Pers Mahasiswa Perlu Berbenah

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Disadari atau tidak disadari bahwa kondisi Pers Mahasiswa (Persma) saat ini masih lemah. Baik dari manajemen organisasi sampai lemah dalam hal administrasi dan dokumentasi. Hal itu terbukti sulitnya mencari data dan arsip dan dilakukan tim penulis Buku Putih PPMI. “Persma memang lemah dalam hal dokumentasi. Untuk perlu diperbaiki manajemen organisasi Persma itu sendiri,” ujar Moh. Fathoni, salah satu penulis Buku Putih PPMI yang juga sebagai salah satu pembicara pada acara Bedah Buku Putih PPMI, Senin (30/7) lalu.

Acara yang dilaksanakan Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Dewan Kota Yogyakarta bekerjasama dengan Biro TEMPO Yogyakarta ini bertempat di Gedung Student Center, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Selain Moh. Fathoni, hadir juga sebagai pembicara Tri Suparyanto, salah satu pendiri PPMI, dan Richi Ricardus P. Anyan, Dewan Etik Nasional (DEN) PPMI 2012-2014.

“Kenapa nggak ada dokumen? Karena belum ada fasilitas engkap seperti sekarang. Selain itu, ada ketakutan ketika orang tersebut membawa data tersebut,” ujar Tri Suparyanto.

Selain itu, Tri Suparyanto menjelaskan bahwa Persma membutuhkan wadah untuk berkumpul. Oleh karena itu, PPMI dibentuk dan didirikan.

Dalam hal pencarian data, untuk melangkapi penulisan buku tersebut, Richi mengatakan bahwa tim penulis saat itu seperti ‘siluman’. Pasalnya, keberadaannya pada saat mencari data tidak diketahui oleh banyak orang. Terlepas dari itu, Rici mengingatkan agar seluruh Persma tetap mengingat, menjaga, dan menjalankan ideologi Persma itu sendiri. “Berita yang kawan-kawan tulis itu sangat penting untuk diberitakan dan perlu diketahui oleh khalayak.”

Buku Putih, Langkah Awal

Ditengah diskusi, Sunudaryanto, salah satu wartawan TEMPO yang hadir mengatakan bahwa ia memang belum membaca Buku Putih PPMI, namun ia mendengar info bahwa dalam buku tersebut tidak disertakan perihal mengapa Balairung UGM keluar dari PPMI. Ia menilai, jika memang tidak disertakan berarti buku Putih PPMI cacat. “Apakah benar sejarah tersebut tidak dicatatkan dalam buku Putih PPMI?” tanyanya.

“Seingatku, saya menyertakan perihal permasalahan yang menyangkut Balairung UGM. Namun, untuk editing terakhir sebelum cetak saya nggak tahu, karena saya belum membaca bukunya yang sekarang,” jawab Moh. Fathoni.

Edi Susilo, salah satu tim penulis Buku Putih PPMI yang hadir dalam diskusi tersebut menanggapi bahwasannya ia ikut langsung membawa data buku putih sebelum ditulis. “Saya ikut membawa data-data tulisan dari pemimpin redaksi Balairung, perihal mengapa mereka (red: balairung) keluar dari PPMI dan kritikan buat PPMI,” tukas Edi.

Dengan terbitnya Buku Putih PPMI, Tri Suparyanto berharap Persma tidak terjebak dalam romantisme. Ini merupakan langkah awal berkontribusi ditengah kondisi pers yang dipegang industry pemilik modal.

Edi Susilo juga berharap agar Persma tetap menjalankan peran dan fungsinya sebagai media alternatif.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *