradisional). “Generasi muda harus lebih mengenal dan mencintai budaya Indonesia. Ketika sudah mencintai, maka budaya Indonesia tidak akan luntur,” kata Ardy, ketua panitia. [p]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *