FTJ 2012: ‘Pahlawan Kampung’

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Teater Betha
Penampilan Behind Theater (Teater Betha), Jumat (31/8), dalam Festival Teater Jogja (FTJ) 2012 | Foto: Ahmad Mustaqim

Dengan diiringi bunyi hewan jangkrik, layaknya suasana tengah malam Toni Broer tiba-tiba muncul di tengah-tengah penonton. Perlahan, ia membuka jaket warna merah yang ia kenakan dengan kepala seolah dibungkus perban. Setelah melepas jaket dan hanya mengenakan celana berwarna hitam dengan panjang hingga bawah lutut kemudian memakai topeng berwarna putih polos, ia keluar dari kerumunan penonton dan dengan langkah pelan ia berjalan naik ke atas panggung.

Di atas panggung, ia mengolah tubuhnya dengan berbagai macam gerak, termasuk gerak posisi kuda-kuda dengan latar bagian tengah memakai kain putih dengan background dari gambar pemantauan sebuah kota dari udara dalam kondisi perang hingga background planet bumi.

Beberapa saat kemudian, setelah melakukan olah tubuh ia mengambil payung yang sudah berlubang. Iringan bunyi rintik hujan otomatis terdengar. Ia menari kembali dengan seolah sedang terjadi sebuah gerhana.

Kemudian, ia kembali berganti menggunakan sebuah tabung besar. Ia masuk ke dalam dan tabung tersebut berputar. Posisinya sudah berada ditengah (panggung), ia menari kembali di atas tabung tersebut dengan sesekali berada di dalam tabung.

Begitulah pementasan seni olah tubuh yang dibawakan Toni Broer (mahasiswa Pasca Sarjana ISI Yogyakarta) dengan tema “Limitation Body”, Jumat (31/8), lalu.

 

Masalah Sosial (Selalu) Menarik

Acara inti pada Jumat malam tersebut adalah Festival Teater Jogja (FTJ) 2012 dengan pementasan Behind Theater (Teater Betha) dengan naskah “Pak Dhalang”.

Pementasan tersebut menceritakan seputar masalah-masalah sosial yang akrab ditemui di lingkungan sekitar. Masyarakat tersebut terdesak masalah ekonomi yang berujung keinginan untuk bunuh diri, penyakit yang paling ditakuti; HIV dan Aids.

Nyaris, semuanya terbesit keinginan untuk mengakhiri hidup dengan gantung diri. Namun, hal tersebut urung terjadi karena ‘Pak Dhalang’ mencoba menenangkan dan menyadarkan mereka.

“Terlalu banyak masalah yang kita hadapi. Untuk itu, perlu kecerdasan untuk menyelesaikannya,” ujar Pak Dhalang menyadarkan. Sesekali, penonton tertawa dengan polah lucu yang ditampilkan para pemain.

Diakhir acara, diumumkan pemenang FTJ 2012. FTJ 2012 diikuti 5 kelompok teater;   Teater Kandang Jaran Titer (“Goleki Jimate Basiyo”), Teater Rock n Rol (“Move On“), Teater Migrating Troop (“Api yang Takkan Padam”), Teater Kerikil (“Rangin”), dan Behind Theater (Teater Betha).

Pemenang FTJ dibagi menjadi enam kategori. Kategoti tersebut diantaranya; sutradara terbaik dimenangkan Citra Pratiwi (Teater Migrating Troop), aktor terbaik dimenangkan Yuniawan Setiadi dengan peran penjaga gedung dalam naskah ‘Goleki Jimate Basiyo’ (Teater Kandang Jaran Titer), aktris terbaik dimenangkan Harin dengan peran sebagai cucunya Basiyo (Teater Kandang Jaran Titer), artistik terbaik dimenangkan Hakim Indra Perdana (Teater Rock n Rol), penata musik terbaik dimenangkan Daan Gautama (Teater Rock n Rol), dan penyaji terbaik oleh Teater Kandang Jaran Titer dengan naskah ‘Goleki Jimate Basiyo’.

FTJ 2012, panitia mengambil tema ‘Pahlawan Kampung’. Acara diselenggarakan pada 27-31 Agustus 2012. Seluruh acara dilaksanakan di Gedung Societed Taman Budaya Yogyakarta.

Satu tanggapan untuk “FTJ 2012: ‘Pahlawan Kampung’

  • 11 Oktober 2015 pada 11:26
    Permalink

    mungkin sedikit membetulkan meskipun ini postingan lama karena saya baru membukanya. Sedikit koreksi utk penata artistik terbaik a.n HAKIM INDRA PERDANA bukan dari Taeter Rock n Rol melainkan dari BETA. Matur Nuwun.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *