Omahku di Wenehi Banyu

Waduk Sermo di sore hari (3/6). Dahulu menurut warga sekitar terdapat Dusun Sermo Tengah di dasar waduk yang saat ini terbenam air. Foto: Wahyu Z/PENDAPA

Waduk yang diresmikan pada tanggal 20 November 1996 oleh Presiden Soeharto ini diberi nama Waduk Sermo. Berlokasi di daerah perbukitan Menoreh tepatnya di Dusun Sermo, Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap, Kulonprogo ini menyimpan kenangan tersendiri bagi penduduk setempat. Sermo Tengah, sebuah nama dari Dusun yang kini tergenang air. Mungkin hanya beberapa orang saja yang mengetahui dimana penduduk Sermo Tengah berada sekarang.

Sore itu (3/6), Mbah Darto (93) tampak duduk di pelataran rumah anaknya yang berdinding kayu dan anyaman bambu di Dusun Sermo. Tatapan wanita tua itu mengarah kepada Dusun Sermo Tengah yang dulu menjadi tempat tinggalnya. “omahku jaman sakmana ana nangkana, entes wae rampung tak pondasi. Terus ana uwong teka menyang dusun jarene kongkonane Soeharto arep nuku omah-omah ameh gawe waduk, kabeh uwong mboten wanton nolak mas, sakbare iku kabeh omah di ancurna terus di wenehi banyu,” kata Darto dalam bahasa jawa. (red: Rumahku dulu disana, baru saja selesai di tembok, lalu ada orang datang ke Dusun yang katanya suruhane Soeharto untuk membeli rumah-rumah mau dijadikan waduk, semua orang dusun tidak berani menolak mas, setelah itu semua rumah dihancurkan terus dialiri air).

Pringgo (47), anak dari Darto ikut menceritakan mengenai kisah ibunya sewaktu rumahnya dibeli oleh pemerintah pada tahun 1990. “Rumah kami dibeli oleh pemerintah dengan harga untuk ladang Rp 1.500 sedangkan untuk rumah dan pekarangan harga tanahnya Rp 2.500. pada masa itu harga beras Rp 650/kg,” ceritanya.

Padahal, lanjutnya, tinggal di Sermo Tengah waktu dahulu lahannya subur sekali. Ditanami apa saja bisa tumbuh. Mulai dari kacang tanah, jagung sampai padi bisa hidup disana. “Sekarang kami kesusahan mencari uang, lahan yang tersisa tinggal lereng-lereng bukit.” tambah Pringgo sambil menatap bukit yang mengelilingi Waduk Sermo.

Itulah sepenggal kisah terlontar dari penduduk yang dahulu bermukim di Sermo Tengah. Sebuah Dusun yang tenggelam menjadi dasar dari Waduk Sermo. Dusun yang pernah menjadi tempat Darto dan Pringgo juga penduduk Sermo Tengah lainnya membangun kenangan.