Berharap Pada Tim Supervisi

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek) menjadi ritual tahunan rutin yang dilakukan perguruan tinggi sebagai upaya mengenalkan segala “piranti” dan bagian kampus terhadap mahasiswa baru. Ospek yang telah seakan menjadi tradisi tersebut, seolah wajib dilaksanakan sebagai upaya menyambut mahasiswa baru.

Menurut Hazairin Eko Prasetyo, Ospek memiliki dua aspek, yaitu orientasi dan pengenalan kampus. Lebih lanjut, Wakil Rektor (Warek) I Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) tersebut mengungkapkan bahwa Ospek yang ideal harus memberikan pengarahan dan pengenalan terhadap kampus. Bagaimana cara belajar di kampus, cara kuliah, praktikum, dan lain sebagainya harus sampaikan saat ospek.

“Termasuk membiasakan menulis karya ilmiah. Sekarang kan ada kewajiban untuk menerbitkan karya ilmiah dijurnal sebagai syarat lulus. Jangan sampai karena mahasiswa tidak tahu, mereka kebingungan ketika akan lulus nanti,” ungkap Hazairin.

Warek III UST, Hadi Pangestu Riharjo, saat ditemui Pendapa Selasa (18/09), berpendapat, seharusnya dikenalkan bagaimana strategi belajar serta berbagai masalah akademik. Selain itu, lanjut Hadi Pangestu, harus ada orientasi dari Ketua Program Studi (Kaprodi) masing-masing. Hadi Pangestu pun mengakui bahwa Ospek kali ini waktu untuk orientasi program studi sangat minim.

Selain itu, menurut Hazairin, apa yang menjadi kewajiban mahasiswa harus disampaikan. “Hal itu diramu, kemudian disampaikan oleh narasumber yang berkompeten,” kata Hazairin.

Sampai saat ini, Ospek masih diidentikkan dengan perploncoan. Setiap mendengar kegiatan Ospek, hal yang terbesit pertama kali adalah berbagai aturan serta atribut yang wajib dikenakan saat Ospek. Hal ini pun nampaknya masih berlaku diberbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Saat disinggung tentang hal tersebut, Hazairin mengaku tidak tau siapa yang memulai hal tersebut. Menurutnya, harus diteliti, dari segi sosiologis hal tersebut apakah termasuk pola yang dibudayakan. “Kalau dikaitkan dengan konsep Ospek yang ideal, hal tersebut tidak nyambung,” kata Hazairin. Lebih lanjut, Hazairin menyampaikan bahwa tidak boleh ada pemaksaan saat OSPEK serta harus ditanamkan sikap demokratis.

Mencoba mengambil sudut pandang yang berbeda, Hadi Pangestu mengungkapkan bahwa meskipun hal itu mengada-ada, tetapi apa salahnya kalau ber-positif thinking. “ Tujuan dari panitia Ospek menyuruh memakai atribut mungkin untuk menerapkan kedisiplinan, serta membangun etos kerja yang pantang menyerah,” ungkap Hadi Pangestu.

Menurut Hazairin, dulunya Ospek sudah bagus, sudah jauh dari perploncoan. Tapi, sekarang kembali lagi keperploncoan. Menurutnya, perploncoan tersebut bisa saja tumbuh dari hal yang sederhana, seperti perkenalan dengan meminta tanda tangan kepada kakak senior ataupun dosen. “Hal tersebut dapat menjadi benih karena bagi peserta Ospek yang tidak melaksanakan akan diberi sanksi,” ujar Hazairin.

Tim Supervisi Dibentuk

Guna mengantisipasi tindak perploncoan, menurut Hazairin, sudah saatnnya panitia sebelum menjadi panitia diberi pelatihan bagaimana mengelola adik kelas. Jangan sampai malah panitia tidak mengetahui arah dan tujuan dari Ospek. Ia pun mengungkapkan bahwa dirinya sudah mengusulkan ke Warek III supaya dibentuk Tim Supervisi yang bertugas untuk mengawasi jalannya Ospek.

Menanggapi hal tersebut, Hadi Pangestu mengungkapkan bahwa untuk tahun ini memang belum bisa dilaksanakan pembekalan mahasiswa yang menjadi panitia Ospek. Hal ini karena pembentukan panitia Ospek lebih dulu terlaksana daripada Tim Supervisi. Akan tetapi kegiatan tersebut bisa diagendakan untuk tahun depan.

Saat ditanya mengenai tim supervisi, Hadi Pangestu menjelaskan bahwa Tim Supervisi mempunyai tugas untuk menjaga kualitas, perilaku, serta kegiatan selama berlangsungnya Ospek. “Tugasnya menjaga agar kegiatan Ospek tidak melenceng serta tidak terlalu sadis. Kalau bisa malah berbasis Tamansiswa.”

Hadi Pangestu menjelaskan, bahwa Tim Supervisi terdiri dari dosen yang diketuai oleh Warek III. Sedangkan, anggotanya dari semua Wakil Dekan tiap fakultas.

Arnold, anggota Steering Committe (SC) Ospek 2012 mengungkapkan bahwa dirinya menyambut baik adanya Tim Supervisi tersebut. “Tanggapan positifnya tidak membutuhkan waktu lama untuk membenahi apa yang belum pas dari Ospek yang dilaksanakan.” [p]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *