Sri Edi: Jangan Menjadi Jongos Globalisasi

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Semnas Ekonomi Kerakyatan
Pemateri Seminar dengan tema “Ekonomi Rakyat Bagian Dari Kultur Indonesia” (kiri ke kanan) Edy Suandi Hamid, Sri Edi Swasono, Sahedhy Noor SK, dan Sudartomo Macaryus sebagai moderator. Foto: Hironimus PJ/PENDAPA.

Indonesia kembali terjajah bangsa asing di semua lini kehidupan, termasuk di bidang perekonomian yang membuat Indonesia tak beranjak dari istilah negara kaya tetapi miskin rakyatnya. “Ini adalah masa besar sedang tiba, akan ada manusia besar yang akan mewujudkan kemajuan bangsa,” ungkap Sri Edi Swasono selaku Ketua Umum Majelis Luhur Tamansiswa mengawali sambutannya dalam Seminar Nasional “Ekonomi Rakyat Bagian Dari Kultur Indonesia”.

Seminar dalam rangka peringan 90 tahun Tamansiswa tersebut berlangsung di gedung Pasca Sarjana Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Jalan Kusumanegara No. 157 Yogyakarta, Selasa (3/7) lalu. Selain Sri Edi Swasono, seminar ini juga dihadiri oleh Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Edy Suandi Hamid, Rektor UST Pardimin, Dekan Fakultas Ekonomi UST Sahedhy Noor SK, sesepuh Tamansiswa Ki Toni Agus Ardi, tamu undangan dan segenap civitas akademika UST.

Menanggapi perekonomian Indonesia di era globalisasi, dalam seminar ini Edy Suandi menjelaskan tentang ekonomi kerakyatan. Menurutnya, ekonomi kerakyatan adalah bagian dari  budaya Indonesia yang seharusnya dilaksanakan di Indonesia. “Istilah ekonomi kerakyatan sekarang berganti menjadi Ekonomi Pancasila. Ekonomi kerakyatan adalah subsistem dari Ekonomi Pancasila,” jelas Edy.

Lebih jauh, Edy memaparkan bahwa saat ini ada 91 Undang-undang Perekonomian Indonesia yang bertentangan dengan Pancasila sehingga perlu diubah agar sesuai dengan kondisi Indonesia dalam upaya mewujudkan kesejahteraan dan keadilan. Dalam kesempatan ini pula, Sri Edi memaparkan ekonomi rakyat dalam konteks institusi dan menyoroti peran pemerintah dalam menanggulagi permasalahan perekonomian yang seakan terdikte oleh sistem perekonomian negara lain.

“Sistem ekonomi yang dianut Indonesia saat ini adalah sistem ekonomi kapital seperti yang diajarkan bangsa barat. Sistem ekonomi kapitalis adalah sistem ekonomi yang mengedepankan persaingan tanpa mementingkan kebersamaan. Permasalahan perekonomian dalam negeri perlu diselesaikan dengan sistem ekonomi dari negeri sendiri,” papar Sri Edi.

Secara ekonomi, ujar Sri Edi Indonesia terjajah seperti halnya pasar modal. Pasar modal Indonesia saat ini sudah dikuasai pemodal asing mulai dari makanan hingga profider seluler. Semakin banyak menggunakan dan mengonsumsi produk negara asing, negara asing pun semakin untung. Untuk mengatasi hal ini, menurut Sri Edi pola pikir harus diubah, meningkatkan kapasitas dan meningkatkan kualitas tidak untuk daya saing tetapi kebersamaan.

Menurut Sri Edi, usaha pengembangan perekonomian dapat dilakukan melalui koperasi, menggunakan produk dalam negeri, memperketat barang impor yang masuk ke dalam negeri, dan menjadikan produk dalam negeri sebagai tuan di negeri sendiri. Di akhir seminar Sri Edi berpesan jangan menjadi manusia yang kurang akal.

“Orang Tamansiswa harus mandiri, untuk itu jangan menjadi jongos Globalisasi,” pungkasnya.

Indonesia adalah bangsa yang besar, memiliki keanekanekaragaman budaya, kuliner maupun sumber daya alam yang melimpah. Berbekal modal seperti itu banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengembangkan perekonomian dalam negeri sendiri. Hal tersebut sejalan dengan yang disampaikan Sahedhy Noor SK, bahwa di antara nilai-nilai budaya yang menjadi kekayaan Indonesia yang relevan dapat dikembangkan dalam perekonomian seperti gotong royong dan  istilah aja arep jamure emoh watange (jangan ingin mendapatkan penghasilan apabila tidak mau berusaha).

“Indonesia adalah negara maritim dengan 70% wilayah Indonesia adalah laut, tetapi perekonomian Indonesia masih terpusat di darat saja, sehingga ekonomi bahari perlu dikembangkan,”ujar Sahedhy.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *