Berharap Masyarakat Peduli Terhadap Bahasanya

Save pagePDF pageEmail pagePrint page

Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni (HMJ PBS) Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) mengadakan seminar bahasa dan seni, Rabu (27/6). Seminar dengan tema ‘Menatap Eksistensi Bahasa, Kesenian, dan Kebudayaan Lokal di Tengah Pengaruh Kebudayaan Modern’ ini berlangsung di ruang 101-104 FKIP UST.

Ketua HMJ PBS Carolus B. Liliek mengatakan bahwa seminar bahasa dan seni ini merupakan program kerja HMJ PBS. “Tujuan diangkatnya tema tersebut untuk menumbuhkan kembali rasa cinta akan bahasa, seni, dan budaya Indonesia yang mulai terancam oleh lunturnya peran dari generasi muda dan ancaman klaim dari bangsa lain,” tutur mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) ini.

Seminar ini menghadirkan tiga narasumber, yakni dari Balai Bahasa Yogyakarta Tirto Suwondo, Praktisi Seni Kontemporer M. Rusnoto Susanto, serta Budayawan dan Dosen UNY  Hajar Pamdhi, Selain itu, sejumlah dosen PBSI, mahasiswa UST, dan beberapa tamu undangan dari PBSI UNY dan PSR UNY pun turut menghadiri seminar. Dalam seminar ini juga ditampilkan pentas seni dari mahasiswa yakni sinden lagu Jawa yang berjudul Ghetuk oleh mahasiswi PBI semester IV, kemudian tari adat Yapong dari Betawi oleh mahasiswi PBSI semester IV.

Dalam sambutannya, Dekan FKIP Rusdian Noor D., mengatakan budaya Indonesia mulai terancam keberadaannya, terbukti banyaknya budaya yang diklaim oleh bangsa lain. “Semoga dengan adanya seminar ini kita dapat menyadari serta lebih menghargai dan menjaga budaya kita,” harapnya.

Tirto Suwondo menilai bahwa bahasa di Indonesia masih sering kali didominasi oleh bahasa asing, seperti bahasa Inggris. Pasalnya, bahasa tersebut dianggap penting, dan bahasa-bahasa yang bahkan kita tidak tahu dari mana datangnya.

“Seperti bahasa prokem, alay, lebay dan entah bahasa apa lagi. Dapat kita amati bahasa-bahasa tersebut lah yang sekarang mulai eksis. Walaupun memang benar bahasa asing, terutama Inggris, memang diakui sebagai sarana utama pengembangan ilmu dan teknologi,” papar Tirto.

Akan tetapi, ujar Tirto, yang benar sekaligus tepat adalah bahasa asing memang diperlukan dalam rangka pergaulan antarbangsa dan budaya. Disamping itu, bahasa Indonesia juga sangat diperlukan dalam upaya pemertahanan identitas, jati diri, dan budaya bangsa Indonesia. Sebab, dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia merupakan wujud eksistensi bangsa yang menjadi simbol kedaulatan dan kehormatan Negara.

Semoga masyarakat Indonesia tetap peduli terhadap bahasanya!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *